Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Pakar Pertanian UGM: Memberdayakan Desa Harus Memberdayakan Pertanian

Ardi Teristi Hardi
13/1/2026 20:36
Pakar Pertanian UGM: Memberdayakan Desa Harus Memberdayakan Pertanian
(MI/Ardi Teristi)

Peneliti Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) Universitas Gadjah Mada, Prof. Subejo menyatakan, 83% desa di Indonesia adalah desa pertanian. Oleh sebab itu, jika ingin memberdayakan desa, kita harus memberdayakan pertanian.

Fakta selanjutnya, sekarang semua menganggap urusan pangan itu adalah urusan yang sangat strategis. Bahkan, ia mendapat data dari jurnal, Indonesia menjadi target dari korporasi internasional untuk menjadikan sekitar 3,5 juta hektar lahan yang nanti akan dijadikan sebagai sumber food estate.

"Artinya, bahwa urusan pangan ini adalah menjadi urusan yang sangat strategisl Tidak hanya bisa bagi lokal, internasional, tapi di dunia," kata pakar pertanian UGM tersebut dalam Sarasehan Rakyat, Memikirkan Masa Depan Desa di PSPK UGM, Senin (12/1) malam. Siapapun yang menguasai makanan, itu yang menguasai dunia, mengatur dunia. 

Di Indonesia, faktanya, penghasil pangan di Indonesia itu ya rakyat-rakyat kecil. Ia memperkirakan, 29 juta orang, menurut data statistik, itu ada di sektor pertanian, urusan produksi pangan.

Bahkan saya agak sedih juga, dapat bocoran ada satu korporasi yang sekarang sudah menguasai 1,4 juta hektare lahan di Indonesia. Padahal, sawah kita di seluruh Indonesia hanya 7 juta hektare.

Di sisi lain, luas lahan petani desa semakin menyempit. Statistik pertanian kita yang terakhir, 2023, kata Prof Subejo, itu menunjukkan ada peningkatan hampir 4 juta orang yang mengelola lahan pertanian kurang dari 1.000 meter persegi.

"Itu menyedihkan sekali. Jadi, petani gurem itu semakin besar," kata dia. Ketika lahannya itu kecil-kecil, perusahaan atau kontraktor menjadi sangat mudah membeli untuk dijadikan perumahan dan sebagainya.

Lalu yang terakhir, yang juga sangat menyedihkan, 40% petani kita itu umurnya di atas 55 tahun. Kalau kita kelompokkan petani pangan, persentase petani yang di atas 55 tahun jauh lebih besar.

"Jadi petani pangan yang umurnya di atas 60 tahun, itu jumlahnya mungkin lebih dari 50 persen," terang dua.

"Yang betul-betul kita makan sehari-hari kan beras. Kalau yang mau menanam padi sudah tidak ada, ini kan jadi bahaya sekali," ungkap dia.

Sedikitnya anak muda yang tertarik menanam padi karena  kebijakannya tidak menarik. Di Jepang, di Korea, di Eropa, mereka memiliki sistem perlindungan yang modelnya asuransi pertanian. Begitu petani gagal mainnya dia akan mendapatkan asuransi sebesar kalau dia berhasil.

"Sistem insentif yang seperti sekarang itu sama sekali tidak menarik bagi orang muda. Saya kira butuh gerakan-gerakan baru, bagaimana supaya petani mendapat pelindungan (apabila gagal panen)," terang dia.

Ia mengatakan, yang disampaikannya adalah fakta yang perlu kita pikinkan. "Bicara desa adalah bicara pertanian, lalu struktur lahan," tutup dia. (H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Denny parsaulian
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik