Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengucapkan selamat kepada Mari Elka Pangestu usai dipilih sebagai Direktur Pelaksana, Kebijakan Pembangunan dan Kemitraan untuk Bank Dunia.
Perry meyakini Mari akan memberikan kebaikan tidak hanya untuk Indonesia melainkan juga negara-negara di emerging market.
"Selamat kepada Ibu Prof Mari Elka Pangestu yang dipilih jadi Direktur Pelaksana World Bank. Saya kenal betul Bu Mari dan saya atas nama pribadi dan BI mengucapkan selamat kepada Bu Mari yang menjadi pimpinan tertinggi Bank Dunia," ujarnya kepada awak media di Jakarta, Jumat (10/1).
Dalam pandangan Perry, figur Mari Elka akan merepresentasikan negara-negara yang berada di emerging market. Dengan begitu, melalui kewenangan yang dimilikinya sebagai Direktur Bank Dunia akan memberikan efek positif termasuk untuk Indonesia.
Baca juga : Jadi Direktur Pelaksana Bank Dunia, Mari Elka: Terima Kasih
"Insyaallah ini juga akan memberikan kebaikan tak hanya bagi BI tapi juga bagi emerging market dan Indonesia. Karena bidang beliau nanti juga akan menangani masalah devlopment policy yang Inssyaallah akan baik terhadap emerging market," imbuhnya.
Mari Elka Pangestu tercatat memiliki latar belakang akademisi dan peneliti. Dia pun pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan Indonesia 2004-2011 dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2011-2014.
Atas pencapaiannya tersebut, Mari bergabung di Bank Dunia dengan keahlian kebijakan dan manajemen yang dirasa sangat luar biasa. Malpas pun mengaku menyambut hangat jabatan yang secara efektif akan berlaku mulai 1 Maret mendatang. (OL-7)
Harga komoditas global diproyeksikan turun ke level terendah dalam enam tahun pada 2026.
Langkah ini tidak hanya mendekatkan pengolahan sampah ke sumbernya, namun juga berkontribusi dalam mengurangi beban TPA dan mendukung ekonomi sirkular.
Pemerintah memastikan tidak akan mengadopsi data kemiskinan yang dirilis Bank Dunia.
AWAL April 2025, Bank Dunia melalui Macro Poverty Outlook menyebutkan pada tahun 2024 lebih dari 60,3% penduduk Indonesia atau setara dengan 171,8 juta jiwa hidup di bawah garis kemiskinan.
Di balik status Indonesia sebagai negara berpendapatan menengah ke atas, Bank Dunia mengungkapkan fakta mencengangkan: 60,3% dari total populasi Indonesia hidup dalam garis kemiskinan
Indonesia diproyeksikan hanya memiliki pertumbuan ekonomi rata-rata 4,8% hingga 2027. Adapun, rinciannya adalah 4,7% pada 2025, 4,8% pada 2026, dan 5% pada 2027.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved