Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Keuangan Amerika Serikat Janet Yellen melihat risiko perekonomian negeranya untuk masuk ke dalam resesi semakin berkurang. Perlambatan belanja konsumen mungkin merupakan harga yang harus dibayar untuk menahan inflasi.
Yellen mengatakan tetap ada risiko terkait dengan potensi resesi, karena Bank Sentral AS, The Fed, masih akan terus menaikkan tingkat suku bunga Fed Fund Rate bahkan hingga dua kali lagi pada tahun ini.
“Pernyataan Yellen ini kontras dengan situasi dan kondisi yang ada. Sebab, data ekonomi seperti PMI Manufacturing, PMI Services, dan PMI Composite di negara seperti Amerika, Eropa, Tiongkok, hingga Jepang, sedang mengalami penurunan,” kata Associate Director of Research and Investment Maximilianus Nico Demus, Selasa (27/6).
Hal ini membuktikan perlambatan ekonomi semakin nyata. Pemulihan ekonomi Tiongkok yang tidak berjalan dengan sebagaimana mestinya telah memberikan tekanan kepada Indonesia sebagai mitra dagang terbesar.
Baca juga: Isu Gagal Bayar AS, Indonesia Perlu Siapkan Antisipasi Dampak Resesi
Potensi kenaikan tingkat suku bunga telah membuat banyak pelaku pasar dan investor memilih obligasi untuk sementara, sebagai tempat yang lebih aman untuk menaruh investasinya, alhasil saham masih tertekan karena banyak pelaku pasar dan investor mengurangi investasi di asset berisiko.
Hal ini membuat harga obligasi terus menguat dan imbal hasilnya turun. Harus diakui, di tengah situasi dan kondisi saat ini, perekonomian Amerika terlihat lebih tangguh.
Laporan ketenagakerjaan pada bulan lalu juga mengalahkan proyeksi yang ada, begitu juga dengan penjualan ritel yang masih bertahan dalam menghadapi tekanan kenaikan tingkat suku bunga.
Yellen mengatakan perlu untuk melihat beberapa perlambatan dalam pengeluaran konsumsi untuk mengendalikan inflasi, karena inflasi inti juga dapat dikatakan relatif tinggi, meski inflasi secara keseluruhan melandai.
Inflasi inti AS masih berada di 5,3% pada data ekonomi Mei kemarin, meski inflasi secara keseluruhan berada di 4%, turun dari 9,1%, level tertingginya sejak Juni 2022.
Baca juga: Jokowi: 20 Negara di Eropa Masuk Jurang Resesi
Inflasi sejauh ini turun banyak dan masih akan turun, meski dengan kecepatan yang lambat. Yellen mengatakan bukan saat yang tepat untuk berdebat menaikkan proyeksi inflasi dari 2% selama masa pertumbuhan dan investasi masih lemah, di tengah para pembuat kebijakan sedang berjuang untuk melawan lonjakan harga.
Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell sempat menolak untuk mengubah target inflasi dari yang The Fed inginkan. Bagi The Fed, 2% merupakan level terbaik, setidaknya untuk saat ini.
Yellen sedikit mengkomentari tentang Tiongkok yang saat ini sedang berusaha untuk mencapai posisi yang lebih stabil di tengah situasi dan kondisi perlambatan ekonomi Tiongkok.
Yellen mengatakan saat ini Tiongkok memiliki tantangan dalam bidang ekonomi, dan masalah jangka pendek hingga menengah. Terlebih, tatkala ketenagakerjaan masih rendah dan konsumsi belum pulih sepenuhnya.
Oleh karena itu, Yellen berencana untuk mengunjungi Tiongkok pada awal bulan Juli untuk kunjungan tingkat tinggi pertamanya. (Z-6)
Wamenlu Iran Majid Takht-Ravanchi memperingatkan bahwa negara mana pun yang mendukung agresi Amerika Serikat (AS) terhadap Iran akan dianggap sebagai target sah bagi serangan balasan.
Serangan drone kembali mengguncang Irak pada Jumat (6/3) waktu setempat. Sejumlah bandara dan fasilitas minyak menjadi sasaran.
Amerika Serikat (AS) dinilai belum memiliki sistem pertahanan yang memadai untuk menghadapi drone Shahed milik Iran.
Indonesia akan menjadi salah satu tuan rumah turnamen mini FIFA Series 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 27-30 Maret di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.
Simak kronologi lengkap serangan rudal IRGC terhadap tanker AS dan penutupan total Selat Hormuz yang memicu krisis energi global 2026.
Ketegangan di Selat Hormuz memuncak setelah IRGC menyerang tanker minyak AS. Jalur energi global terancam lumpuh, harga minyak dunia diprediksi meroket.
CHIEF Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menilai risiko Indonesia mengalami resesi dalam waktu dekat amat kecil karena ditopang oleh kekuatan domestik.
KEPALA Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufiqurrahman menilai pemerintah gagal mengoptimalkan ruang fiskal di tengah perlambatan ekonomi dan meningkatkan risiko resesi.
Indonesia dihantui resesi karena pertumbuhan ekonomi yang mengkhawatirkan. Pada triwulan pertama 2025, pertumbuhan ekonomi nasional hanya 4,87%, terendah sejak triwulan ketiga 2021.
Pengamat meminta pemerintah untuk segera mengambil langkah antisipatif untuk mencegah resesi, mengingat perkembangan secara triwulanan (q to q) juga tercatat minus 0,98%.
Resesi, Resesi ekonomi: Pelajari penyebab, dampak, dan cara menghadapinya. Panduan lengkap untuk memahami dinamika ekonomi yang penting.
KEBIJAKAN tarif resiprokal yang dikeluarkan Amerika Serikat untuk sejumlah negara, termasuk Indonesia, mendorong gejolak perekonomian.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved