Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
KEBIJAKAN Bank Indonesia (BI) mengerek turun suku bunga acuan atau BI 7 days reverse repo rate 25 basis poin (bps) dari 6% menjadi 5,75% memperoleh apresiasi dari kalangan perbankan dan pengamat.
Mereka menilai penurunan bunga acuan itu semakin melebarkan katup penyaluran kredit perbankan untuk memacu perekonomian.
Kepala ekonom PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk, Ryan Kiryanto, meng ungkapkan keputusan BI itu sangat akomodatif untuk mendorong penyaluran kredit perbankan dan memperluas pembiayaan perekonomian.
"Ke depan, diharapkan mendorong permintaan kredit di tengah gairah investasi pascapemilu," kata Ryan, kemarin.
Setelah menggelar rapat Rabu (17/7) dan Kamis (18/7), Bank Sentral akhirnya memutuskan memangkas suku bunga acuan 25 bps dari 6% menjadi 5,75%.
Selain itu, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pun menurunkan 25 bps bunga penempatan likuiditas harian perbankan di BI (deposit facility) menjadi 5,00% dan bunga pinjaman BI kepada perbankan yang memerlukan likuiditas harian (lending facility) sebesar 25 bps menjadi 6,50%.
"Kebijakan ini menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. BI memperkirakan inflasi tahun ini di bawah titik tengah, yakni 3,5%. BI menunggu waktu tepat untuk mengumumkan keputusan ini meskipun rencana penurunan suku bunga sudah sejak lama," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers seusai RDG BI di kantornya, kemarin.
Dorong investasi
Ekonom Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara, justru berharap dengan pemotongan bunga acuan BI sebesar 50 bps, stimulus perbankan kepada sektor riil semakin manjur.
"Kalau turunnya besar, bank lebih cepat menyesuaikan bunga kredit. Pengusaha lebih happy dan bisa minta tambah kredit untuk ekspansi ekspor ataupun tujuan pasar domestik," ungkap Bhima.
Direktur PT Bank Tabungan Negara (persero) Tbk, Budi Satria, menyatakan kebijakan BI berdampak positif kepada kinerja perbankan karena akan menurunkan biaya dana.
Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Adriyanto, berkeyakinan ekonomi akan tumbuh seiring meningkatnya investasi. "Jika perbankan menurunkan bunga kredit, itu bisa mendorong ekspor. Hanya peningkatan ekspor perlu ditopang kebijakan lain, seperti penyederhanaan prosedur, pengembangan pasar baru, dan komoditas unggulan."
Dalam penilaian Deputi Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian, Iskandar Simorangkir, kebijakan BI itu berangkat dari turunnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok ke posisi 6,2% di triwulan II. "Turunnya bunga kredit perbankan mendorong investasi, modal kerja, dan konsumsi yang akan mengungkit perekonomian nasional."
Wakil Ketua Kadin Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani, menyambut positif langkah BI menurunkan bunga acuan karena sudah lama dinantikan oleh pengusaha di Tanah Air.
"Prediksi pertumbuhan ekonomi semester I di kisaran 5%-5,1%. Kita butuh katalis untuk semester kedua, ya penurunan bunga agar pengusaha bisa mengembangkan bisnis. Ada risiko capital outflow bila the Fed tidak menurunkan suku bunga akhir bulan ini. Namun, dampak positif kebijakan BI masih lebih besar ketimbang risikonya," tandas Shinta. (Ata/Nur/X-3)
BANK Indonesia Solo sediakan uang baru untuk menyambut Lebaran 2026 sebanyak Rp4,59 triliun, yang layanan pelaksanaan penukaran untuk masyarakat, akan dimulai 23 Februari-13 Maret 2026.
Ingin tukar uang baru untuk Lebaran 2026? Simak panduan lengkap cara daftar di PINTAR BI, jadwal resmi, hingga syarat penukaran paket Rp5,3 juta. Cek linknya di sini!
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 42 poin ke Rp16.828 per dolar AS. Penguatan dolar dan naiknya probabilitas The Fed menahan suku bunga pada Maret 2026 menekan pergerakan rupiah.
BANK Indonesia (BI) mencatat lebih dari 36 persen volume transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) secara nasional berasal dari DKI Jakarta.
Meskipun sejumlah daerah terdampak bencana hidrometeorologi, stok bahan pangan pokok di Sumbar dalam kondisi aman dan mencukupi untuk beberapa bulan ke depan.
LEMBAGA pemeringkat Moody's mempertahankan sovereign credit rating Republik Indonesia pada Baa2 dan melakukan penyesuaian outlook menjadi negatif pada 5 Februari 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved