Headline

Istana minta Polri jaga situasi kondusif.

Perhatian Ke Sektor ICT Bisa Atasi Defisit Transaksi Berjalan

Nur Aivanni
27/6/2019 19:29
Perhatian Ke Sektor ICT Bisa Atasi Defisit Transaksi Berjalan
5G perkembangan di dunia ICt terbaru(AFP/Frederick J Brown)

DATA Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) menunjukkan defist transaksi berja;lan salah satunya disebabkan adanya tekanan pada neraca jasa sektor teknologi informasi dan telekomunikasi (ICT) yang terjadi sejak 2011.

Karena itu, Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta mengatakan, pemerintah harus menaruh perhatian pada sektor ICT untuk mengurangi defisit transaksi berjalan akibat tekanan dari neraca perdagangan.

"Jadi, warning agar sektor ICT menjadi perhatian dan tidak menjadi penyumbang defisit," kata Arif di Jakarta, Kamis (26/6).

Dari data UN Comtrade, impor barang untuk komoditas mesin dan peralatan elektronik pada 2018 sebesar 21,45 miliar dollar Amerika Serikat  atau setara dengan 11,37% kontribusinya terhadap total impor. Angka tersebut berada di posisi ketiga komponen impor terbesar setelah bahan bakar mineral dan reaktor nuklir dan permesinan.

Baca juga : Tutupi Defisit Neraca Dagang dengan Dorong Ekspor

Arif mengungkapkan bahwa Presiden Joko Widodo telah meminta kepada jajarannya untuk menyelesaikan permasalahan defisit transaksi berjalan tersebut.

Presiden meminta agar transaksi berjalan bisa berada di posisi seimbang atau bahkan surplus. "Kenapa ini sangat penting? Ini menggambarkan stabilitas ekonomi kita dari waktu ke waktu yang terkait dengan pergerakan ekonomi di sektor mikro," ujarnya.

Untuk memperbaiki defisit transaksi berjalan yang semakin dalam, kata Arif, pemerintah perlu mempertimbangkan pembangunan industri ICT untuk membangun dan mengembangkan sektor teknologi informasi dan telekomunikasi nasional.

Lalu, mendorong penggunaan komoditas dan jasa sektor teknologi informasi dan telekomunikasi dalam negeri untuk mengurangi beban biaya penggunaan hak atas kekayaan intelektual dan impor barang dan jasa sektor ICT.

"Sehingga memperbaiki transaksi berjalan dan neraca pembayaran Indonesia secara keseluruhan," tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB Nunung Nuryartono menyebutkan, dari total penduduk sebesar 268,2 juta, jumlah telepon seluler (ponsel) yang ada di Indonesia lebih banyak dari jumlah penduduknya yaitu 355,3 juta.

"Pengguna internet ada 150 juta, yang aktif media sosial 150 juta dan media sosial lainnya 130 juta. Basisnya handphone ini lah yang akan berimplikasi dengan banyak hal berkaitan dengan kemungkinan-kemungkinan bagaimana current account kita menjadi negatif," katanya.

Sementara itu, penetrasi internet di Indonesia (56%) berada di bawah rata-rata dunia yang sebesar 57%. "Waktu yang digunakan untuk berinternet melebihi rata-rata dunia. Dunia rata-rata membuka internet 6 menit/jam, sedangkan Indonesia 8,5 menit/ jam," katanya. (OL-7)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ghani Nurcahyadi
Berita Lainnya