Rabu 28 Oktober 2020, 17:31 WIB

Kemenparekraf Berharap Garut Jadi Pelopor Pariwisata Berbasis CHSE

mediaindonesia.com | Ekonomi
Kemenparekraf Berharap Garut Jadi Pelopor Pariwisata Berbasis CHSE

Ist
Direktur Pemasaran Regional I, Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf, Vinsensius Jemadu.

 

KEMENTERIAN Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Kemitraan Strategi Promosi Pariwisata di Era Adaptasi Kebiasaan Baru di Garut, Jawa Barat. 

Direktur Pemasaran Regional I, Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf, Vinsensius Jemadu, menerangkan, selain promosi digital, salah satu hal yang ditekankan dalam Bimtek itu ialah penerapan pariwisata berbasis cleanliness, health, safety, and environment sustainability (CHSE).

"Saat pandemi seperti ini, CHSE menjadi pedoman wisatawan untuk menentukan destinasi wisata yang akan ditujunya. Pandemi membuat orientasi wisatawan dalam melakukan perjalanan mengalami perubahan draatis. Tak hanya kebutuhan fasilitas pendukung saja, tetapi apakah destinasi wisata sudah berbasis CHSE menjadi pertimbangan penting dan utama," kata Vinsensiu di Garut, Rabu (28/10).

Ia melanjutkan, melalui Bimtek ini destinasi wisata di Garut akan dijadikan garda terdepan dalam menerapkan pedoman CHSE. Program CHSE, menurutnya, merupakan salah satu strategi menghadapi masa adaptasi kebiasaan baru di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. 

CHSE berfungsi sebagai jaminan kepada wisatawan dan masyarakat bahwa produk dan pelayanan yang diberikan sudah memenuhi protokol kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan.

"Kunci sukses pulihnya sektor pariwisata dan ekonomi kreatif adalah dengan penerapan standar protokol kesehatan secara disiplin dan ketat," ujarnya.

CHSE dibuat berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan tentang Protokol Kesehatan di Tempat dan Fasilitas Umum dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Covid-19.

Tujuan CHSE adalah untuk meningkatkan upaya pencegahan dan pengendalian covid-19 bagi masyarakat di tempat dan fasilitas umum dalam rangka mencegah terjadinya episenter atau klaster baru selama masa pandemi.

Adapun ruang lingkup penerapan CHSE di antaranya mengedepankan syarat kebersihan, kesehatan, keselamatan dan ramah lingkungan.

Aspek kebersihan mewajibkan pelaku pariwisata memperhatikan fasilitas penyediaan sarana cuci tangan pakai sabun, pembersihan ruang dan barang publik dengan disinfektan/cairan pembersih lain aman dan sesuai, bebas vektor dan binatang pembawa penyakit, pembersihan dan kelengkapan toilet bersih serta tempat sampah bersih.

"Sedangkan untuk aspek kesehatan menghindari kontak fisik, pengaturan jarak aman, mencegah kerumunan, pemeriksaan suhu tubuh, memakai APD yang diperlukan, pengelolaan makanan dan minuman yang bersih dan higienis, peralatan dan perlengkapan kesehatan sederhana, ruang publik dan ruang kerja dengan sirkulasi udara yang baik dan penanganan bagi pengunjung dengan gangguan kesehatan ketika beraktivitas di lokasi," katanya.

Sedangkan aspek keselamatan mewajibkan pengelola menyiapkan prosedur penyelamatan diri dari bencana, ketersediaan kotak P3K, ketersediaan alat pemadam kebakaran, ketersediaan titik kumpul dan jalur evakuasi, memastikan alat elektronik dalam kondisi mati ketika meninggalkan ruangan serta media dan mekanisme komunikasi penanganan kondisi darurat. 

Sedangkan ramah lingkungan mewajibkan penggunaan perlengkapan dan bahan ramah lingkungan, pemanfaatan air dan sumber energi secara efisien, sehat demi menjaga keseimbangan ekosistem, pengolahan sampah dan limbah cair dilakukan secara tuntas, sehat, dan ramah lingkungan.

Selain itu, kondisi lingkungan sekitar asri dan nyaman, baik secara alami atau dengan rekayasa teknis serta pemantauan dan evaluasi penerapan panduan dan SOP pelaksanaan kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan.

Anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah, menambahkan, melalui Bimtek ini salah satu yang ditekankan adalah penerapan protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. 

"Sertifikasi CHSE ini berfungsi sebagai jaminan wisatawan dan masyarakat bahwa produk dan pelayanan yang diberikan sudah memenuhi protokol kebersihan, kesehatan, keselamatan dan kelestarian lingkungan," tutur dia.

Salah satu komitmen yang disepakati bersama dalam membangun kepariwisataan Garut adalah berbasis budaya. Untuk itu, Ferdiansyah mengajak semua pihak untuk menjaga ekosistem kepariwisataan yang ada di Garut. 

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut, Budi Gan Gan Gumilar, menegaskan, salah unggulan pariwisata Garut adalah seni budaya. Kabupaten Garut, kata Budi, merupakan wilayah yang cukup dinamis. 

"Jadi kreativitas yang diinisiasi para seniman dan budayawan di Kabupaten Garut sangat luar biasa," papar dia. 

Ia berharap penerapan program CHSE dapat menjadi jaminan bagi wisatawan untuk kembali berkunjung ke sejumlah destinasi yang tersebar di Garut. (RO/OL-09)

Baca Juga

AFP

Pemerintah Fokus Benahi Pemulian Ekonomi di Bali

👤Insi Nantika Jelita 🕔Rabu 02 Desember 2020, 20:10 WIB
Bali salah satu wilayah yang ekonominya terdampak cukup parah adalah Bali. Secara year on year (yoy), perekonomian di Bali kontraksi...
ANTARA/Yulius Satria Wijaya

115 Perusahaan Terapkan Harga Gas Bumi yang Murah

👤 Insi Nantika Jelita 🕔Rabu 02 Desember 2020, 16:55 WIB
Hingga November 2020 realisasi penurunan harga gas bumi untuk industri di wilayah Jawa Barat telah mencapai...
Antara/Hafidz Mubarak

​​​​​​​Menteri ESDM: Kejayaan Migas Sudah Berlalu

👤Insi Nantika Jelita 🕔Rabu 02 Desember 2020, 16:01 WIB
Pemerintah tidak lagi memprioritaskan besaran bagi hasil dari wilayah kerja migas. Namun, cenderung memberikan insentif agar proyek migas...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya