Selasa 25 Mei 2021, 18:14 WIB

HKTI Ungkap Lima Persoalan Sektor Pertanian

Jesica Wulandari | Ekonomi
HKTI Ungkap Lima Persoalan Sektor Pertanian

MI/CIKWAN
Ketua Umum HKTI Moeldoko dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menghadiri panen raya varietas super genjah M70D.

 

KETUA Himpunan Kerukunan Petani Indonesia (HKTI), Moeldoko menyampaikan ada lima persoalan yang dihadapi petani Indonesia. Kelima masalah utama yang krusial di sisi hulu adalah lahan, permodalan, manajerial, teknologi, dan harga pascapanen.

Pernyataan itu diungkapkan Moeldoko dalam acara Indonesia Food Summits 2021 yang digelar Media Group, Selasa (25/5). Ia menjelaskan, selama ini ketersediaan lahan untuk bertani semakin sedikit. Bahkan, saat ini Indonesia dihadapkan dengan kondisi paradoks.

Baca juga: Food Summit 2021:Kompleksitas Pangan Nasional dari Hulu ke Hilir

Hal itu disebabkan, lahan pertanian di Pulau Jawa semakin sedikit, namun jumlah penduduknya semakin banyak. Sebaliknya, di luar pulau Jawa, masih banyak lahan namun penduduknya sedikit.

Kemudian, ia juga mengatakan para petani juga masih sulit dalam mengakses permodalan. Adanya kebijakan pemerintah yang menggelontorkan KUR senilai Rp50 triliunh, ternyata belum bisa diserap petani. Hal ini disebabkan, masih banyak petani yang unbankable. Sehingga para petani memilih kredit lewat pengepul.

Meski demikian, Moeldoko menyampaikan keberadaan crowdfunding di era keterbukaan saat ini sangat membantu petani mengakses permodalan. “Namun, sekarang ada alternatif lain lewat crowdfunding,” kata Moeldoko.

Selain itu, petani juga dihadapkan dengan manajerial yang belum tertata. Menurutnya, para petani masih belum bisa memetakan permodalan hingga biaya produksi setiap panen.

Persoalan lainnya yang menyebabkan biaya produksi mahal adalah petani yang belum bisa mengadopsi teknologi terbaru. Menurut Moeldoko, setiap panen petani sudah merugi 10% karena masih menggunakan cara konvensional. Padahal, hal tersebut sebenarnya bisa diatasi dengan menggunakan harvester.

“Harvester mampu menekan kerugian 10% tadi menjadi 3 hingga 4%,” katanya.

Persoalan krusial lainnya adalah harga ketika panen raya yang sering kali anjlok. Ia mengkritisi pemerintah yang menetapkan harga eceran beras medium dan premium yang belum menyejahterakan para petani. (A-1)

Baca Juga

Antara

Harga Emas Naik Tajam 14,4 dolar, Imbas Melemahnya Dolar AS

👤Muhamad Fauzi 🕔Kamis 21 Oktober 2021, 06:31 WIB
HARGA emas naik relatif tajam pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB (21/10), karena melemahnya dola AS dan kekawatiran...
Dok. kemendag

Tiga UKM Binaan ECP Kemendag Kembali Tembus Pasar Ekspor 

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Kamis 21 Oktober 2021, 00:08 WIB
PT Agro Global Sentosa dari Makassar melakukan ekspor cengkeh lalpari ke pasar Singapura dengan nilai transaksi USD 90...
Antara/Fauzan

Dorong Perlindungan Bagi Pekerja Perempuan, Kemenaker : Perlu Dialog Intensif Pekerja dan Perusahaan

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 20 Oktober 2021, 23:59 WIB
"Dialog sosial akan sangat berpengaruh dan memberikan manfaat bagi inklusivitas pekerja perempuan di dunia kerja,"...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Menolakkan Ancaman Kemiskinan Ekstrem

Pemerintah perlu memastikan seluruh program penanggulangan kemiskinan ekstrem diterima rumah tangga miskin ekstrem yang ada di wilayah prioritas.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya