Rabu 09 Juni 2021, 15:49 WIB

Teknologi UHDP Perkuat Kampung Hortikultura

mediaindonesia.com | Ekonomi
Teknologi UHDP Perkuat Kampung Hortikultura

DOK KEMENTAN

 

MENTERI Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menginginkan subsektor hortikultura lebih baik dari tahun ke tahun dan mampu meningkatkan neraca ekspor. Pengembangan hortikultura harus holistik, terintegrasi hulu hingga hilir. Upaya yang tengah digencarkan salah satunya melalui program kampung hortikultura. 

Sejak 2021, Kementerian Pertanian (Kementan) mengembangkan setidaknya 1.000 kampung hortikultura di antaranya adalah kampung buah. Salah satu komoditas andalannya adalah mangga.

“Salah satu kampung buah yang dikembangkan adalah kampung mangga. Buah ini memiliki potensi pasar yang bagus, baik dalam negeri maupun ekspor. Data BPS menunjukkan pada 2019 produksi nasional mangga sekitar 2,8 juta ton dengan luas panen sekitar 284 ribu hektare. Disusul pada 2020 produksinya naik 3,19 persen meskipun luas panen menurun menjadi sekitar 264 ribu ha,” ujar Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto dalam pesan tertulis, Selasa (8/6).

Baca Juga: Kementan Dukung Pembangunan Food Estate di Jambi

Neraca positif ini, terang Prihasto, salah satunya didorong banyaknya sentra produksi dengan hasil panen yang melimpah. Beragam varietas mangga seperti gedong gincu, arumanis, manalagi, garifta, golek dan lain-lainnya menunjukkan produksi yang sangat bagus. Di sisi lain, juga terdapat tantangan tersendiri yaitu bagaimana meningkatkan daya saing mangga tersebut yang memiliki standar pasar ekspor. 

Salah satu upaya meningkatkan produktivitas buah dan kualitas buah terutama mangga misalnya, bisa mengaplikasikan teknologi Ultra High Density Plantation (UHDP). UHDP secara harfiah diartikan sebagai penanaman dengan sistem jarak tanam rapat. 

“Teknologi ini nanti dikembangkan pada masing masing kampung buah mulai 2021. Dari segi pemeliharaan juga dilakukan secara lebih efektif dan efisien. Teknologi ini nanti akan kami kembangkan di masing masing kampung buah mulai tahun 2021. Insya allah akan menjadi salah satu terobosan teknologi yang memberikan dampak positif bagi petani mangga,” tutur Direktur Buah dan Florikultura, Liferdi Lukman.

Baca Juga: Kementan Dorong Indramayu Sebagai Role Model Kampung Buah 

Keuntungan dari teknologi ini, produktivitas per hektare jauh lebih besar hingga tiga kali lipat dibandingkan penanaman dengan metode konvensional. Penerapannya bisa meminimalisir kebutuhan air jauh dari kebutuhan pada umumnya.

“UHDP ini sebenarnya sudah lama dilakukan petani di Eropa, yakni sekitar tahun 1960. Jadi petani yang biasa tanam dengan jarak konvensional 10 m x 10 m, bisa dirapatkan hingga 2 m x 3 m. Dengan tenik ini, luasan satu hektare bisa menghasilkan 1.500 pohon. Ini sangat strategis untuk pengembangan mangga dengan keterbatasan lahan yang tersedia,” ujar pakar Pusat Kajian Hortikultura Tropika, Endang Gunawan.

Endang menyebutkan, teknologi UHDP ini hanya terdiri dari empat unsur yang perlu dipenuhi. Di antaranya pemilihan varietas yang bisa ditanam di lahan yang rapat, terpenuhinya kebutuhan air, pemupukan yang menggunakan system fertigasi serta pemangkasan yang teratur. 

“Jika dimanfaatkan dengan baik, mampu mengurangi kebutuhan tenaga kerja. Luasan satu hektare lahan bisa dikerjakan cukup satu orang saja,” jelas Endang.

Fertigasi adalah proses di mana pupuk dilarutkan, diencerkan dan didistribusikan bersama dengan air melalui sistem irigasi mikro. Metode ini mampu menghemat kebutuhan air hingga 50%. Sistem ini memungkinkan pemberian pupuk dalam jumlah yang benar tanpa mengurangi unsur hara tanaman. 

“Pemangkasan juga penting dilakukan. Artinya petani harus rajin melakukan pemangkasan agar tanaman mendapatkan sinar matahari yang cukup. Pemangkasan yang teratur menjadikan tanaman rindang dan terus berproduksi,” terangnya. Endang juga menjelaskan, UHDP bisa diterapkan hampir ke semua jenis tanaman buah semusim, seperti mangga, jeruk, lengkeng atau jambu.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Kelompok Tani Agrimania, Haji Urip mengatakan telah menerapkan teknik UHDP pada tanaman mangga miliknya sejak 2017. 

“Seluruh mangga varietas agrimania milik kami, dibudidayakan dengan teknik UHDP. Kami menerapkan UHDP sejak empat tahun silam. Hasilnya sangat memuaskan,” jelas pemilik Agroeduwisata Situbolang, Cikedung-Indramayu. 

Urip menjelaskan, dengan jarak tanam rapat sampai 5 m x 5 meter saja, populasi bisa bertambah dua kali lipat. Memang untuk produksi per pohonnya sedikit mengalami penurunan, namun secara hitungan tiap hektare mengalami peningkatan sampai 50%. Sedangkan biaya pemeliharaan hanya naik tidak lebih dari 25%. Ilustrasinya masih sangat menguntungkan. Dirinya meyakini teknologi ini menjadi terobosan baru dalam dunia pengembangan mangga di Indonesia. (RO/OL-10)

Baca Juga

Antara/Aswaddy Hamid

Blok Rokan Butuh Keandalan Pasokan Listrik

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 22 Juni 2021, 20:19 WIB
PHR sudah bekerja sama erat dengan PLN, sehingga rencana pasokan listrik dan uap ini bisa terlaksana dengan...
Antara

Investor Respons Positif Kebijakan Pandemi Jokowi

👤Fetry Wuryasti 🕔Selasa 22 Juni 2021, 19:45 WIB
Pasar mengapresiasi keputusan Presiden Jokowi yang tidak mengambil kebijakan lockdown di tengah lonjakan kasus covid-19. Sebab,...
Antaranews.com

Pemulihan Ekonomi Tergantung Kebijakan Pengendalian Covid-19

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 22 Juni 2021, 19:25 WIB
Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan menilai pemulihan ekonomi yang terkontraksi tergantung dari...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Jakarta sedang tidak Baik-Baik Saja

SEPEKAN ini warga Ibu Kota mengalami kecemasan akibat meningkatnya kembali kasus positif covid-19 secara signifikan.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya