Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
BIAYA dampak pemanasan global akan jauh lebih besar daripada ongkos pengurangan emisi gas rumah kaca dengan cepat. Demikian seruan lebih dari 700 ekonom dari seluruh dunia yang disampaikan Selasa (30/3).
Sebuah survei internasional menemukan hampir tiga perempat ekonom yang memberikan tanggapan percaya bahwa tindakan "segera dan drastis" diperlukan untuk membatasi dampak perubahan iklim. Mereka juga memperingatkan biaya kegagalan untuk mengurangi polusi karbon akan dengan cepat membengkak hingga mencapai triliunan dolar setiap tahun.
Hampir sembilan dari 10 (89%) ekonom mengatakan mereka percaya perubahan iklim akan memperburuk ketimpangan global dan mereka hampir sepakat dan percaya manfaat emisi nol-bersih pada pertengahan abad ini akan jauh lebih besar, daripada biaya mengatasi dampaknya.
"Orang-orang yang menghabiskan karier mereka mempelajari ekonomi sepakat bahwa perubahan iklim akan mahal, berpotensi sangat merugikan," kata Peter Howard, direktur ekonomi di Institute for Policy Integrity di NYU School of Law, yang melakukan survei tersebut.
Konsensus yang dicapai oleh responden survei itu menunjukkan dampak ekonomi yang diproyeksikan dari perubahan iklim akan mencapai US$1,7 triliun per tahun pada 2025 dan sekitar US$30 triliun per tahun pada 2075.
Dua pertiga ekonom yang disurvei setuju dengan gagasan bahwa manfaat mencapai emisi nol-bersih pada pertengahan abad, seperti yang telah dijanjikan akan dicapai oleh beberapa penghasil emisi besar, akan lebih besar daripada pengeluaran yang diperlukan untuk mencapainya.
Sebanyak 80% responden mengatakan tingkat kepedulian mereka terhadap iklim meningkat selama lima tahun terakhir. Alasannya karena mereka telah mengamati peristiwa cuaca ekstrem yang dikaitkan dengan perubahan iklim.
Penulis survei tersebut mengatakan mereka berharap temuan tersebut akan membantu memberi informasi kepada pembuat kebijakan ketika mereka harus mengeluarkan biaya untuk upaya mitigasi iklim di masa depan. (AFP/M-4)
Pemerintah dan pelaku usaha mendorong pembentukan Tim Percepatan Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Industri untuk merealisasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.
PERWAKILAN Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) sekaligus Secretary General of the International Economic Association Lili Yan Ing menegaskan target pertumbuhan ekonomi 2026 di angka 5,4% tidak bisa hanya mengandalkan konsumsi masyarakat.
KAMAR Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai bahwa tekanan terhadap kelompok kelas menengah bawah menjadi pekerjaan rumah (PR) terbesar khususnya bagi pemerintah dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.
Kerusakan padang lamun di pesisir Jawa dan sebagian Sumatra berpotensi menjadi salah satu sumber emisi karbon tersembunyi terbesar di Indonesia.
Taxco Solution, perusahaan konsultan profesional di bidang pajak, akuntansi, kepabeanan, dan hukum, resmi memperluas jangkauan layanannya dengan membuka Kantor Cabang Palembang.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan pertumbuhan ekonomi harus dibarengi pemerataan saat meresmikan 166 Sekolah Rakyat. Simak poin penting pidatonya.
PERINGATAN mengenai ancaman perubahan kiamat iklim kembali menguat seiring dengan ditemukannya fenomena geologi yang tidak biasa di Greenland.
Kawasan mangrove, yang berperan penting sebagai pelindung pantai, penyerap karbon, serta habitat keanekaragaman hayati, menjadi salah satu fokus rehabilitasi.
Sebagai hewan ektotermik, suhu lingkungan jadi penentu utama siklus hidup nyamuk. Karena itu perubahan iklim berdampak besar pada penyakit akibat gigitan nyamuk.
TAHUN 2024 tercatat sebagai salah satu tahun dengan kasus DBD akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tertinggi dalam sejarah global. Itu merupakan sinyal kuat dari dampak perubahan iklim,
KERUSAKAN ekosistem global dan perubahan iklim tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga memicu perubahan serius dalam hubungan antara manusia dan nyamuk.
Peneliti ciptakan alat 'Stomata In-Sight' untuk mengamati pori-pori daun saat bernapas. Teknologi ini diharapkan mampu menciptakan tanaman yang lebih hemat air.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved