Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
Misi luar angkasa Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) yang diluncurkan tujuh tahun lalu, akhirnya kembali ke Bumi, pada Minggu (24/9) waktu setempat atau Senin WIB. Dalam misi kali ini, pesawat NASA membawa pulang sampel asteroid terbesar yang pernah dikumpulkan ke Bumi.
Para ilmuwan mengatakan sampel tersebut akan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang pembentukan tata surya kita dan bagaimana Bumi bisa dihuni.
“Saya benar-benar menangis,” kata penyelidik utama misi Osiris-Rex Dante Lauretta pada konferensi pers, ketika mereka mengetahui bahwa parasut utama kapsul telah terbuka dan mendarat mulus di sebuah gurun di Utah.
"Saat itulah saya tahu kami sudah sampai di rumah... Bagi saya ilmu pengetahuan yang sebenarnya baru saja dimulai."
“Perjalanan sejauh 3,86 miliar mil (6,21 miliar kilometer) ini menandai misi pengembalian sampel pertama Amerika Serikat, “ kata badan antariksa AS itu dalam sebuah postingan di X, yang sebelumnya bernama Twitter.
Kepala NASA Bill Nelson memuji misi tersebut dan mengatakan debu asteroid akan memberikan para ilmuwan pandangan sekilas yang luar biasa tentang awal mula tata surya kita.
Pendaratan terakhir wahana Osiris-Rex ketika memasuki atmosfer bumi sangatlah berbahaya, namun NASA berhasil melakukan pendaratan lunak pada pukul 8:52 pagi waktu setempat (1452 GMT), di Tempat Uji dan Pelatihan militer Utah.
Empat tahun setelah peluncurannya pada tahun 2016, wahana tersebut mendarat di asteroid Bennu dan mengumpulkan debu yang diperkirakan berjumlah sekitar sembilan ons (250 gram) dari permukaan berbatunya.
Bahkan jumlah kecil itu, kata NASA, akan membantu kita lebih memahami jenis asteroid yang dapat mengancam Bumi.
“Pengumpulan sampel tersebut benar-benar bersejarah,” kata ilmuwan NASA Amy Simon kepada AFP. “Ini akan menjadi sampel terbesar yang kami bawa sejak batuan bulan pada misi Apollo.”
Pesawat Osiris-Rex melepaskan kapsulnya pada Minggu pagi dari ketinggian lebih dari 67.000 mil.
Perjalanan pesawat ini menembus atmosfer hanya terjadi dalam 13 menit terakhir, saat kapsul tersebut meluncur ke bawah dengan kecepatan lebih dari 27.000 mil per jam, dengan suhu hingga 5.000 derajat Fahrenheit (2.760 derajat Celcius).
Gambar NASA menunjukkan kapsul seukuran ban itu tergeletak di tanah di gurun pasir, dan para ilmuwan mendekati perangkat tersebut.
Akhirnya mereka menyimpulkan bahwa kapsul tersebut tidak bocor, yang berarti segel kedap udara yang sangat penting tetap utuh, menghindari kontaminasi sampel dengan pasir gurun.
Tim kemudian mengangkat kapsul tersebut dengan helikopter ke “ruang steril” terdekat.
Sementara itu, wahana antariksa yang melakukan perjalanan luar angkasa menyalakan mesinnya dan kembali menjauhi Bumi. "Mereka sedang dalam perjalanan untuk ‘berkencan’ dengan asteroid lain,” kata NASA.
Pada Senin, sampel tersebut dikirim ke Johnson Space Center di Houston untuk studi tambahan, dan NASA berencana mengumumkan hasil pertamanya pada 11 Oktober.
Sekitar seperempat sampel akan segera digunakan dalam eksperimen, dan sejumlah kecil akan dikirim ke mitra misi lainnya yakni Jepang dan Kanada.
Namun sebagian besar dari sampel itu akan disimpan untuk generasi mendatang. “Sebuah harta untuk analisis ilmiah selama bertahun-tahun yang akan datang, untuk anak-anak dan cucu-cucu kita, dan orang-orang yang bahkan belum dilahirkan," ujar Lori Glaze, direktur NASA's Divisi Ilmu Planet. (AFP/M-3)
NASA telah membentuk Planetary Defense Coordination Office sejak 2016 untuk memantau objek-objek dekat Bumi (near-Earth objects/NEO).
BLUE Origin bersama NASA kini tengah mengembangkan sebuah misi ambisius yang dirancang untuk melindungi Bumi.
Mineral ini hanya dapat terbentuk akibat tekanan sangat tinggi seperti yang terjadi saat asteroid menghantam Bumi, sehingga menjadi bukti kuat bahwa Silverpit terbentuk akibat tumbukan.
NASA secara resmi telah menepis segala kemungkinan mengenai potensi hantaman asteroid 2024 YR4 terhadap Bulan pada tahun 2032 mendatang.
Asteroid yang diberi kode 2026 EG1 mencapai titik terdekatnya dengan Bumi pada pukul 23:27 EDT (03:27 GMT, 13 Maret).
Eksperimen luar angkasa yang dilakukan oleh NASA melalui misi Double Asteroid Redirection Test (DART) menghasilkan temuan penting.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved