Kamis 02 Desember 2021, 18:51 WIB

Wimboh Santoso: Bonus Demografi Harus Dimanfaatkan Semaksimal Mungkin

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Wimboh Santoso: Bonus Demografi Harus Dimanfaatkan Semaksimal Mungkin

ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso.

 

DUNIA saat ini menghadapi ketidakpastian akibat pandemi Covid-19, yang memberi dampak kepada industri, bisnis, rumah tangga secara keseluruhan, membawanya pada fase kenormalan baru, termasuk kepada ekonomi, keuangan dan aktivitas kelompok masyarakat.

Hingga kini pun upaya penanggulangan virus belum berakhir dengan hadir lagi varian baru yaitu Omicron.m, dan harus siap menghadapinya.

Di samping pandemi, situasi baru ekonomi juga terjadi pada skala global, yaitu kebijakan normalisasi di negara maju seperti AS. Angka inflasi menjadi perhatian dunia, yang bisa berdampak kepada kebijakan moneter di berbagai belahan dunia.

Dengan saat ini Indonesia memiliki 272 juta penduduk, dan telah diramalkan akan terjadi bonus demografi, kesempatan ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Sebab sebanyak 50% lebih populasinya terdiri atas kaum milenial.

"Memang tidak mudah mengoptimalkan bonus ini. Dengan kaya akan sumber daya manusia, sumber daya alam, laut dan kepulauan, maka ruang untuk Indonesia bertumbuh masih sangat lebar," kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso dalam webinar review buku The Great Demographic Reversal, sebagai bagian dari rangkaian acara Road to Presidency G20, Kamis (2/12).

Masalahnya ada pada bagaimana kita akan mengelola sumber-sumber daya tersebut, membawa teknologi dan SDM ke Indonesia serta investasinya.

"Tetapi ketika nanti Indonesia berhasil melakukannya, harus disadari Indonesia akan terlalu cepat tumbuh. Akibatnya bisa terjadi siklus perputaran yang terlalu cepat," kata Wimboh.

Menurut Wimboh, dalam menghadapi Covid-19, Indonesia telah menerapkan kebijakan yang luar biasa. Indonesia merancang defisit anggaran APBN melebihi normalnya, dari yang tidak lebih dari -3%, dilebarkan targetnya menjadi -6,3% terhadap PDB pada 2020, dan -5,3% di 2021. Indonesia berkomitmen mengembalikan angka tersebut agar di bawah -3% pada 2023.

Dari sektor keuangan, OJK juga telah memperpanjang kelonggaran kredit perbankan selama satu tahun dari 31 Maret 2022 menjadi 31 Maret 2023. Likuiditas di perbankan juga disuntikkan agar pasar lebih percaya diri. Pasar modal Indonesia juga kembali normal, menembus level 6.500, dari saat Covid-19 di 2020 yang jatuh hingga level 3.900.

"Pada 2022, situasi (keuangan) diharapkan kembali normal seperti sebelum pandemi Covid-19," kata Wimboh.

Buku The Great Demographic Reversal, ditulis oleh Charles Goodhart, Profesor Emeritus Keuangan dan Perbankan London School of Economics dan Manoj Pradhan, pendiri perusahaan konsultan ekonomi Talking Heads Macro.

"Buku ini memberikan pencerahan yang mungkin berguna bagi pembaca Indonesia untuk memanfaatkan bonus demografi, dan untuk melihat bagaimana ekonomi Indonesia pasca pandemi," kata Wimboh.

Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro mengatakan berbagai perubahan dan perkembangan sektor ekonomi dan keuangan yang terjadi lebih cepat di masa pandemi, sebenarnya telah terjadi dari sebelumnya pandemi menerpa.

"Segala yang terjadi sebelum Covid-19 dan pasca Covid-19 mungkin saja sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu," kata Ari.

Untuk waktu yang lama, pertumbuhan di Tiongkok digambarkan dari besarnya arus urbanisasi dari pedesaan ke perkotaan. Ini yang membuat Tiongkok menjadi salah satu hub manufaktur di dunia. Dalam perkembangannya Tiongkok mampu meningkatkan standar kelayakan hidup penduduknya.

Tetapi kemudian terjadi penjenuhan ekonomi di Tiongkok (middle income trap) dengan semakin tingginya biaya untuk pekerja, dan populasi yang menua.

Maka untuk pertumbuhan, Tiongkok kini memanfaatkan kelebihan populasi negara dan membangun teknologi serta menyebarkan investasinya di berbagai sebagai penggerak perekonomian.

Sebaliknya di Jepang, dengan menyusutnya generasi muda, negara ini memanfaatkan pekerja dari Thailand, Vietnam dan Indonesia. Jepang pun merelokasi industrinya ke negara ASEAN. Ini membantu Indonesia meningkatkan basis manufakturnya.

"Namun rantai pasok dunia kini mencari basis baru di luar Tiongkok, termasuk dari Indonesia. Indonesia sendiri juga harus bisa mengelola pemanfaatan sumber daya untuk manufakturnya baik dari sisi sumber manusia hingga teknologi," kata Ari. (Try/OL-09)

Baca Juga

DOK

Gender Shaming Masih Ditemui di Tempat Kerja

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 20 Januari 2022, 09:22 WIB
Meski partisipasi kerja perempuan di dunia kerja sudah jauh meningkat tapi hal itu tidak berarti langsung menimbulkan kesetaraan gender di...

Sengketa Asuransi, Ini Kata Pakar agar Sengketa Nasabah dan Asuransi Tuntas

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 20 Januari 2022, 08:05 WIB
Prudential, AIA Financial Indonesia, dan AXA Mandiri dituntut untuk mengembalikan dana premi para nasabahnya 100% dari polis unit link yang...
MI/Agus Utantoro

Menkop UKM Sebut G20 Berpotensi Hasilkan Nilai Konsumsi Rp1,7 Triliun

👤Despian Nurhidayat 🕔Kamis 20 Januari 2022, 07:27 WIB
"G20 berpotensi  menciptakan 33.000 lapangan kerja baru dengan nilai konsumsi sebesar Rp1,7...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya