Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGUSAHA logam Cibatu, Jawa Barat, mengakui masih harus mengimpor bahan baku untuk membuat cangkul.
Hal itu diungkapkan oleh pengusaha logam Cibatu Asep Rohaendi atau Asro di sela-sela kunjungan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM) Teten Masduki, Sabtu (23/11).
Asro menjelaskan, bahan baku cangkul harus diimpor dari Korea Selatan. Namun, perajin di Cibatu ini juga ada yang memanfaatkan drum bekas untuk diolah menjadi alat pertanian ini.
Diakuinya harga cangkul dari Tiongkok jauh lebih murah karena diproduksi massal. Sehingga, dia berharap kedatangan Menkop UKM ke Sukabumi ini bisa menjadi solusi bagi perajin cangkul di Kabupaten Sukabumi mulai dari penyediaan bahan baku, pemasaran hingga penguatan modal usaha.
Teten Masduki menilai cangkul yang diproduksi perajin logam di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, lebih berkualitas dibandingkan produk impor dari Tiongkok.
"Dari hasil kunjungan langsung ke bengkel produksi cangkul di Cibatu, Kecamatan Cisaat, saya sempat membandingkan kualitas cangkul produksi perajin daerah di sini dengan cangkul impor dari Tiongkok. Hasilnya kualitas cangkul perajin Cibatu jauh lebih berkualitas," katanya.
Menurut dia, cangkul yang dibuat perajin logam Cibatu bentuknya lebih bagus halus dan lebih lebar. Sementara, cangkul dari Tiongkok permukaannya kasar, kecil dan kemungkinan tidak bisa tahan lama.
Baca juga: Petani Tolak Kebijakan Cangkul Impor
Tidak hanya itu, ternyata di daerah lain pun kualitas cangkulnya sangat baik jika dibandingkan dengan impor. Maka dari itu, pihaknya menginginkan tidak ada lagi impor cangkul ke Indonesia karena produk karya anak bangsa lebih mumpuni.
Baca juga: Presiden: Urusan Pacul Masa Harus Impor
Teten mengatakan, saat ini yang masih menjadi kendala adalah cangkul yang dibuat perajin dalam negeri khususnya dari Cibatu belum sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Sehingga, pihaknya akan mencarikan melakukan berbagai pembinaan sekaligus pelatihan untuk perajin cangkul agar produksinya sesuai standar.
"Kami ingin mendongkrak skala produksi cangkul produk UMKM ini karena, tugas utama saya sebagai Menkop UKM adalah menjaga keberadaan pelaku UKM agar tetap bisa berkarya dan pendapatannya terus meningkat," tambahnya. (X-15)
SERANGAN organisme pengganggu tanaman (OPT) atau hama tikus yang semakin masif di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, memaksa para petani mengambil langkah ekstrem.
Studi terbaru mengungkap masa depan budidaya alpukat di India. Meski permintaan tinggi, perubahan iklim dan emisi karbon mengancam keberlanjutan panen.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing. Kunjungan pertama dalam 8 tahun ini menjadi titik balik hubungan kedua negara.
Kalau kita kelompokkan petani pangan, persentase petani yang di atas 55 tahun jauh lebih besar.
Menlu RI Sugiono menegaskan komitmen Indonesia-Turki memperkuat kerja sama industri, produk halal, dan pertanian saat bertemu Presiden Erdogan di Istanbul.
Di sektor pertanian, penerapan pertanian organik dan sistem pertanian yang berkelanjutan menjadi pilihan utama.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved