Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
INFLASI AS semakin memanas terhadap suku bunga The Fed yakni Fed Fund Rate. Saat ini sesuatu yang mengganjal hati pelaku pasar dan investor, yaitu potensi terjadinya resesi pertumbuhan ekonomi.
Ini merupakan situasi dan kondisi dimana perekonomian tumbuh lebih lambat untuk trend jangka panjang sekitar 1,5% - 2%, diikuti dengan meningkatnya pengangguran. Beberapa penelitian melihat bahwa perekonomian terlihat akan menurun di masa yang akan datang. Maka The Fed harus bertindak secepat mungkin untuk memperlambat perekonomian yang dinilai terlalu panas.
Untuk mengurangi permintaan, The Fed mencoba untuk menaikkan tingkat suku bunga secepatnya ke tingkat yang lebih normal dan mendorongnya ke wilayah yang lebih restriktif apabila diperlukan. Tujuannya untuk mencapai stabilitas harga.
Saat ini The Fed melihat pertumbuhan ekonomi mulai melambat, namun tetap masih di atas tren yang didukung oleh turunnya pengangguran dari sebelumnya 3,8% menjadi 3,5% dan akan mencapai nilai yang stabil hingga 2024. Inflasi di harapkan akan menjadi 2,3% pada tahun 2024.
"Namun di satu sisi yang lain, kami melihat hal tersebut lebih kepada skenario yang begitu luar biasa mulus ceritanya. Karena ada kemungkinan pengangguran akan mengalami peningkatan menjadi 4,8% pada akhir tahun depan karena perekonomian mulai melambat," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Senin (28/3).
Saat ini perang memang mendorong inflasi untuk terus naik. Namun ini masih belum terlalu memberikan implikasi terhadap pertumbuhan ekonomi di Amerika atau pasar tenaga kerja. Kemungkinan untuk perekonomian terjadi resesi sangat besar dalam kurun waktu 24 bulan ke depan, namun Gubernur The Fed Jerome Powell tidak berpendapat demikian. Powell melihat pasar tenaga kerja masih kuat dan neraca rumah tangga dalam kondisi yang sangat baik.
"Saat ini fokus utamanya adalah, apakah perekonomian Amerika akan masuk ke dalam resesi. Sejauh mana The Fed ingin mengurangi inflasi dan seberapa jauh perlu menaikkan tingkat suku bunga, akan menjadi salah satu poin penting di masa yang akan datang," kata Nico.
The Fed akan mengusahakan untuk soft-landing seperti yang disampaikan, meskipun kembali lagi bahwa situasi dan kondisi akan berkembang lebih cepat dan dinamis.
Saat ini imbal hasil US Treasury 10y sudah mencapai hampir 2,5% pada minggu lalu. Hal tersebut berarti sudah melewati tren penurunan imbal hasil US Treasury sejak 1980an. Berarti ada kemungkinan secara jangka pendek, imbal hasil US Treasury mulai menciptakan trend naik. (OL-13)
Baca Juga: KPPU Temukan Bukti Dugaan Pelanggaran Distribusi Minyak Goreng
LANGKAH Indonesia bergabung sebagai anggota awal Board of Peace (BoP) dinilai sebagai pisau bermata dua bagi diplomasi nasional.
Upaya diplomatik global belakangan lebih banyak digerakkan oleh kepemimpinan Amerika Serikat dibandingkan forum internasional.
Donald Trump kembali mengeraskan sikap terhadap Iran.Trump menyebut pergantian rezim di Teheran sebagai solusi terbaik
DUA sekutu utama Amerika Serikat (AS) di Eropa, Polandia dan Italia memutuskan tidak bergabung dengan Dewan Perdamaian atau Board of Peace
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Teheran tak akan tunduk pada tuntutan berlebihan AS terkait program nuklir, di tengah negosiasi dan meningkatnya ketegangan kawasan.
Menteri Energi AS Chris Wright sebut hubungan AS-Venezuela akan berubah drastis pasca penangkapan Nicolas Maduro. Fokus pada reformasi minyak dan kerja sama energi.
CHIEF Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menilai risiko Indonesia mengalami resesi dalam waktu dekat amat kecil karena ditopang oleh kekuatan domestik.
KEPALA Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufiqurrahman menilai pemerintah gagal mengoptimalkan ruang fiskal di tengah perlambatan ekonomi dan meningkatkan risiko resesi.
Indonesia dihantui resesi karena pertumbuhan ekonomi yang mengkhawatirkan. Pada triwulan pertama 2025, pertumbuhan ekonomi nasional hanya 4,87%, terendah sejak triwulan ketiga 2021.
Pengamat meminta pemerintah untuk segera mengambil langkah antisipatif untuk mencegah resesi, mengingat perkembangan secara triwulanan (q to q) juga tercatat minus 0,98%.
Resesi, Resesi ekonomi: Pelajari penyebab, dampak, dan cara menghadapinya. Panduan lengkap untuk memahami dinamika ekonomi yang penting.
KEBIJAKAN tarif resiprokal yang dikeluarkan Amerika Serikat untuk sejumlah negara, termasuk Indonesia, mendorong gejolak perekonomian.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved