Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
HARGA emas menguat pada pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB (12/10/2022), menghentikan kerugian selama empat sesi berturut-turut, didorong oleh pembelian safe-haven dan setelah harga logam kuning ini turun tajam karena sinyal hawkish dari Federal Reserve AS.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di Divisi Comex New York Exchange, terangkat 10,80 dolar AS atau 0,64 persen menjadi ditutup pada 1.686,00 dolar AS per ounce, setelah diperdagangkan menyentuh level tertinggi sesi di 1.691,30 dolar AS dan terendah sesi di 1.667,50 dolar AS.
Emas berjangka anjlok 34,10 dolar AS atau 1,99 persen menjadi 1.675,20 dolar AS pada Senin (10/10), setelah jatuh 11,5 dolar AS atau 0,67 persen menjadi 1.709,30 dolar AS pada Jumat (7/10), dan relatif tak berubah di 1.720,80 dolar AS pada Kamis (6/10).
Wakil Ketua Federal Reserve Lael Brainard pada Senin (10/10) menekankan perlunya kebijakan moneter yang ketat, dan mengatakan bahwa kerusakan ekonomi dari kenaikan suku bunga baru-baru ini belum terasa.
Dia menambahkan bahwa bank hanya akan mengurangi kenaikan suku bunga besar setelah ada "keyakinan bahwa inflasi turun," tidak memberikan sinyal bahwa bank sentral bermaksud untuk melunakkan sikap hawkish-nya.
Komentarnya mendorong dolar AS dan menyebabkan aksi jual tajam pada sebagian besar kelas aset lainnya. Mereka juga memberikan lebih banyak tekanan pada emas, karena kenaikan suku bunga mendorong peluang kerugian memegang logam kuning tahun ini.
Pada sisi lain, emas telah melihat pembelian safe-haven tahun ini di tengah memburuknya situasi geopolitik di Eropa dan Asia.
Kekhawatiran eskalasi dalam perang Rusia-Ukraina meningkat setelah ledakan jembatan penting antara Rusia dan Krimea, sehingga Presiden Vladimir Putin menyalahkan Ukraina. Ketegangan di Semenanjung Korea juga meningkat setelah Korea Utara menembakkan dua rudal balistik pada Minggu (9/10), menyusul latihan militer AS di wilayah tersebut.
Indeks Optimisme Usaha Kecil Federasi Nasional Bisnis Independen (NFIB) naik menjadi 92,1 pada September dari 91,8 pada Agustus. Angka tersebut juga mengalahkan perkiraan konsensus 91,8 dari para ekonom, agak membatasi kenaikan harga emas.
Investor juga menunggu indeks harga konsumen AS September, barometer inflasi penting, yang akan dirilis pada Kamis (13/10).
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember turun 12,8 sen atau 0,65 persen, menjadi ditutup pada 19,487 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari naik 3,30 dolar AS atau 0,37 persen, menjadi ditutup pada 899,10 dolar AS per ounce. (Ant/OL-13)
Baca Juga: Harga Emas Stabil Ditekan Kenaikan Dolar AS
Harga emas dunia diperkirakan menguat moderat pada Kamis (26/2) didorong sentimen safe haven dan ketidakpastian global, dengan support di kisaran 5.180–5.200 dolar AS per troy ounce.
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Rabu tercatat melemah 19 poin atau sekitar 0,11% ke level Rp16.848 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini, Rabu 25 Februari 2026, dibuka melemah ke level Rp16.848. Ketidakpastian global menjadi pemicu utama.
Nilai tukar Mata Uang Rupiah pada Selasa pagi (24/2/2026) melemah 10 poin ke level Rp16.835 per dolar AS. Simak analisis penyebab pelemahan rupiah hari ini.
Prediksi harga emas Senin 23 Februari 2026 diperkirakan masih dalam tren positif. Simak faktor dolar AS, suku bunga, dan sentimen global yang memengaruhi pasar.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Kamis 19 Februari 2026.
CHIEF Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menilai risiko Indonesia mengalami resesi dalam waktu dekat amat kecil karena ditopang oleh kekuatan domestik.
KEPALA Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufiqurrahman menilai pemerintah gagal mengoptimalkan ruang fiskal di tengah perlambatan ekonomi dan meningkatkan risiko resesi.
Indonesia dihantui resesi karena pertumbuhan ekonomi yang mengkhawatirkan. Pada triwulan pertama 2025, pertumbuhan ekonomi nasional hanya 4,87%, terendah sejak triwulan ketiga 2021.
Pengamat meminta pemerintah untuk segera mengambil langkah antisipatif untuk mencegah resesi, mengingat perkembangan secara triwulanan (q to q) juga tercatat minus 0,98%.
Resesi, Resesi ekonomi: Pelajari penyebab, dampak, dan cara menghadapinya. Panduan lengkap untuk memahami dinamika ekonomi yang penting.
KEBIJAKAN tarif resiprokal yang dikeluarkan Amerika Serikat untuk sejumlah negara, termasuk Indonesia, mendorong gejolak perekonomian.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved