Selasa 24 Januari 2023, 12:05 WIB

BRI Petakan Strategi Respons untuk Bertahan dan Tumbuh

M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
BRI Petakan Strategi Respons untuk Bertahan dan Tumbuh

Ist/BRI
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Sunarso.

 

PERBANKAN harus tetap mampu bertahan dan tumbuh di tengah situasi yang tak menentu. Karenanya pemetaan terhadap berbagai kemungkinan di lingkungan perekonomian secara makro menjadi penting.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Sunarso mengungkapkan, pemetaan itu penting agar perbankan memiliki strategi jitu untuk bisa bertahan. Hal itu ia ungkapkan di dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XI DPR, Selasa (24/1).

Dari hasil kajian yang dilakukan perusahaan, kata Sunarso, ada empat strategi respons yang mesti dilakukan perbankan di situasi dan kondisi tertentu.

Situasi dan kondisi pertama ialah ekonomi pulih, inflasi naik dan kualitas pinjaman memburuk. Sunarso mengatakan, di skenario ini perbankan dapat melalukan empat hal, yaitu, melakukan pemantauan kualitas pinjaman kredit secara intensif.

Kemudian bank harus bisa mempertahankan coverage ratio di level yang tinggi dengan memperkuat dana cadangan. Bank juga dirasa tetap perlu untuk tumbuh secara selektif dengan meningkatkan model risiko kredit dan mengatur loan portofolio guideline (LPG) menjadi moderat.

Baca juga: BRI Catat Realisasi Pemesanan SR017 Capai Rp1,01 Triliun

"Lalu dalam situasi seperti itu kita harus bisa mengoptimalkan write-offs untuk recovery rate yang lebih tinggi," kata Sunarso.

Skenario kedua yaitu ekonomi pulih, inflasi terkendali, kualitas pinjaman membaik. Ini merupakan situasi dan kondisi yang paling diidamkan. Dalam keadaan itu, bank mestinya menerapkan strategi gas pol dalam menjalankan bisnisnya.

Itu dapat dilakukan melalui pengenduran LPG guna menjadi pedoman sebagai strategi pertumbuhan. Kemudian diikuti dengan penurunan coverage ratio dengan meningkatkan risk-based pricing model untuk meningkatkan daya saing produk.

"Jadi pricing kita kaitkan dengan tingkat risiko dan untuk meningkatkan daya saing produk kita. Lalu optimalisasi write-offs tetap dilakukan untuk coverage ratio yang lebih tinggi," jelas Sunarso.

Skenario ketiga, yaitu ekonomi stagnan, inflasi naik, dan kualitas kredit memburuk. Dalam keadaan ini, bank tetap harus tumbuh namun secara terbatas. LPG juga harus diketatkan, diikuti dengan mempertahankan posisi dana cadangan di level yang tinggi.

Dalam kondisi dan situasi itu, bank juga didorong untuk membuat simulasi dan stress test secara berkesinambungan.

"Sehingga mungkin seminggu sekali, sebulan sekali harus kita lakukan stress test itu, kalau ada kondisi yang memburuk, kita sudah tahu antisipasinya seperti apa," kata Sunarso.

Skenario keempat ialah ekonomi stagnan, inflasi terkendali, dan kualitas pinjaman membaik. Dalam keadaan ini, bank harus berani untuk tetap bertumbuh secara selektif.

LPG diatur secara moderat dan tetap mempertahankan coverage ratio guna antisipasi bila ada pemburukan. Itu juga diikuti dengan pemantauan kualitas pinjaman dan stress test secara berkelanjutan. (Mir/OL-09)

Baca Juga

Dok GNA Group

GNA Rilis Perumahan Bernuansa Modern Art Deco

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 01 Februari 2023, 22:20 WIB
Pasar rumah tapak diprediksi masih akan terus tumbuh dan paling diminati tahun...
Antara

Salurkan 172.000 Ton Beras, Bulog Klaim Berhasil Redam Kenaikan Harga

👤 Refa Walukow 🕔Rabu 01 Februari 2023, 21:55 WIB
Bulog sudah menggelontorkan 172.000 ton beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sejak awal Januari hingga 30...
Ist

Premier Lake Residence Hunian Berkualitas Idaman Generasi Milenial 

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 01 Februari 2023, 21:33 WIB
Premier Lake Residence, sebuah hunian tropis modern berkualitas tinggi, dengan fasilitas lengkap didukung oleh konsep healthy...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya