Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
NERACA perdagangan Indonesia tercatat mengalami defisit sebesar US$1,33 miliar per November 2019. Defisit tersebut menurun dibanding dengan bulan yang sama di 2018 sebesar US$2,05 miliar.
Defisit yang terjadi pada November 2019 berasal dari nilai total ekspor yang mencapai US$14,01 miliar, yang lebih kecil nilainya ketimbang Oktober 2019 (month to month/mtm) sebesar US$14,93 miliar. Total nilai ekspor dilihat secara tahunan (year on year/yoy) juga mengalami penurunan, tercatat pada November 2018 mencapai US$14,85 miliar.
Sektor yang menjadi faktor pendorong terbesar pertumbuhan ekspor pada Novemeber 2019 yakni dari nonmigas sebesar 92,11% meliputi sektor industri 75,53%, tambang 14,9% dan pertanian 2,39% sedangkan sektor migas berkontribusi sebesar 7,89% terhadap total nilai ekpsor.
Pertanian menjadi satu-satunya sektor yang mengalami pertumbuhan cukup baik sebesar 4,42% (yoy). Sedangkan sektor lainnya tumbuh negatif dibanding periode yang sama pada 2018.
"Peningkatan ekspor nonmigas pada November 2019 ini paling besar disumbang oleh lemak dan minyak nabati serta hewani dengan nilai US$131,2 juta. Diikuti dengan ekspor kapal, perahu dan struktur terapung sebesar US$40,1 juta," ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam pemaparan rilis di kantornya, Senin (16/12).
Baca juga: Neraca Perdagangan Oktober Surplus US$161,3 Juta
Sementara total nilai impor per November 2019 mencapai US$15,34 miliar, naik dibanding Oktober 2019 yang sebesar US$14,76 miliar. Bila dilihat secara yoy, total nilai impor November 2019 mengalami penurunan, tercatat pada November 2018 total nilai impor sebesar US$16,90 miliar.
"Pada tahun 2018 November lalu impor cenderung turun. Bulan ini cenderung naik. Kita memahami ada kenaikan kebutuhan konsumsi karena liburan sekolah dan menjelang natal dan tahun baru. Impor pada bulan ini mengalami kenaikan kalau dibandingkan dengan posisi Oktober 2019," ungkapnya.
Impor terbesar disumbang oleh barang baku penolong sebesar US$11,7 miliar atau 72,80%, barang modal sebesar US$2,50 miliar atau 16,33% dan konsumsi sebesar US$1,67 miliar atau 10,87%.
Suhariyanto menambahkan tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari sampai November 2019 ditempati oleh Tiongkok dengan nilai US$40,51 miliar atau 29,68%, Jepang US$14,50 miliar atau 10,63% dan Thailand US$8,68 miliar atau 6,36%.
"Komposisi tidak berubah. Berdasarkan data, impor utama kita tetap berasal dari Tiongkok. Selama November ini impor utama kita adalah notebook computer dari jepang, posisi kedua impor yang paling banyak automotive assembly dan truck," pungkasnya.(OL-5)
INDONESIA tidak kekurangan uang. Yang kurang adalah arah. Ini bukan gejala siklikal atau persoalan sentimen pasar, melainkan kegagalan struktural.
Tanpa dorongan fiskal awal, ekonomi akan selalu menunggu.
Alih-alih memicu inflasi pangan, program prioritas pemerintah MBG dinilai justru akan menjadi stimulus bagi peningkatan produktivitas nasional dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Berdasarkan data selama bulan Januari hingga Desember 2024, tercatat 38juta kunjungan wisatawan datang ke DIY.
berdasarkan hasil rapat DK OJK yang dilaksanakan pada 1 Oktober lalu menilai sektor jasa keuangan terjaga stabil.
INDONESIA dan Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) telah melaksanakan Putaran Ketiga Perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas antara kedua pihak (Indonesia-GCC FTA).
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan terakhir tahun 2025 dengan kinerja positif, menguat tipis sebesar 2,68 poin.
Anjloknya harga emas pada perdagangan hari ini memberikan tekanan langsung terhadap sentimen saham-saham tambang emas di Bursa Efek Indonesia (BEI).
IHSG mengakhiri perdagangan Selasa sore di zona merah. Tekanan jual muncul seiring investor melakukan aksi ambil untung (profit taking) menjelang libur dan cuti bersama Natal.
Sektor non-migas menjadi pendorong utama surplus perdagangan Batam pada September 2025, dengan mesin dan peralatan listrik (HS 85) mendominasi ekspor dengan nilai US$831,02 juta.
PRESIDEN Prabowo Subianto menyatakan pentingnya dukungan terhadap investasi asing sebagai bagian dari upaya mempercepat kemakmuran nasional.
Indonesia mendorong penyelesaian perundingan reviu ASEAN-India Trade in Goods Agreement (AITIGA) pada akhir 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved