Rabu 24 Maret 2021, 14:25 WIB

Ketua OJK Nilai Kondisi Perbankan Nasional Stabil

Despian Nurhidayat | Ekonomi
Ketua OJK Nilai Kondisi Perbankan Nasional Stabil

MI/Ramdani
Ilustrasi

 

OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa kondisi perbankan nasional saat ini dalam kondisi stabil didukung dengan likuditas yang sangat ample. Hal itu terlihat dari alat likuid yang dalam tren meningkat, di mana saat ini, likuiditas perbankan yang tersedia mencapai Rp2.219 triliun di antaranya jumlah SBN Rp1,404 Triliun dan penempatan pada BI sebesar Rp554 triliun.

Selain itu, DPK (Dana Pihak Ketiga) juga dikatakan tumbuh cukup tinggi yakni 10,57% dan LDR (Loan to Deposit Ratio) juga berada di level rendah yaitu 82,5%.

"Kondisi permodalan perbankan juga berada di level yang solid dengan CAR sebesar 24,5% dan tingkat risiko kredit yang terjaga yakni NPL gross pada Januari 2021 3,17%," ungkap Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam Webinar Katadata bertajuk Indonesia Data and Economic Conference 2021, Rabu (24/3).

Wimboh menambahkan, mulai pulihnya ekonomi saat ini telah berdampak pada perbaikan pertumbuhan kredit walaupun masih di zona kontraksi. Hal ini terlihat dari angka pertumbuhan kredit pada Januari 2021 yang sudah mencapai minus 1,92% yoy atau membaik dibandingkan posisi pada Desember 2020 yang mencapai minus 2,41% yoy.

Penurunan pertumbuhan kredit ini, menurutnya disebabkan oleh pelunasan yang dilakukan oleh debitur korporasi yang masih menahan laju ekspansinya pada awal tahun. Hal ini terlihat pada undisbursed loan yang selalu meningkat di awal tahun.

"Selain itu, penyaluran kredit oleh kelompok BPD dan Bank BUMN masih konsisten mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 5,68% yoy dan 1,45% yoy yang mengindikasikan bahwa pertumbuhan kredit masih didorong dari daerah dan beberapa penyelesaian proyek pemerintah. Selain itu, sinyal pemulihan mulai terlihat dari meningkatnya external demand yang mendorong pertumbuhan kredit ekspor sebesar 11,93% yoy," tuturnya.

Sementara itu, lanjut Wimboh, di tengah kinerja sektor riil yang tertekan, sebagian masyarakat cenderung menempatkan  ekses dananya di perbankan dan sebagian lainnya menginvestasikan ekses dananya di pasar modal.

Imbasnya, DPK tumbuh tinggi yakni 10,57% termasuk bagi nasabah korporasi, lantaran  belum pulihnya perekonomian ke titik semula mengakibatkan nasabah korporasi menahan laju ekspansi usahanya, di mana kredit korporasi turun 3,2%.

"Dengan kondisi seperti itu, korporasi besar masih mampu menggunakan dana dari kapasitas internalnya (self financing) untuk melakukan aktivitas bisnisnya ketimbang menggunakan kredit sebagaimana di masa pra-pandemi. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit korporasi yang terkontraksi paling dalam yakni minus 3,2%, UMKM minus 1,7% dan konsumsi minus 1%," pungkas Wimboh. (OL-13)

Baca Juga: OJK: 3,38 Juta Debitur Ajukan Restrukturisasi Kredit

Baca Juga

MI/MOHAMAD IRFAN

Indef: Presidensi G20 2022 Dongkrak Pengakuan Kapabilitas Indonesia

👤Mediaindonesia 🕔Selasa 21 September 2021, 17:40 WIB
Dengan Presidensi G20 pada 2022, Indonesia akan dipandang sebagai negara dengan perekonomian yang stabil dan mampu mengatasi penyebaran...
dok.SGS

Madeinindonesia.com Gandeng SGS Kuatkan Kepercayaan Pembeli Mancanegara

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 21 September 2021, 17:02 WIB
UPAYA mengglobalisasikan perusahaan dan UKM Indonesia, yang tertarik dengan perdagangan B2B domestik dan lintas...
Dok/Setpres

Dikawal Jamintel dan BPKP, Proyek Olefin TPPI Dinilai Sesuai Prosedur

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 21 September 2021, 16:54 WIB
Proyek Olefin TPPI memang sangat strategis karena bisa menjamin ketersediaan bahan baku bijih plastik  dan menurunkan impor bijih...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Awas Banjir Mengancam Kota Jakarta

KEKHAWATIRAN selalu menyelimuti sebagian warga Provinsi DKI Jakarta jika musim hujan kembali datang.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya