Selasa 11 Juni 2019, 18:00 WIB

Kementan Pertahankan Opini WTP 3 Tahun Berturut-Turut

mediaindonesia.com | Ekonomi
Kementan Pertahankan Opini WTP 3 Tahun Berturut-Turut

Dok. Kementan
Penyerahan hasil pemeriksaan atas laporan keuangan Kementan tahun 2018 oleh BPK RI

 

Kementerian Pertanian (Kementan) berhasil mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun 2018 oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Setelah 10 tahun, opini WTP ini diraih Kementan di bawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman secara berturut dalam tiga tahun terakhir yakni sejak 2016 hingga 2018.

Laporan hasil pemeriksaan atas laporan keuangan Kementan tahun 2018 ini langsung diserahkan Anggota IV BPK RI Rizal Djalil kepada Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat acara Halalbihalal Keluarga Besar Kementan di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Selasa (11/6).

Rizal Djalil mengapresiasi semua capaian dan kinerja bagus Kementan di bawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman. Untuk tahun 2018, Kementan kembali mendapat opini terbaik yaitu WTP.

Menurutnya, raihan opini WTP ini menandakan pengelolaan anggaran Kementan telah dilakukan secara akuntabel dan standar akutansi pemerintah. Hebatnya lagi, Kementan satu-satunya kementerian yang tidak pernah terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT).

"Jadi kita semua harus mengapresiasi kerja keras Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Kementerian Pertanian pada tahun anggaran 2018 telah mencapai target realisasi yang sangat besar hampir 91% dari total anggaran Rp24,38 triliun, terealisasi Rp21,84 triliun," beber Rizal.

Lebih lanjut, Rizal menegaskan untuk merealisasikan anggaran sebesar ini tentu tidak mudah, apalagi anggaran ini terkait dengan upaya menyejahterakan masyarakat. Kementan harus bermitra dengan pemerintah daerah yang jumlahnya luar biasa banyak, dari pemerintah provinsi sampai ke kabupaten/kota. Kemudian, aset Kementan sampai saat ini sudah berjumlah Rp26 triliun lebih.

"Untuk mengelola anggaran dan aset yang sangat besar tidak gampang. Tapi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mampu mengelolanya dengan sangat baik. Tiga tahun berturut-turut mampu meraih WTP," tegasnya.

Rizal pun memberikan catatan penting terhadap capaian Kementan, yakni Kementan tidak hanya berhasil dalam pengadaan bahan pangan terutama menjelang hingga sesudah lebaran sehingga tidak terjadi gejolak harga pangan. Akan tetapi secara kuantitas, Kementan berhasil meningkatkan daya beli petani secara signifikan.

BPS merilis NTP Mei 2019 sebesar 102,61, naik 0,38% dari NTP bulan April yang hanya 102,23. Demikian pun NTUP bulan Mei sebesar 111,94, naik sebesar 0,73% dari bulan April sebesar 111,13.

"Ini semua berkat kerja keras Kementerian Pertanian. BPK punya dua rekomendasi, kami mengusulkan agar anggaran untuk memperbaiki data pertanian dalam arti luas, termasuk data penempatan untuk petani yang memperoleh subsidi pupuk, data luas lahan, luas panen dan data lainnya harus ditingkatkan," tuturnya.

Baca juga: Kementan Kawal Pasokan dan Harga Cabai dan Bawang Merah

Rekomendasi selanjutannya, lanjut Rizal, BPK mendukung peningkatan anggaran riset dan pengembangan pertanian. Pasalnya, Indonesia akan mengikuti persaingan global yang sangat ketat, terutama dengan negara sekitar seperti Thailand yang sudah melangkah maju.

"Dengan kemajuan riset dan pengembangan, produk-produk pangan yang selama ini sudah bagus, bisa menjadi lebih kompetitif lagi di pasar internasional," terangnya.

"Saya sangat mengapresiasi Wakil Presiden Argentina dan pejabat negara Eropa yang ingin mengimpor komoditas pangan kita. Tentu saja untuk meningkatkan aspek riset dan pengembangan menjadi lebih penting untuk menjadikan komoditas pangan kita jaya di pasar internasional," imbuhnya.

Sementara itu, Mentan Amran mengatakan capaian opini WTP tahun 2018 ini merupakan komitmen Kementan untuk memperbaiki sistem keuangan yang akuntabel tidak lagi diragukan. Kementan hingga saat ini sudah sangat bagus dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berintegritas.

"Raihan opini WTP ini merupakan oleh-oleh Ramadhan buat kita semua. Apalagi kita berhasil meraih opini WTP selama tiga tahun berturut-turut, sehingga menjadi sejarah baru," kata Amran saat memberikan sambutan.

Oleh karena itu, menurut Amran, perolehan opini WTP ini adalah prestasi besar Kementan di era pemerintahan Jokowi-JK. Pasalnya di tahun 2006-2007 Kementan mendapatkan opini disclaimer atau tidak menyatakan pendapat. Kemudian pada 2008-2012 mendapatkan opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP), dan 2013-2014 mendapatkan opini WTP Dengan Paragraf Penjelasan (WTP-DPP). Status WDP kembali didapatkan Kementan di 2015.

“Kita teruskan tradisi kinerja laporan keuangan yang baik ini. Kementerian Pertanian bekerja dengan uang rakyat, sehingga anggaran benar-benar dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan petani dan pemenuhan pangan masyarakat secara luas,” tegasnya.

Amran menambahkan kembalinya Kementan meraih opini WTP ini berkat masih terjaganya komitmen dalam menindak tegas praktik atau tindakan korupsi di lingkup Kementan. Oleh karena itu, tak ada ruang bagi pihak internal Kementan maupun eksternal yang melakukan korupsi atau penyelewengan anggaran dalam bentuk apapun.

Faktanya, selama empat tahun terakhir, pihaknya telah melakukan mutasi-demosi pegawai sebanyak 1.479 pegawai, diberikan sanksi 844 pegawai dan bahkan ada yang dipecat karena melakukan penyelewengan atau korupsi. Bahkan berani mengundang KPK untuk berkantor di Kementan, memeriksa langsung tata-kelola yang di tengah dijalankan.

"Inilah bentuk nyata keseriusan bahwa penindakan praktik korupsi di Kementan benar-benar tidak diberikan ruangan dan tidak pandang bulu. Oleh karena itu, keberhasilan memerangi korupsi dan terlepas dari praktek-praktek KKN, Kementan tiga tahun berturut-turut mendapat status WTP,” bebernya.

Amran menambahkan, keberhasilan dalam pengelolaan keuangan ini pun sejalan dengan keberhasilan yang dicapai Kementan selama pemerintahan Jokowi-JK dalam membangun sektor pertanian. Misalnya, inflasi bahan pangan berhasil ditekan dari 10,57 persen pada 2014 menjadi 1,26 persen di 2017.

“Capaian lainnya ekspor komoditas pertanian hingga saat ini melonjak 26%, nilainya Rp1.700 triliun. Begitu PDB sektor pertanian naik 47%, total akumulasi nilainya Rp1.375 triliun atau separuh dari APBN,” ungkapnya.

Selanjutnya, mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), Nilai Tukar Petani (NTP) tahun 2018 mencapai 102.46, tertinggi selama lima tahun terakhir. NTP ini merupakan salah satu indikator untuk mengukur daya beli petani.

Selain peningkatan NTP, peningkatan kesejahteraan petani juga tercermin dari penurunan angka kemiskinan di pedesaan. Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2019 sebanyak 9,82% turun 0,30% dibanding September 2017 yang sebesar 10,12%. Jumlah penduduk miskin pada Maret 2018 sebanyak 25,95 juta orang. Jumlah ini turun 630.000 orang dibandingkan September 2017 yang sebesar 26,58 juta orang.

“Beberapa capaian nyata ini tentu menjadi bukti bahwa pengelolaan anggaran di Kementan benar-benar dimanfaatkan semestinya bahkan berhasil membawa prestasi dalam pembangunan sektor pertanian,” tandas Amran.(RO/OL-5)

Baca Juga

Antara/Basri Marzuki.

Pegadaian Sediakan Produk Bundling Investasi Emas dan Asuransi bagi Pengemudi Ojol

👤Ihfa Firdausya 🕔Sabtu 01 Oktober 2022, 17:44 WIB
PT Pegadaian bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Gojek memperkenalkan produk bundling investasi sekaligus asuransi bagi...
Dok.Ist

Bank Jago dan Goto Financial Edukasi Mitra GoFood Kelola Keuangan

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 01 Oktober 2022, 17:39 WIB
Kolaborasi aplikasi Jago dan GoBiz memungkinkan mitra usaha GoFood untuk melakukan berbagai hal seperti budgeting, pembayaran, serta...
MI/SUSANTO

Lima Faktor Pendorong Pelambatan Ekonomi Dunia Tahun Depan

👤 M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Sabtu 01 Oktober 2022, 17:28 WIB
BI memproyeksikan ekonomi dunia hanya akan tumbuh 2,9% di tahun depan. Angka itu jauh lebih rendah dari prakiraan pertumbuhan tahun ini di...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya