Minggu 04 Desember 2022, 11:22 WIB

Hanjeli Alternatif Produk Pangan, Obat, Pakan yang belum Diminati

Mediaindonesia.com | Ekonomi
Hanjeli Alternatif Produk Pangan, Obat, Pakan yang belum Diminati

Antara/M Ibnu Chazar.
Perajin menyelesaikan pembuatan kerajinan gelang hanjeli berbahan biji tanaman hanjeli (Coix lacryma-jobi L.) di Kelurahan Plawad, Karawang.

 

KOMODITAS hanjeli mengandung banyak manfaat, baik sebagai produk pangan dan obat alternatif maupun produk pakan. Kandungan protein dalam hanjeli lebih tinggi dibandingkan beras dan jagung. Meski begitu, tak serta merta hanjeli diminati baik oleh petani sebagai produsen maupun masyarakat Indonesia sebagai komsumen.

Retno Sri Endah Lestari, Ketua Umum Ikatan Sarjana Wanita Indonesia (ISWI), mengatakan hanjeli adalah tanaman jenis serealia yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan. Tanaman yang berasal dari Asia Timur ini memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan di sekitarnya, baik terhadap suhu maupun kondisi tanah yang kurang subur.

"Hanjeli bisa tahan terhadap suhu yang dingin, tanah yang asam, dan tanah yang kurang subur. Karena spesifikasi ini seharusnya hanjeli bisa dijadikan sebagai tanaman pangan alternatif," kata Retno dalam acara Webinar Seminar Nasional bertema Pendayagunaan Potensi Hanjeli sebagai Bahan Diversifikasi Pangan Alternatif yang Sangat Prospektif di Pasar Global, Jumat (2/11).

Hal ini sejalan dengan ajakan Menteri Pertanian agar masyarakat dapat mengonsumsi sumber karbohidrat dari pangan lokal yang juga mengenyangkan, selain nasi atau beras. Hal ini sebagai upaya untuk mendukung diversifikasi pangan.

Menurut Mentan Syahrul Yasin Limpo, masyarakt Indonesia masih memegang prinsip belum kenyang apabila belum makan nasi. Prinsip ini harus dikikis pelan-pelan. "Diversifikasi pangan menjadi pilihan. Seseorang bisa kenyang tidak hanya dengan beras. Berbagai pangan lokal juga bisa menjadi pilihan," kata Mentan.

Retno melanjutkan, keistimewaan komoditas hanjeli sudah mulai dibudidayakan di Jatinangor, Sumedang, Sukabumi, Cirebon, dan Indramayu. "Namun dari laporan yang saya terima, kebanyakan masih dibudidayakan bersama-sama dengan tanaman lain. Belum monokultur," imbuh Retno.

Pada kesempatan yang sama, Guru Besar Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Pajajaran Bandung, Warid Ali Qosim, menambahkan sampai saat ini peneliti masih melakukan eksperimen untuk menemukan benih hanjeli terbaik. "Pada dasarnya tanaman ini sudah baik, tetapi tetap harus kita cari formulasi terbaik supaya bisa diambil manfaatnya secara maksimal. Ini karena setelah diuji coba ternyata memang ada kelemahannya," kata Warid.

Diungkapkannya, beberapa kelemahan hanjeli yang masih harus dicari solusinya antara lain daya hasil rendah dan umur tanamnya yang cukup panjang. "Karena umurnya yang panjang, sampai lima bulan, jadi petani mungkin kurang tertarik menanam karena hal ini," pungkasnya. (RO/OL-14)

Baca Juga

Ist

Musim Dingin Tidak Ekstrem Seperti yang Dikhawatirkan, Harga Komoditas Energi Stabil

👤Fetry Wuryasti 🕔Senin 06 Februari 2023, 22:31 WIB
BPS mengingatkan bahwa sumber pertumbuhan ekonomi tahun 2022 ditopang oleh tingginya harga komoditas. Namun tahun 2023, harga...
Antara

Pembangunan Smelter Freeport Sudah 54%, Ditargetkan Beroperasi 2024

👤Ficky Ramadhan 🕔Senin 06 Februari 2023, 22:29 WIB
Diketahui, biaya yang telah dikeluarkan PT Freeport Indonesia dalam pembangunan smelter mencapai US$1,78 miliar atau sekitar Rp27 triliun,...
Antara

Presiden Perintahkan OJK Awasi Penggoreng Saham

👤Andhika Prasetyo 🕔Senin 06 Februari 2023, 21:56 WIB
Langkah tersebut harus dilakukan agar Indonesia terhindar dari tragedi keuangan besar yang baru saja terjadi di India, yang melibatkan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya