Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
CORE Indonesia memprediksi adanya potensi pelebaran defisit anggaran melebihi target yang telah ditentukan pemerintah hingga akhir 2019.
Peneliti Core Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, potensi pelebaran defisit anggaran ini dipengaruhi oleh belanja negara yang tumbuh lebih tinggi, namun tidak diimbangi oleh pertumbuhan penerimaan negara yang justru melambat.
"Hal ini berdampak pada pelebaran defisit anggaran, sampai dengan semester I 2018 defisit anggaran Rp111 triliun, dibandingkan dengan semester I 2019 bertambah jadi Rp136 triliun," kata Yusuf dalam Core Midyear Review di Jakarta, Selasa (30/7).
Ia memprediksi, hingga akhir tahun ini, defisit anggaran terhadap pendapatan domestik bruo (PDB) akan berada di kisaran 2,0%-2,1%.
Prediksi itu lebih besar ditandingkan prediksi pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN() yang menatok defisit di kisaran 1,8%-1,9%.
Baca juga : BI Nilai Stabilitas Moneter Terjaga Hingga Semester I-2019
Yusuf juga memprediksi penerimaan negara akan berada pada kisaran Rp1.970 triliun sampai Rp1.990 triliun, di bawah target sebesar Rp2.165 triliun.
Defisit secara keseluruhan berada di kisaran Rp317 triliun hingga Rp342 triliun. Sedangkan belanja negara diperkirakan di kisaran 92%-94% dari target.
Sepanjang semester I 2019 kinerja belanja negara tumbuh 10%, lebih tinggi dari semester I 2018 yang hanya tumbuh 6%. Pada semester I 2018 pertumbuhan penerimaan negara mampu mencapai 16%, namun pada semester 1 2019 pertumbuhan penerimaan negara justru melambat hingga 8%.
Yusuf menjelaskan, pertumbuhan belanja negara yang sangat signifikan dipengaruhi oleh kenaikan gaji aparatur pemerintah serta pembagian tunjangan hari raya (THR) pada Mei 2019 lalu.
"Jadi berdasarkan APBN 2019 bahwa pemerintah menetapkan kenaikan gaji bagi seluruh aparatur negara, baik itu dari aparatur sipil negara, TNI, dan Polri sebesar 5%. Inilah yang mendorong kenaikan belanja pemerintah sampai semester 1 2019," bebernya.
Realisasi belanja sejumlah Kementerian seperti untuk perbaikan jalan dan rel jelang masa mudik serta pelaksanaan Pemilu 2019 turut menyumbang jumlah defisit anggaran.
Baca juga : Sektor Pariwisata Melambat Akibat Harga Tiket Pesawat Naik
Yusuf menjelaskan, sebenarnya pelebaran defisit anggaran tidak selalu berarti buruk, asalkan dapat memberikan efek stimulus terhadap perekonomian.
"Sayangnya pada kasus Indonesia, pos anggaran yang bisa memberikan efek multiplier yang lebih besar terhadap perekonomian, dalam hal ini belanja modal, pertumbuhannya justru masih minus," ujarnya.
Dia menuturkan, pertumbuhan tahunan realisasi belanja modal mengalami kontraksi hingga -6% dari Rp45 triliun pada semester I 2018 menjadi Rp34 triliun pada semester I 2019.
Sedangkan penerimaan negara turun akibar merosotnya penerimaan pajak, khususnya dari sektor manufaktur yang mengalami kontraksi pertumbuhan -2,6%. Padahal penerimaan pajak menyumbang sebesar 80% terhadap penerimaan negara. (OL-7)
Harga minyak dunia melonjak dan rupiah melemah menekan APBN 2026. Ekonom ingatkan disiplin fiskal penting untuk cegah defisit hingga 6% dan jaga stabilitas ekonomi.
Tak hanya di pusat, pemerintah daerah juga diimbau menyesuaikan kebijakan pengendalian mobilitas sesuai karakteristik wilayah masing-masing.
Ketegangan di Selat Hormuz dorong harga minyak dunia naik. Studi FEB UI menyebut BUMN Indonesia menghadapi tekanan besar, terutama di sektor energi dan transportasi.
Lonjakan harga minyak dunia dorong kenaikan BBM. Ekonom nilai langkah ini penting untuk jaga stabilitas APBN.
Presiden menjelaskan kebutuhan untuk efisiensi itu melihat skor ICOR Indonesia yang cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa tegaskan harga BBM tak akan naik hingga akhir 2026 meski minyak dunia tembus US$100. Simak jaminan kekuatan APBN di sini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved