Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITI dari Pusat Kesehatan Autisme Anak Atlanta dan dari Emory University School of Medicine, Amerika Serikat (AS) menemukan metode baru yang dapat dipakai untuk mendiagnosa autisme lebih cepat dan akurat. Caranya, melalui metode tes mata.
Penemuan yang dirilis pada Rabu (6/9), menunjukkan bahwa alat pelacak mata itu dapat membantu dokter mendiagnosis anak-anak berusia 16 bulan dengan gejala autisme. “Tetapi Ini bukan alat untuk menggantikan posisi dokter ahli,” kata Warren Jones penulis penelitian tersebut, dilansir Edition.cnn.com. Alat pelacak mata yang disebut Evaluasi EarliPoint itu telah dikembangkan atas persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS.
Cara kerja teknologi tersebut terbilang cukup sederhana yaitu dengan melacak pergerakan mata anak-anak yang disuguhkan tontonan video interaksi sosial anak-anak. Jones mengatakan bahwa seorang anak tanpa autisme mungkin memusatkan perhatiannya pada gerakan anak dalam video. Anak yang menjadi penotnotn juga mungkin akan tertarik memandang wajah anak dalam video yang tampak sedih atau tersenyum.
Namun, anak dengan gejala autis tidak akan fokus memperhatikan gerak atau ekspresi wajah subjek dalam video. “Kami menggunakan video adegan seperti itu untuk menguji apakah anak-anak memperhatikan informasi yang muncul dari kebiasaan anak-anak pada usia yang sama,” kata Jones.
Dalam hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal medis JAMA itu menggunakan responden 475 anak berusia 16 hingga 30 bulan yang diperiksa di enam klinik khusus di AS. Para peneliti menemukan bahwa, dibandingkan dengan diagnosis klinis ahli biasa, pengukuran pelacakan mata dan interaksi sosial anak-anak dengan video memiliki sensitivitas yang mampu mendiagnosa autisme secara akurat sebanyak 71%. Selain itu ada pula penilaian spesifisitas sebesar 80,7% yang mampu membantu dalam mendiagnosa autisme secara akurat.
Di antara anak-anak tersebut, 335 orang yang memiliki diagnosis autisme sesuai penilaian dokter yang menguji menggunakan alat pelacak mata ini. Hasil menunjukkan bahwa alat tersebut menunjukkan sensitivitas sebesar 78%, dan spesifisitas sebesar 85,4% sesuai dengan penilaian dokter.
Selama ini, tenaga medis mendiagnosis anak-anak yang menderita autisme berdasarkan riwayat perkembangan, perilaku, dan laporan orangtua mereka. Proses diagnosis dan evaluasi konvensional itu tak cukup efektif karena memakan waktu lama.
“Biasanya, cara kita mendiagnosa autisme adalah dengan menilai kesan kita terhadap anak tersebut,” kata Whitney Guthrie, psikolog klinis dan ilmuwan di Pusat Penelitian Autisme Rumah Sakit Anak Philadelphia yang tidak terlibat dalam studi baru tersebut, namun penelitiannya berfokus pada diagnosis dini autisme. (M-1)
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved