Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Jangan Takut Berinvestasi di Tahun Pemilu

Atalya Puspa
23/4/2019 16:15
Jangan Takut Berinvestasi di Tahun Pemilu
Pekerja melintasi layar monitor bursa saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.(ANTARA/Aditya Pradana Putra)

DI tengah tahun pemilihan umum (pemilu), para pelaku pasar mempersiapkan berbagai pertimbangan untuk melakukan aktivitas di pasar saham. Terlebih lagi, riak pemilu masih terus ada pascahari pemilihan tersebut.

Berkaitan dengan itu, Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan menyatakan pemilu sebenarnya bukanlah hal yang harus diwaspadai dalam melakukan aktivitas di pasar saham.

"Jadi sebetulnya dari pengalaman yang lalu, pemilu itu bukan suatu faktor untuk ditakuti. Jangan takut untuk terus berinvestasi," kata Katarina, Selasa (23/4).

Katarina menuturkan, jika dilihat pada tiga pemilu sebelumnya, cenderung pasar saham malah naik di tahun pemilu.

Di samping itu, pada nilai tukar rupiah sendiri, di pemilu 2004 dan 2015 nilai rupiah tertekan. Sementara di 2009 rupiah menguat.

Baca juga: Bank BTN Akuisisi Anak Perusahaan PT PNM

Karina mengatakan, jika dicermati lebih dalam, di 2004 dan 2005, harga minyak naik tinggi, sehingga memicu inflasi sangat tinggi, sampai 17% waktu itu.

Selain itu, di 2014, The Fed menghentikan quantitative easing. Dua faktor tersebut yang akhirnya berpengaruh pada nilai tukar rupiah.

"Tapi kondisi sangat berbeda dengan saat ini. Kalau 2004 dan 2005 inflasi tinggi, sekarang inflasi sangat rendah, di bawah 3%. Dan juga 2014 The Fed mengetatkan moneter, sekarang The Fed malah sangat akomodatif, malah menghentikan pengetatan moneter," tuturnya.

Untuk itu, Katarina menyebut, pemilu yang telah berlangsung dengan aman tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap nilai tukar rupiah maupun aktivitas di pasar saham.

Dirinya menilai, berivestasi di tahun pemilu bukanlah satu hal yang perlu diwaspadai.

"Apalagi kita melihat dengan berhentinya pengetatan moneter oleh The Fed, terbuka ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga. Jadi sebaiknya jangan takut, jangan khawatir, teruslah berinvestasi sesuai tujuan investasi dan profil risiko masing-masing," tukasnya.

Pada Selasa (23/4), rupiah dibuka di level 14.071 per dollar Amerika Serikat. Sementara IHSG dibuka naik 5,42 poin atau 0,08% ke posisi 6.420,16. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya