Jumat 19 Juni 2020, 20:49 WIB

Sharing dengan Selandia Baru, Kementan Paparkan Ketahanan Pangan

mediaindonesia.com | Ekonomi
Sharing dengan Selandia Baru, Kementan Paparkan Ketahanan Pangan

Ist/Kementan
The 2nd International Webinar: The Indonesia New Zealand Partnership.

 

KEMENTERIAN Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) kembali melakukan sharing pengetahuan dengan Selandia Baru.

Sharing dilakukan dalam The 2nd International Webinar: The Indonesia New Zealand Partnership: Defining A Strategy For Indonesian Resilience And Recovery To Covid-19 Through Agriculture And Horticulture, Jumat (19/06).

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo memberikan apresiasinya untuk kegiatan ini. Menurut Mentan, pandemi Covid-19 telah menyerang secara global.

“Seluruh dunia terdampak. Seluruh sektor terdampak, begitu juga pertanian. Untuk itu, kita ingin sharing ke negara lain bagaimana cara menghadapi atau melewati situasi ini. Dan Selandia Baru termasuk negara yang mampu menghadapi Covid-19 dengan baik,” tuturnya.

Webinar internasional sendiri menghadirkan Kepala BPPSDMP Kementan Dedi Nursyamsi, Duta Besar Republik Indonesia untuk Selandia Baru, Samoa dan Tonga Tantowi Yahya, First Secretary Kedutaan Besar Selandia Baru di Jakarta, Jack Lee, kemudian Julian Heyes and Dr. Janet Reid dari Massey University, Selandia Baru.

Menurut Dedi Nursyamsi, pandemi Covid-19 telah mempengaruhi lini kehidupan manusia. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi juga di seluruh dunia.

“Dampaknya multidimensi mulai dari kesehatan, sosial budaya, ekonomi, pendidikan, keagamaan, hingga pertanian dan pangan. Pemerintah Indonesia telah melakukan upaya pencegahan penyebaran Covid-19 melalui penerapan pembatasan sosial besar-besaran (PSBB) beberapa waktu. Dan sekarang kita sedang memasuki era new normal,” tuturnya.

Dedi menjelaskan jika kondisi ini sangat mempengaruhi proses penyediaan pangan bagi masyarakat. Sebab, aktivitas produksi pertanian terganggu, begitu juga hasil produksi, distribusi baik input pertanian maupun produk pertanian ke konsumen, penyerapan tenaga kerja, dan pendapatan rumah tangga petani.

“Menyikapinya, Kementerian Pertanian (Kementan) menerapkan kebijakan penanganan Covid-19 melalui Program Jangka Pendek, Jangka Menengah, dan Jangka Panjang. Untuk Program Jangka Pendek, Kementerian Pertanian menerapkan jaring pengaman sosial (sosial safety net) dan program padat karya dengan terus berproduksi bagi penyediaan pangan 267 juta orang penduduk Indonesia,” tutur Dedi. 

Pada Program Jangka Menengah, Kementerian Pertanian menerapkan kebijakan melalui Kostratani untuk tetap menyediakan pangan bagi 267 juta jiwa penduduk Indonesia, dan mendorong peningkatan kesejahteraan petani serta peningkatan ekspor. 

Sedangkan untuk Program Jangka Panjang, Kementan mengimplementasikan kebijakan regenerasi petani untuk mengamankan pembangunan pertanian Indonesia di masa yang akan datang.

“Untuk mengantisipasi krisis pangan dan kekeringan di tahun 2020 maupun di tahun 2021, serta recovery dampak Covid-19, Kementerian Pertanian mempersiapkan langkah-langkah antisipasi berupa melakukan Gerakan Bersama Tim Supervisi dan Pendampingan Program Utama Kementerian Pertanian yang terdiri dari Kementerian Pertanian Pusat, UPT, Pemda Provinsi dan Kabupaten,” katanya.

Kegiatannya antara lain memantau dan memastikan kesiapan percepatan tanam Musim Tanam II tahun 2020. Khususnya, pengolahan lahan untuk pertanaman, penyiapan bein dan pupuk serta sarpras lainnya, pembiayaan pertanian melalui KUR, dan operasionalisasi alat dan mesin pertanian.

Kemudian memantau dan memastikan kesiapan cadangan beras tingkat provinsi dan kabupaten kota, memastikan agar para PPL mengkoordinasikan cadangan Beras tingkat Desa dan Masyarakat dengan memfungsikan Kostratani, dan Mensosialisasikan gerakan diversifikasi pangan lokal dengan slogan "Indah, Bahagia dengan Makanan Lokal".

“Pandemi Covid-19 telah memberikan pelajaran berharga kepada kita semua. Covid-19 telah menguji sistem ketahanan pangan kita dari hulu sampai dengan hilir. Sistem pangan yang sudah ada sekarang ini baik yang di Negara maju maupun Negara berkembang tetap terpengaruh dengan Covid-19. Sehingga kita harus saling membantu dengan peran kita masing-masing,” tutur Dedi lagi.

Sementara Duta Besar Republik Indonesia untuk Selandia Baru, Samoa dan Tonga, Tantowi Yahya, mengatakan, Selandia Baru telah menghadapi setidaknya dua masa sulit sebelumnya.

“Selandia Baru mampu bangkit dari dua situasi sulit. Selain Covid-19 yang bisa ditekan, New Zealand juga sempat dihadapkan pada krisis  saat tragedi penembakan di Christchurch. Tapi semua bisa dilewatkan dengan baik,” tuturnya.

Tantowi Yahya menambahkan, dalam mengambil keputusan, pemerintah Selandia Baru banyak mendengarkan masukan dari akademisi maupun ilmuwan. Selain itu, komunikasi dari pihak pemerintah juga membantu. (OL-09)

Baca Juga

Dok. Ditjen Bea Cukai

Semangat "Kolaborasi Membangun Negeri" di Hari Bea Cukai Ke-76

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 05 Oktober 2022, 08:34 WIB
"semangat 'Kolaborasi Membangun Negeri', yaitu Bea Cukai dan unit-unit vertikal Kemenkeu lainnya berkomitmen untuk melangkah...
Ist/DPR

Wakil Ketua DPR Lodewijk Jajal Mobil Listrik Produksi Rakitan Anak Bangsa 

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 05 Oktober 2022, 06:55 WIB
Mobil listrik Hyundai IONIQ 5 mengusung prinsip berkelanjutan dengan menghadirkan material ramah...
Ist

RUPSLB Adira Finance Putuskan Perubahan Komposisi Dewan Komisaris

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 04 Oktober 2022, 22:51 WIB
PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance atau Perusahaan) telah melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya