Headline
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Kumpulan Berita DPR RI
PEKAN lalu, kawasan Kemang serta beberapa wilayah Jakarta dan sekitarnya tergenang. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut air yang menggenangi sebagian wilayah yang dipimpinnya itu karena intensitas hujan yang tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan curah hujan di Jakarta pada akhir pekan lalu itu mencapai 226 milimeter per hari. Lembaga pemantau cuaca itu menyebut, angka itu masuk kategori cuaca atau hujan ekstrem karena di atas 150 milimeter per hari.
Soal fakta itu saya sepakat dengan Anies dan juga BMKG. Pertanyaan selanjutnya, apa yang telah dan akan dilakukan ke depan? Apalagi, BMKG memperingatkan cuaca ekstrem semacam itu akan terus melanda berbagai wilayah di Indonesia hingga akhir Februari 2021 atau awal Maret 2021, termasuk Jakarta, kota yang sejak zaman kolonial hingga era milenial kerap banjir.
Ironisnya, meski berkali-kali kebanjiran, tidak lantas membuat kita jadi pintar atau ahli menangani persoalan tersebut. Padahal, bukankah pepatah mengatakan pengalaman ialah guru yang terbaik? Seperti halnya Jepang yang begitu sigap dalam menghadapi gempa, setelah negara itu kerap digoyang lindu berulang- ulang. Letak geografis Jakarta lebih rendah dari Bogor, itu fakta. Sebelum bermuara ke teluk Jakarta, air dari Kota Hujan ini, pasti melewati ibu kota tanpa perlu permisi. Begitu pun curah hujan (entah itu dengan intensitas, rendah, sedang, ataupun tinggi), kita tidak dapat mencegahnya.
Hal yang bisa kita lakukan ialah bersahabat dengan alam, bukan mengingkarinya. Penduduk Jepang yang kerap kali diguncang gempa tidak lantas berbondong-bondong hijrah atau mencari suaka ke negara lain. Mereka juga tidak pasrah, apalagi menuding kondisi alamnya sebagai biang kerok yang sering melahirkan malapetaka. Mereka justru melahirkan sejumlah pakar tsunami, kelautan, geologi, dan itu sebagai bagian dari strategi mereka bersahabat dengan alam.
Pada 18 Februari lalu, PBB telah merilis laporan Making Peace with Nature. Laporan itu menjadi cetak biru yang menawarkan ‘rencana perdamaian’ terintegrasi untuk menangani tiga keadaan darurat lingkungan yang saling terkait, yakni krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi, yang tidak dapat diselesaikan secara terpisah. “Eksploitasi kita terhadap alam telah membuat planet ini hancur,” kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam kata pengantar laporan Program Lingkungan PBB (UNEP) tersebut.
Ketika emisi yang menyebabkan perubahan iklim terus meningkat, hilangnya keanekaragaman hayati semakin cepat, dan pandemi baru muncul, solusi lingkungan yang dilakukan selama ini terbukti belum memadai. Sebagai jawabannya, laporan PBB itu merupakan cetak biru untuk segera menyelesaikan keadaan darurat yang terjadi di planet melalui sintesis berbagai kajian lingkungan global. Artinya, semua persoalan ini perlu dicarikan solusinya melalui ilmu pengetahuan.
Nah, kembali ke negara yang katanya gemah ripah loh jinawi ini, seberapa banyak kita mampu melahirkan sarjana geologi, pakar tsunami, atau ahli gempa, dan bandingkan misalnya dengan jumlah ahli hukum atau sarjana ekonomi? Bukan berarti kedua bidang itu (hukum dan ekonomi) tidak penting, melainkan menciptakan pakar geologi, vulkanologi, tsunami, kelautan, dan planologi atau tata kota, tidak kalah krusial, seperti halnya menciptakan seperangkat aturan/regulasi atau menghitung uang dan investasi. Itu kalau kita ingin bersahabat dengan alam.
Gempa magnitudo 7,6 mengguncang Neiafu, Tonga, dan memicu peringatan tsunami berbahaya. Otoritas meminta warga segera mengungsi ke tempat aman.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) gempa Sumba tersebut terjadi pada pukul 18.41 WIB.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,4 mengguncang wilayah 94 kilometer tenggara Kabupaten Simeulue pada Senin, 3 Maret 2026, pukul 11.56.45 WIB.
Gempa bumi tektonik yang terjadi pada Senin dini hari pukul 01.57.46 WITA di wilayah utara Sabah, Malaysia, dipastikan tidak berpotensi tsunami bagi Kalimantan Utara.
Tsunami dan megatsunami sering kali disalahpahami karena keduanya sama-sama melibatkan gelombang laut besar. Padahal, memiliki perbedaan yang sangat signifikan.
Ia menjelaskan bahwa gempabumi tektonik tersebut terjadi pada 22 Januari 2026 pukul 19.42 WIB berdasarkan hasil analisis parameter terkini.
Di tengah kemajuan teknologi, satu pertanyaan besar masih menghantui para ilmuwan, kapan dan di mana gempa besar berikutnya akan mengguncang?
Gempa dangkal M 4,9 guncang Konawe Kepulauan, Sultra, Kamis (26/3). Getaran terasa kuat hingga Kendari dan Konsel dipicu aktivitas Sesar Naik Tolo.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) gempa Sumba tersebut terjadi pada pukul 18.41 WIB.
DUA bangunan rumah warga di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dilaporkan rusak terdampak gempa 4,2 magnitudo, Minggu (15/3). Kedua bangunan itu berada di dua lokasi berbeda.
BMKG melaporkan gempa bumi tektonik di Laut Selatan Sukabumi, Jawa Barat hari ini 13 Maret 2026 dini hari pukul 02.18 WIB. berdasarkan BMKG gempa terkini itu tak berpotensi tsunami
Gempa bumi 5,4 magnitudo yang terjadi berpusat di Kota Sukabumi kedalaman 43 kilometer tidak berpotensi tsunami.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved