Sabtu 19 Desember 2020, 12:50 WIB

Indonesia–Korea CEPA: Tonggak Baru Hubungan Dagang Dua Negara

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Indonesia–Korea CEPA: Tonggak Baru Hubungan Dagang Dua Negara

Antara/Muhammad Adimaja
Mendag Agus Suparmanto

 

MELENGKAPI penanganan tugas Kementerian Perdagangan untuk menyepakati kesepakatan perdagangan dengan negara lain,  pada Jumat  (18/12) Perjanjian Indonesia–Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA) ditandatangani di Seoul, Korea Selatan.

Menteri Perdagangan RI Agus Suparmanto melakukan kunjungan kerja singkat ke Seoul untuk menandatangani IK-CEPA bersama Menteri Perdagangan, Industri, dan Energi (MOTIE) Korea Selatan Sung Yun-mo.

Agus menyampaikan, penandatanganan perjanjian IK-CEPA hari ini merupakan tonggak penting dalam hubungan ekonomi bilateral kedua negara, mengingat Korea Selatan semakin tertarik untuk menjadikan Indonesia sebagai new production base di ASEAN.

Penandatanganan ini menambah panjang daftar capaian Kementerian Perdagangan tahun ini di bidang kerja sama perdagangan internasional.

“Saya percaya IK-CEPA akan membawa ekonomi Indonesia menjadi lebih kuat, berdaya saing, terbuka, dan semakin menarik bagi investor Korea Selatan dengan menjadikan Indonesia sebagai production hub untuk memasuki pasar kawasan dan dunia,” ujar Mendag Agus dalam konferensi pers setelah penandatanganan IK-CEPA, melalui rilis yang diterima, Sabtu (19/12).

Agus mengatakan penandatanganan ini bukti komitmen kedua negara untuk saling mempererat hubungan ekonomi, di tengah situasi ekonomi global yang penuh tantangan dan dihadapkan pada situasi Covid-19.

Diharapkan IK-CEPA dapat membantu pemulihan ekonomi kedua negara secara lebih cepat. IK-CEPA mencakup perdagangan barang yang meliputi elemen penurunan/penghapusan tarif, ketentuan asal barang, prosedur kepabeanan, fasilitasi perdagangan, dan trade remedies, perdagangan jasa, investasi, kerja sama ekonomi, serta pengaturan kelembagaan.

Pada perdagangan barang, Korea Selatan akan mengeliminasi hingga 95,54% pos tarifnya, sementara Indonesia mengeliminasi 92,06% pos tarifnya.

Beberapa produk Indonesia yang tarifnya akan dieliminasi oleh Korea Selatan adalah bahan baku minyak pelumas, stearic acid, t-shirts, blockboard, buah-buahan kering, dan rumput laut. Sementara itu, Indonesia akan mengeliminasi tarif untuk beberapa produk seperti gear box of vehicles, ball bearings, dan paving, hearth or wall tiles, unglazed.

Melalui perjanjian ini, Indonesia juga akan memberikan preferensi tarif guna memfasilitasi investasi Korea Selatan di Indonesia untuk 0,96% pos tarif senilai US$254,69 juta atau 2,96% dari total impor Indonesia dari Korea Selatan.

Jika dilihat dari nilai impornya, Korea Selatan akan mengeliminasi tarif untuk 97,3% impornya dari Indonesia, sementara Indonesia akan mengeliminasi tarif untuk 94% impornya dari Korea Selatan.

Sementara itu pada perdagangan jasa, Indonesia dan Korea berkomitmen membuka lebih dari 100 subsektor; meningkatkan integrasi beberapa sektor jasa di masa depan antara lain pada sektor konstruksi, layanan pos dan kurir, franchise, hingga layanan terkait komputer; serta memfasilitasi pergerakan intra-corporate transferees (ICTs), business visitors (BVs), dan independent professionals (IPs).

Dapat dikatakan bahwa IK-CEPA membuka babak baru kemitraan kedua negara melalui peningkatan perdagangan barang dan jasa, investasi, serta kerja sama peningkatan kapasitas guna bersama-sama memetik manfaat dari perekonomian global yang diharapkan memasuki tahap pemulihannya tahun 2021.

“Cakupan perjanjian IK-CEPA yang cukup luas menunjukkan bahwa kedua negara memiliki tekad bersama untuk mengangkat hubungan ekonomi ini ke tingkat yang lebih tinggi. Hal ini tentunya akan ikut mendorong proses modernisasi perekonomian Indonesia, mengingat Korea Selatan memiliki keunggulan tersendiri di bidang teknologi,” ujar Agus.

Pada 2019, Korea Selatan adalah negara tujuan ekspor kedelapan dan sumber impor keenam bagi Indonesia. Total perdagangan Indonesia-Korea Selatan pada 2019 mencapai US$15,65 miliar, dengan ekspor Indonesia ke Korea Selatan sebesar US$7,23 miliar dan impor dari Korea Selatan sebesar US$8,42 miliar.

Tren perdagangan kedua negara pada periode 2015–2019 tercatat tumbuh positif sebesar 2,5%.Sementara itu, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Korea Selatan periode Januari-November 2020 tercatat sebesar US$5,03 miliar.

Pada November 2020 nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Korea Selatan tercatat sebesar US$495,4 juta. Nilai ini meningkat 7,12% dibandingkan Oktober 2020 yang tercatat sebesar US$462,5 juta.

Produk ekspor utama Indonesia ke Korea Selatan antara lain adalah batu bara, briket, produk baja antikarat, plywood, karet alam, dan bubur kertas. Adapun  impor Indonesia dari Korea Selatan antara lain terdiri atas sirkuit elektronik, karet sintetis, produk baja olahan, dan bahan pakaian.

Pada 2019, Korea Selatan menduduki peringkat ke tujuh sebagai negara sumber investasi asing di Indonesia, dengan total investasi mencapai US$1 miliar. Sepanjang 2015–2019, total investasi Korea Selatan di Indonesia mencapai US$6,9 miliar dan tersebar di 12.992 proyek. (E-1)

Baca Juga

Ist/Kementan

Pertanian Menjadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Daerah

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 08 Agustus 2022, 14:18 WIB
BPS menyebutkan sektor pertanian memiliki andil sebesar 12,98 persen pada pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal...
Ist

Canggih! Pusat Digitalisasi dan Inovasi PHR Dukung Peningkatan Produksi Blok Rokan

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 08 Agustus 2022, 14:10 WIB
PT Pertamina Hulu Rokan (PHR)  menaikkan produksi Wilayah Kerja (WK) Rokan turut didukung oleh penerapan teknologi digital dan...
Dok BRIN

BRIN Dorong Kolaborasi Pengembangan AI untuk Biodiversitas

👤Dinda Shabrina 🕔Senin 08 Agustus 2022, 14:10 WIB
Indonesia digolongkan menjadi negara yang memiliki mega biodiversity, akan tetapi masih belum banyak...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya