Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
PENDIRI & CEO PT Amartha Mikro Fintek (Amartha), Andi Taufan Garuda Putra menilai terdapat berbagai tantangan untuk memajukan digitalisasi pelaku Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Salah satunya, lanjut Taufan adalah akses internet yang tidak merata. Di wilayah, perkotaan, lanjutnya, akses internet terbilang mudah didapatkan
"Namun, untuk ekonomi informal masuk ke ekonomi pedesaan untuk internet yang masih mati hidup mati hidup mati ada yang 2G sehingga belum terlalu siap. Belum perihal logistik dan lainnya," kata Taufan dalam webinar Indonesia Bicara: Digitalisasi dan UMKM yang diadakan Media Indonesia, Senin (24/5).
Selanjutnya ialah membiasakan masyarakat untuk melakukan transaksi dalam belanja sehari-hari. Convert activity menggunakan ponsel untuk pembayaran harus dibiasakan. Namun Taufan menilai masih sulit karena untuk masuk ke tahap tersebut harus dibangun dulu ekosistemnya.
Baca juga : Holding BUMN Ultra Mikro Bisa Atasi Rentenir dan Pinjol Ilegal
"Jika mau dorong digital literasi maka harus dibentuk ekosistemnya, kemudian perdagangan secara bertahap, tidak bisa langsung di convert dari yang yang selama ini masih offline tiba-tiba online harus ada awalan," ujar Taufan.
Taufan mengatakan Amartha sendiri memberikan akses permodalan untuk meningkatkan digital literasi. Menurutnya terdapat 3 poin untuk meningkatkan literasi digital yakni proximity, simplicity, dan teknologi.
Untuk proximity kedekatan masyarakat untuk bertransaksi bisa lebih dekat. "Kalau di masyarakatkan perputaran uangnya kecil denga pendapatan Rp100-200 ribu harus berbelanja, menabung di bank, dan makan dengan jarak yang jauh," ucapnya.
Hal ini juga berpengaruh untuk simplicity dan teknologi yang harus bisa bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat. Semakin mudah maka masyarakat akan menggunakan transaksi digital. (OL-7)
Data Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) RI menunjukkan tren peningkatan pengaduan serta lonjakan kerugian finansial konsumen dari tahun ke tahun.
Pelaku usaha kini bisa daftar QRIS, terima pembayaran semua bank dan e-wallet, serta pencairan dana tiap jam.
Di tengah ekspansi ekonomi digital yang kian cepat, industri financial technology (fintech) Indonesia memasuki fase baru: dari mengejar pertumbuhan.
Meski potensi ekonomi digital besar, Indonesia masih menghadapi tantangan serius pada aspek literasi.
Peran AI sebagai intelligent trust, bukan pengganti tanggung jawab manusia, melainkan alat untuk memperkuat transparansi, keadilan distribusi, dan pengambilan keputusan beretika.
Bank Indonesia melakukan reformasi pengaturan industri sistem pembayaran, salah satunya Transaksi, Interkoneksi, Kompetensi, Manajemen Risiko, dan Infrastruktur Teknologi Informasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved