Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
SUDAH waktunya bagi Bank Indonesia (BI) untuk memangkas suku bunga acuan demi menstimulasi dunia usaha dan mendongkrak perekonomian nasional.
Selama satu tahun terakhir, bank sentral Tanah Air telah menujukkan sikap prostabilitas dengan terus menaikkan suku bunga acuan sampai 1,75 basis poin hingga akhirnya menyentuh 6% pada saat ini.
Hal itu dilakukan demi menahan arus modal asing keluar serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Baca juga : Pelaku Usaha Harap BI Turunkan Suku Bunga Acuan
Ketika kondisi sudah cenderung stabil, sudah semestinya BI memberikan perhatian pada sektor riil dengan menurunkan suku bunga acuan.
"Kebijakan ini diperlukan untuk mendorong dunia usaha bergerak lebih cepat. Dengan bunga yang lebih rendah, biaya peminjaman akan lebih ringan," ujar ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira kepada Media Indonesia, Rabu (19/6).
Namun, di sisi lain, tentu ada risiko yang harus dihadapi karena penurunan suku bunga akan memicu keluarnya modal asing.
"Tetapi, kalau melihat perkiraan The Fed yang juga akan memangkas bunga, seharusnya itu tidak akan menjadi persoalan," tuturnya.
BANK Indonesia Solo sediakan uang baru untuk menyambut Lebaran 2026 sebanyak Rp4,59 triliun, yang layanan pelaksanaan penukaran untuk masyarakat, akan dimulai 23 Februari-13 Maret 2026.
Ingin tukar uang baru untuk Lebaran 2026? Simak panduan lengkap cara daftar di PINTAR BI, jadwal resmi, hingga syarat penukaran paket Rp5,3 juta. Cek linknya di sini!
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 42 poin ke Rp16.828 per dolar AS. Penguatan dolar dan naiknya probabilitas The Fed menahan suku bunga pada Maret 2026 menekan pergerakan rupiah.
BANK Indonesia (BI) mencatat lebih dari 36 persen volume transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) secara nasional berasal dari DKI Jakarta.
Meskipun sejumlah daerah terdampak bencana hidrometeorologi, stok bahan pangan pokok di Sumbar dalam kondisi aman dan mencukupi untuk beberapa bulan ke depan.
LEMBAGA pemeringkat Moody's mempertahankan sovereign credit rating Republik Indonesia pada Baa2 dan melakukan penyesuaian outlook menjadi negatif pada 5 Februari 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved