Minggu 01 Mei 2022, 08:30 WIB

Nyai Hj. Masriyah, Melahirkan Santri Pejuang Kesetaraan

Devi Harahap | Weekend
Nyai Hj. Masriyah, Melahirkan Santri Pejuang Kesetaraan

MI
Nyai Hj. Masriyah

 

MESKI mungkin belum sering terdengar, nyatanya para perempuan Indonesia juga mampu mengemban tugas sentral di pondok pesantren. Seperti yang telah dijalankan  perempuan bernama Nyai Hj. Masriyah yang mengasuh dan memimpin Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy di Cirebon.

 

Nyai Masiryah menggantikan posisi almarhum suaminya sejak 2007 sehingga tanggung jawab pesantren dengan 350 santri kala itu sepenuhnya dibebankan kepada dirinya. Hadir sebagai bintang tamu Kick Andy yang tayang 1 Mei 2022 di Metro TV, ia mnuturkan jika awalnya tidak sedikit orang yang memandangnya sebelah mata kemampuannya. Hal itu membuat hampir 50 persen santrinya keluar karena ketidakpercayaan keluarga, masyarakat, bahkan ulama-ulama untuk membuat seorang wanita menjadi pemimpin sebuah pesantren. 

 

“Saat mengambil alih peran kepemimpinan saya mendapatkan banyak tantangan luar biasa dari laki-laki, para wali santri, dan alumni-alumni karena perempuan ini tidak layak memimpin di pesantren yang masih patriarki. Hal seperti ini dianggap tidak biasa dan tidak lumrah, perempuan dianggap tidak layak untuk berdiri di depan banyak laki-laki.” jelasnya.

 

Saat dirinya merasa ditinggal oleh semua orang, Nyai tidak menyerah pada keadaan. Dengan keyakinannya pada pertolongan ALLAH SWT, ia bisa memimpin dan bahkan mengembangkan pesantren hingga kini membina 1.800 santri. Bangunan pesantren yang semula dari anyaman bambu sekarang pun sudah menjadi gedung-gedung dan bahkan memiliki perguruan tinggi.

 

Terlahir sebagai anak seorang kiyai yang tak memiliki keturunan laki-laki membuat pola pikir Masriyah berubah dalam memandang kesetaraan. “Orang tua saya selalu mendengungkan kepada saya bahwa kamu jangan kawin dulu sampai kamu pinter, sampai kamu menjadi ulama seperti seorang laki-laki,” kenangnya.

 

Perempuan yang sudah menulis 20 buku ini percaya bahwa wanita harus mandiri tidak bergantung kepada siapapun dan hanya menyandarkan hidupnya kepada Allah SWT.  Kesetaraan gender itu pula yang ia tanamkan di pesantrennya.  “Saya ingin mengubah cara berpikir perempuan dan saya ingin para perempuan berhijrah dari kebersandaran kepada makhluk (laki-laki) kepada kebersandaran kepada Allah SWT yang hakiki.”

 

Marsiyah berharap dari pesantren yang ia pemimpin akan lahir para laki-laki dan perempuan yang berpihak pada perempuan dalam berfatwa. “Ini sebenarnya ajaran yang tertinggi dalam Islam. Allah, Rasul, dan Islam mengharuskan seluruh manusia untuk bersandar kekuatan Allah, Allah tempat kita bersandar,” pungkasnya (M-1)

Baca Juga

Unsplash

Peningkatan Suhu Bumi Lebih Ganggu Tidur Perempuan dan Lansia

👤Putri Rosmalia 🕔Senin 23 Mei 2022, 15:35 WIB
Secara umum perempuan memiliki massa lemak yang lebih tinggi dari lelaki, sehingga membuat proses pendinginan lebih...
Dok. McDonald

Mengenal Lebih Dekat Sistem Peternakan Ayam McDonald's Indonesia

👤Humaniora 🕔Senin 23 Mei 2022, 07:10 WIB
Prosedur biosecurity meliputi sanitasi yang berarti menjaga kebersihan semua elemen, baik dari para pekerja hingga ekosistem kandang, juga...
unsplash.com/yns plt

Tidak hanya Fisik, Olahraga Panjat Dinding Ternyata juga baik bagi Kesehatan Mental

👤Devi Harahap 🕔Senin 23 Mei 2022, 06:59 WIB
Para ahli mengatakan olahraga ini menawarkan berbagai manfaat kesehatan fisik dan mental yang tidak selalu ditemukan pada olahraga...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya