Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Wahai pemuda. Wahai Garuda, menetaslah. Lahirkan lagi, Bapak bagi bangsa ini. Menetaslah seperti dulu para pemuda bertelur emas. Menetas Kau, dalam sumpah mereka!
Bait di atas merupakan penggalan dari puisi karya Sutardji Calzoum Bachri. Judulnya adalah 'Wahai Pemuda Mana Telurmu', yang dibacakan oleh penyair legendaris kelahiran Rengat, Indragiri Hulu, Riau itu di malam puncak perayaan HUT ke-53 Taman Ismail Marzuki (TIM), di halaman Teater Besar TIM, Jakarta, Rabu, (10/11).
Meski usianya sudah memasuki 80 tahun, akan tetapi suara pria yang akrab disapa Bang Tardji itu masih terdengar lantang di atas panggung. Tak hanya tampil dengan satu puisi, malam itu Bang Tardji juga membacakan karyanya yang berjudul 'Tanah Air Mata'.
Kehadiran Bang Tardji sebagai penampil kali ini seolah menjadi obat penawar rindu, terutama bagi mereka yang telah lama menantikan pertunjukan seni di masa pandemi. Suaranya yang serak-serak basah terdengar bersautan dengan tepuk tangan para penonton dan seniman yang tergabung dalam komunitas TIM.
Mengenang penampilan pertamanya di TIM, Bang Tardji mengaku masih ingat dengan masa-masa di tahun 1968. Kala itu ia tampil di hadapan Gubernur Ali Sadikin, atau lebih tepatnya ketika TIM diresmikan oleh tokoh yang akrab disapa Bang Ali tersebut.
Budayawan, Taufik Rahzen, dalam 'Amanat Kebudayaan HUT ke-53 TIM'-nya mengatakan bahwa sosok Bang Tardji boleh dibilang sebagai saksi hidup TIM. Kehadirannya telah memberikan warna tersendiri bagi TIM mengikuti pasang surut yang menyertainya. Maka dari itu pula, di saat yang sama, ia bersama seniman yang tergabung dalam komunitas TIM sepakat memberikan gelar 'Datuk Kebudayaan Indonesia' kepada Bang Tardji.
Pengukuhan 'Datuk Kebudyaan Indonesia' itu juga disertai pemberian lukisan realis sosok Bang Tardji Muda karya Perupa, Paul Hendro. Menurut Taufik, rencana pemberian gelar dan lukisan itu sebenarnya hendak dilakukan pada 24 Juni lalu. Namun, karena satu dan lain hal, pemberian dilakukan bertepatan dengan HUT ke-53 TIM.
"Beliau, sepanjang di TIM, itu dikenal sebagai Presiden Penyair Indonesia. Tetapi kehidupan yang diserahkan oleh beliau, diwakafkan selama ini, beliau sebenarnya adalah Datuk Kebudayaan Indonesia atau Bapak Kebudayaan Indonesia. Kalau ada Bapak Bangsa, tentu ada Bapak Budaya," ujar Taufik.
Taufik selanjutnya mengatakan, tiap tahunnya atau lebih tepatnya dalam setiap perayaan HUT TIM di masa yang akan datang, para seniman telah menyepakati adanya peringatan Datuk Kebudayaan Indonesia yakni Bang Tardji.
Turut mengenang sejarah berdirinya TIM, Taufik menceritakan bahwa tempat tersebut pada zaman itu sebenarnya ialah kebun binatang, yang berdiri di atas tanah pemberian Maestro Seni Rupa Indonesia, Raden Saleh.
Kebun binatang kemudian dikelola oleh pemerintah Hindia Belanda dan diteruskan oleh pemerintah Indonesia. Pada suatu ketika, Presiden Soekarno kemudian menjadikan tempat tersebut sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu pula, tempat yang pertama kali didirikan adalah gedung observatorium.
"Obeservatorium itu didirikan dan diresmikan tahun 1965. Dan pada saat itu mereka menginginkan, inilah pusat sebenarnya tentang pengetahuan, tentang peradaban Indonesia," tuturnya.
Selain pembacaan amanat kebudayaan oleh Taufik dan pembacaan puisi oleh Bang Tardji, perayaan HUT ke-53 TIM juga dimeriahkan dengan sejumlah acara lainnya. Beberapa diantaranya ialah monolog David Karo, tarian dari Cikini Art Stage (CAS), pemutaran film puisi 'Binatang Jalang Chairil Anwar' dari Sutradara Exan Zen, musik oleh Arafat Ensamble, Lokal Ambience dan RTJ Band, penampilan Jalie's Gimbs reagge, yang sebelumnya diawali dengan pemotongan tumpeng oleh seniman lintas generasi. (OL-12)
Dalam pandangan Gol A Gong sastra berfungsi sebagai ruang jeda dari banjir informasi digital yang dangkal.
SAYEMBARA Novel DKJ 2025 telah mengumumkan pemenangnya semalam, Rabu, (5/11) di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.
Kemendikdasmen melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) menegaskan komitmen negara terhadap pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa serta sastra.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), menggelar rangkaian kegiatan strategis dalam rangka penguatan literasi dan sastra, serta revitalisasi bahasa daerah di Jawa Tengah.
Aprinus mencontohkan, beberapa karya yang kandungan SARA, yakni pada novel Salah Asuhan yang pada draf awalnya disebut menyinggung ras Barat (Belanda).
Sastra sebagai suatu ekspresi seni berpeluang mempersoalkan berbagai peristiwa di dunia nyata, salah satunya adalah persoalan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved