Jumat 16 Oktober 2020, 12:41 WIB

Potensi Surplus Beras Lebih Kecil Dibanding 2018

M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Potensi Surplus Beras Lebih Kecil Dibanding 2018

Antara
Petani memanen padi di Desa Kalanganyar, Lebak, Banten, Rabu (30/9/2020).

 

PENELITI Center of Food, Energy and Sustainable Development dari Institute Development of Economics and Finance (Indef) Rusli Abdullah menilai, potensi surplus produksi beras di kisaran 2,26 juta ton di 2020 tidak lebih besar dibanding 2018 yang mencapai 2,85 juta ton.

"Surplus 2,26 juta ton ini tidak jauh berbeda dengan capaian di 2019. Bahkan surplus ini lebih kecil dari 2018 yang surplus 2,85 juta ton. Penurunan surplus ini berarti ya memang produksinya juga menurun dengan konsumsi yang tetap itu," ujarnya saat dihubungi, Kamis (15/10).

Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan potensi produksi beras di 2020 akan mencapai 31,36 juta ton. Angka itu lebih tinggi dibanding realisasi produksi beras 2019 sebanyak 31,31 juta ton.

Bila konsumsi beras tiap bulan tidak bergerak jauh di angka 2,93 juta ton, maka hingga akhir tahun akan terjadi surplus beras sebanyak 2,26 juta ton.

Rusli menilai, surplus yang beras yang menyusut sejak 2018 itu menandakan program cetak sawah yang dilakukan belum optimal. Hingga saat ini, sentra produksi beras terbesar masih didominasi oleh wilayah di Pulau Jawa.

"Cetak sawah di luar Jawa belum berhasil atau belum bisa mengimbangi berkurangnya lahan sawah di tempat lain khususnya di Jawa. Penyumbang terbesar memamg Jawa, diikuti Sumatera baru Sulawesi," imbuh dia.

"Dengan potensi surplus itu, itu hanya akan mencukupi untuk kebutuhan konsumsi satu bulan, di Januari 2021 saja. Di Februari tidak bisa menutupi, karena biasanya baru ada panen di bulan Maret," sambung Rusli.

Belum lagi, imbuh dia, ada potensi fenomena La Nina yang akan terjadi di tiga bulan terakhir 2020. Fenomena itu, kata Rusli, dapat menggerus potensi produk beras 2020 dan berdampak pada tingkat panen di 2021.

"Ancamannya adalah ketika mulai tanam Desember-Februari dan panen pada Maret. Musim tanam itu musim hujan, ditambah lagi ada La Nina, itu akan membuat panen raya tidak optimal dan berpotensi pula menggangu capaian struktur beras di 2021. La Nina ini ancamannya akan lebih berat di 2021," jelas Rusli.

Menyoal naiknya upah nominal buruh tani, dia mengatakan itu hal yang positif meski cenderung datar pertumbuhannya. Berdasarkan laporan BPS, upah nominal buruh tani naik 0,08% pada September 2020 menjadi Rp55.719 per hari, dibanding Agustus yang hanya Rp55.677 per hari.

"Upah nominal buruh tani naik 0,08%, ini sebenarnya positif. Ini terjadi di tengah deflasi, ini menjadikan buruh tani tertolong karena tidak ada inflasi tinggi yang menggerus upah nominalnya. Ini baik buat buruh tani di desa-desa," pungkas Rusli. (E-3)

Baca Juga

ANTARA/Aditya Pradana Putra

Daging Sapi Impor Naik, Pedagang Jabodetabek Mogok Massal

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Rabu 20 Januari 2021, 18:06 WIB
Diketahui, kenaikan harga daging sapi sudah terjadi sejak Juli 2020 sampai dengan Januari 2021 yang mencapai Rp130.000/kg pembelian sapi...
JACK GUEZ / AFP

Masa Pandemi Covid-19, Fasilitas Gadai Bitcoin Mulai Dibutuhkan

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 20 Januari 2021, 17:53 WIB
Nasabah mendapatkan dana tunai dalam waktu singkat dengan cara menggadaikan aset kripto yang dimilikinya, seperti Bitcoin (BTC),...
Antara

PHK di Sektor Manufaktur Paling Tajam, Capai 1,8 Juta Orang

👤Insi Nantika Jelita 🕔Rabu 20 Januari 2021, 17:26 WIB
Direktur Eksekutif  Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal membeberkan fakta bahwa selama pandemi, sektor...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya