Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
Bank Indonesia (BI) akan melakukan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada pertengahan pekan ini.
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB Universitas Indonesia (UI) menyarankan BI untuk menahan suku bunga kebijakan di 4,5% pada bulan April ini.
Keputusan ini perlu diambil lantaran tim riset LPEM FEB UI menilai pemerintah perlu menangani potensi krisis kredit untuk menanggulangi risiko inflasi akibat potensi adanya guncangan penawaran (supply shock).
“Menimbang segala tren positif yang terjadi belakangan, kami melihat BI sebaiknya menahan suku bunga kebijakan di 4,5% bulan ini,” tulis Ketua Peneliti untuk sektor kebijakan makroekonomi dan finansial LPEM FEB UI Teuku Riefky dalam laporan hasil penelitian yang diterima Media Indonesia, Senin (13/4).
Adapun potensi supply shock tersebut bisa terjadi karena ancaman pandemi Covid-19 ini dan masa Ramadan juga Idul Fitri yang akan akan terjadi. Pasalnya, menurut Riatu, pandemi ini memberikan gangguan perekonomian tidak hanya di level individu, namun juga pada skala nasional dan global.
Guncangan yang ditimbulkan telah merambat ke sektor finansial akibat meningkatnya volatilitas dan ketidakpastian, menyebabkan investor global mengalihkan portofolionya dari risky assets (aset yang beresiko) ke safe-have assets (aset yang dinilai aman).
Selanjutnya, perilaku flight-to-safety ini telah memicu arus modal keluar dari negara berkembang yang menyebabkan kelangkaan likuiditas di pasar mata uang asing dan mengancam stabilitas nilai tukar. Lebih lanjut, gangguan di rantai pasok dan krisis kredit di sektor perbankan menimbulkan risiko kelangkaan suplai barang selama periode Ramadan dan Idul Fitri yang berpotensi menyebabkan naiknya inflasi akibat supply shock.
“Pemerintah telah mengambil langkah tegas untuk menangani krisis melalui stimulus fiskal secara masif, serta melakukan relaksasi dan intervensi yang diperlukan di pasar finansial. Namun, pemerintah tetap perlu berhati-hati dalam mengambil keputusan,” tambahnya.
Seperti yang diketahui, memasuki bulan April, kondisi perekonomian sedikit lebih terjaga setelah BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah melakukan upaya besar-besaran melalui intervensi dan relaksasi di pasar finansial.
Per 10 April, tingkat depresiasi rupiah relatif membaik, turun menjadi 14% (ytd) dan membuat nilai tukar terhadap USD menyentuh level dibawah Rp16.000 (sekitar Rp15.800) akibat konsistennya arus modal masuk sejak awal bulan. Lebih lanjut, imbal hasil surat utang pemerintah perlahan menurun ke 8,2% dari 8,37% di titik tertinggnya untuk tenor 10 tahun. (E-1)
BANK Indonesia Solo sediakan uang baru untuk menyambut Lebaran 2026 sebanyak Rp4,59 triliun, yang layanan pelaksanaan penukaran untuk masyarakat, akan dimulai 23 Februari-13 Maret 2026.
Ingin tukar uang baru untuk Lebaran 2026? Simak panduan lengkap cara daftar di PINTAR BI, jadwal resmi, hingga syarat penukaran paket Rp5,3 juta. Cek linknya di sini!
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 42 poin ke Rp16.828 per dolar AS. Penguatan dolar dan naiknya probabilitas The Fed menahan suku bunga pada Maret 2026 menekan pergerakan rupiah.
BANK Indonesia (BI) mencatat lebih dari 36 persen volume transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) secara nasional berasal dari DKI Jakarta.
Meskipun sejumlah daerah terdampak bencana hidrometeorologi, stok bahan pangan pokok di Sumbar dalam kondisi aman dan mencukupi untuk beberapa bulan ke depan.
LEMBAGA pemeringkat Moody's mempertahankan sovereign credit rating Republik Indonesia pada Baa2 dan melakukan penyesuaian outlook menjadi negatif pada 5 Februari 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved