Kamis 05 Januari 2023, 13:16 WIB

Faisal Basri : Pertumbuhan Investasi di Indonesia Tidak Berkualitas, Ini Indikasinya

Despian Nurhidayat | Ekonomi
Faisal Basri : Pertumbuhan Investasi di Indonesia Tidak Berkualitas, Ini Indikasinya

MI/Dwi Apriani
Proyek pembangunan Tol Indralaya - Prabumulih, Sumsel. Pemerintan gencar membangun jalan tol/fisik dibanding riset dan teknologi

 

EKONOM Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri mengatakan bahwa investasi di Indonesia masih didominasi dari sisi fisik, sementara dari sisi riset, teknologi dan informasi sama sekali belum baik. Hal ini menyebabkan pertumbuhan investasi di Indonesia tidak berkualitas.

"Pertumbuhan ekonomi kan didukung oleh investasi, tapi lebih dari 80% investasi ini hanya bersifat fisik. Jadi yang dibangun hanya wujudnya saja tapi soal teknologi dan informasi hanya 1% dan sisanya transportasi," ungkapnya dalam acara Catatan Awal Tahun 2023 dari Ekonom Senior Indef secara virtual, Kamis (5/1).

"Jadi sungguh ini menunjukkan bahwa pertumbuhannya tidak berkualitas karena investasi ini hanya soal membangun ibu kota baru, LRT, kereta cepat, dan lainnya. Ini harus diiringi dengan teknologi, informasi dan riset. Riset di Indonesia sangat lemah dan akan berakibat kepada kemampuan inovasi kita yang jelek dan tidak bisa bersaing," sambung Faisal.

Lebih lanjut, dia menambahkan bahwa hampir 3/4 dari pertumbuhan ekonomi di Indonesia disumbangkan oleh modal fisik. Sementara sumbangan pengembangan riset, teknologi dan informasi masih minus.

"Negara-negara yang riset, teknologi dan informasinya minus itu Laos, Kamboja, Myanmar, Vietnam, Butan, Banglades, Fiji, dan Brunei. Jadi Indonesia dan beberapa negara ini saja yang lemah di sektor ini," tuturnya.

Selain itu, Faisal juga menegaskan bahwa fondasi ekonomi Indonesia masih lemah baik dari sisi industri maupun ekspor. Dari sisi industri, Indonesia dikatakan masih bergantung pada segelintir subsektor industri saja.

"Misalnya makanan dan minuman itu kontribusinya hampir 40% ditambah industri kimia, farmasi dan herbal menyumbang 50% dari total industri manufaktur non migas," ujar Faisal.

Dari sisi ekspor juga dikatakan hanya melonjak dari segelintir komoditasnya saja yaitu batu bara, CPO, besi dan baja yang menyumbang sekitar 42,5% dari total ekspor Indonesia. (OL-13)

Baca Juga: Ini Alasan Garuda Gugat Balik Perusahaan Lessor Greylag

Baca Juga

Dok. DPR RI

Komisi VI DPR Apresiasi PTPN Mampu Cetak Net Profit Hingga Ro5,5 Triliun

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 05 Februari 2023, 09:00 WIB
Politisi Fraksi Partai Gerindra ini juga berharap agar PTPN VIII bisa lebih dikembangkan lagi dalam sektor pariwisata. Juga diharapkan...
Antara/Akbar Nugroho Gumay

Industri Keuangan Hadapi Tahun Suram, Suport OJK Kembali Diharapkan

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 05 Februari 2023, 08:35 WIB
Kebijakan inovatif dari OJK yang bersifat counter cyclical sangat diharapkan....
Dok. DPR RI

Legislator Usul Program Transformatif PT Pos Indonesia

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 05 Februari 2023, 08:05 WIB
Politisi Fraksi PAN ini menjelaskan, konsep central titipan ini juga akan sangat berguna terutama dikota-kota yang padat aktivitas...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya