Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 0,18% dari 103,10 poin di Februari 2021 menjadi 103,29 poin di Maret 2021. Naiknya NTP itu ditopang dari kenaikan tiga subsektor seperti hortikultura, tanaman perkebunan rakyat dan peternakan.
“Beberapa subsektor yang meningkat seperti hortikultura 107,10, sebelumnya di Februari 105,20, atau meningkat 1,80%. Demikian juga tanaman perekbunan rakyat, meningkat sebesar 3,08% yang semula di Februari dengan indeks 112,67 naik menjadi 116,14. Kemudian peternakan juga meningkat dari 97,68 menjadi 97,71, atau naik 0,03%” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (1/4).
NTP merupakan merupakan perbandingan antara indeks harga yg diterima petani dengan Indeks harga yang dibayar petani. Bila indeks NTP lebih dari 100, maka petani mengalami surplus. Itu artinya, harga produksi naik lebih besar dari harga konsumsinya dan pendapatan petani lebih besar ketimbang pengeluarannya.
“Ini meningkat, dengan membandingkan harga-harga yang diterima petani dengan harga yang dibayar petani, baik untuk konsumsi maupun produksi. Kalau harga yang dibayar lebih tinggi dibanding yang diterima, ini akan menurunkan NTP,” jelas Setianto.
Baca juga: Menko Perekonomian: Indonesia Siap Jadi Co-Chair COP26
Kenaikan NTP juga diikuti dengan peningkatan indeks Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) dari 103,72 menjadi 103,87, naik 0,14%. NTUP merupakan perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks yang dibayar petani untuk produksi dan penambahan barang modal.
Sama halnya dengan NTP, tiga subsektor seperti hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, dan peternakan mendorong peningkatan NTUP pada Maret 2021. Tercatat hortikultura mengalami peningkatan 1,69% dari 105,47 di Februari 2021 menjadi 107,26 di Maret 2021. Lalu tanaman perkebunan rakyat naik 3,0% dari 114,01 menjadi 117,42, dan peternakan naik 0,01% dari 97,56 menjadi 97,58.
“Ini artinya penerimaan petani dari (tiga) subsektor itu masih lebih tinggi dibanding yang dibayar,” terang Setianto.
Sementara itu harga rerata Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani mengalami penurunan secara bulanan (month to month/mtm) sebesar 7,85% dan secara tahunan (year on year/yoy) 11,17%. Tercatat pada Maret 2021, harga GKP di tingkat petani hanya Rp4.385.
“Tentu penurunan di GKP tersebut dikarenakan suplai kita, produksinya masih dalam periode masa panen, sehingga secara suplai GKP ini cukup tinggi. Namun karena musim hujan masih menyelimuti di Maret, ini menyebabkan juga kadar air yang dihasilkan dari panen di bulan-bulan ini terjadi peningkatan, dua hal ini menjadi penyebab menurunanya harga GKP pada maret dari Rp4.758 menjadi Rp4.385,” jelas Setianto. (OL-4)
SERANGAN organisme pengganggu tanaman (OPT) atau hama tikus yang semakin masif di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, memaksa para petani mengambil langkah ekstrem.
Mak Comblang Project, sebuah inisiatif yang bertujuan mempertemukan langsung petani dengan dapur MBG.
Kehadiran personel TNI dan dukungan pemerintah provinsi memberikan suntikan semangat baru bagi petani serta pemerintah daerah, terutama di tengah tantangan keterbatasan fiskal.
Kementan memulai tahap rehabilitasi lahan sawah pascabencana di sejumlah wilayah Sumatra.
KENAIKAN Nilai Tukar Petani (NTP) periode 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) dinilai tidak langsung cerminkan petani semakin sejahtera.
Pupuk bersubsidi kini lebih murah dan mudah ditebus. HET turun 20%, petani Garut sudah bisa tebus pupuk sejak awal 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved