Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
"Uang tidak bisa membeli kehidupan," kata musisi reggae Bob Marley kepada putranya Ziggy dari ranjang rumah sakit sebelum kematiannya pada 11 Mei 1981. Kini, setelah empat dekade wafatnya, selain harta, Marley, 36, mewariskan popularitas, perlawanan, dan semangat, tidak hanya bagi bangsanya tapi juga untuk semua yang mencintai kemanusiaan.
Dia tetap hidup mewaili suara-suara yang dirampas. Lagu-lagunya termasuk "One Love," "Redemption Song" dan "I Shot The Sheriff" , masih bertahan hingga kini dalam beragam versi dari blues, jazz, hingga rock.
Lagu-lagunya yang penuh tentang perdamaian dan perjuangan, harapan, dan ketidakpuasan, masih bergema secara global dan terutama di negara asalnya Jamaika. Negara kecil yang budayanya kaya itu, kini dipopulerkan oleh putranya, Ziggy di pentas-pentas internasional.
"Dalam banyak hal, Bob Marley adalah bintang paling terang kami; dia mencapai banyak hal dalam waktu singkat," kata Judy Mowatt, salah anggota backing vokal, grup band Marley, The Wailers.
Marley didiagnosis menderita melanoma lentiginous akral (infeksi yang lalu menyebabkan kanker) pada 1977. Virus itu pertama kali ditemukan di bawah kuku kakinya saat dia menderita cedera kala bermain sepak bola . Dia menolak rekomendasi dokter untuk mengamputasi jari kakinya.
Saat di New York pada 1980 untuk melakukan dua pertunjukan di Madison Square Garden, Marley pingsan saat jogging di Central Park. Dia dilarikan ke rumah sakit, di mana dokter menemukan kanker telah merambat ke otak, paru-paru, dan hatinya.
Marley tampil terakhir kalinya di Pittsburgh pada 23 September 1980. Tidak lama kemudian, dia menjalani pengobatan secara alternatif di Jerman selama berbulan-bulan.
Dalam perjalanan pulang ke Jamaika untuk menerima salah satu penghargaan tertinggi bangsanya, Order of Merit, kondisi Marley semakin memburuk. Dia mendarat di Miami untuk mencari perawatan darurat.
Seperti apa yang diukatakannya, ‘uang tidak bisa membeli kehidupan’, Marley pun akhirnya wafat.
Dia dimakamkan secara kenegaraan di Jamaika pada 21 Mei 1981 dan disemayamkan di sebuah kapel dekat tempat kelahirannya, dengan gitarnya.
Peringatan 40 tahun kematian Marley tahun ini sangat mengharukan, karena 2021 menandai kematian anggota terakhir Wailers yang asli, Bunny, bulan lalu.
"Ini adalah tahun pertama kami memperingati kepergian Marley, setelah anggota Wailer lainnya juga pergi. Peter (Tosh) wafat pada 1987, dan Bunny bertahan selama 40 tahun dan akhirnya wafat,” ujar Maxine Stowe, manajer lama Bunny Wailer.
The Wailers "sekarang bersatu kembali di alam lain," kata Stowe. (AFP/M-4)
Hari pertama DIGI Bandoeng Festive 2024 dihadiri lebih dari 1.200 penonton. Suguhan dari 4 stages itu diharapkan dapat terus mendorong majunya industri kreatif di Kota Bandung.
Acara itu akan diselengggarakan 21-22 Mei 2024 di The House Convention Hall, Pasir kaliki square, Kota Bandung.
Java Jazz Festival (JJF) 2024 akan menyelenggarakan pesta musik jazz ke-19 di JIEXpo Kemayoran, Jakarta, pada 24-26 Mei 2024.
JAKARTA International Java Jazz Festival resmi mengumumkan penyelenggaraan festival tahunan tersebut untuk edisi tahun 2024.
Mengusung tema 'Handarbeni Hangejazzi', Ngayogjazz ke-17 di Dusun Gancahan, Sleman, membuat ekonomi warga lokal Yogyakarta semakin menggeliat
Acara ini akan diselenggarakan pada 8-9 Juni 2023 di Entrance Park Kura Kura Bali, Jalan Kura Kura Bali Serangan, Denpasar.
Jimmy Cliff, seorang musisi dari Jamaika yang berkontribusi signifikan dalam memperkenalkan musik reggae ke dunia, telah berpulang di usia 81 tahun.
Citra satelit ungkap kehancuran akibat Badai Melissa yang menghantam Jamaika dengan kecepatan angin 298 km/jam, menewaskan 50 orang dan kerugian lebih dari US$50 miliar.
BADAI Melissa terus menelan korban di kawasan Karibia. Hingga Kamis (30/10), jumlah korban tewas mencapai sedikitnya 49 orang.
JAMAIKA kini berusaha bangkit dari kehancuran setelah diterjang Badai Melissa, badai terkuat yang melanda pulau itu dalam sejarah modern.
Badai Melissa kategori lima menghantam Jamaika dan Haiti, menewaskan puluhan orang sebelum bergerak ke Kuba dan Bahama dengan kekuatan angin hingga 185 km/jam.
Badai kategori lima Melissa dengan kecepatan angin 270 km/jam mendekati Jamaika.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved