Minggu 14 Februari 2021, 05:00 WIB

Studi Pandemi

Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Weekend
Studi Pandemi

MI/Ebet
Adiyanto Wartawan Media Indonesia

 

TATKALA pandemi covid-19 merebak, sekitar Maret 2020, filsuf yang juga peneliti senior di Institut Sosiologi dan Filsafat, Universitas Ljubljana, Slovenia, Slavoj Zizek menerbitkan buku berjudul Pandemic, Covid-19 Shakes the World. Argumen utama yang ingin disampaikan Zizek dalam buku itu ialah kehadiran virus korona ‘memaksa’ perlunya menata ulang/merombak sistem kapitalis yang mendominasi dunia. Terlepas kita setuju atau tidak dengan pendapat tersebut, buku itu menarik dibaca dan merupakan kajian pertama dari perspektif filsafat terkait dengan covid-19.

Pandemi virus korona yang telah memengaruhi berbagai sektor kehidupan dan hingga kini belum terang benar asal-usulnya, memang tidak hanya penting dan menarik dikaji dari ilmu kesehatan. Masyarakat yang terkurung dan kesepian, bahkan depresi di rumah, misalnya, juga bisa menjadi ranah studi yang menarik bagi para mahasiswa psikologi. Begitu pun dalam perspektf ekonomi, dampak pagebluk yang membuat dunia bisnis babak belur dan bagaimana geliat perkembangan ekonomi digital, serta perubahan perilaku konsumen di tengah wabah ini, juga unik ditelaah. Begitu pun persoalan vaksin yang diperebutkan banyak negara dan bersinggungan dengan diskriminasi, dapat menjadi bahan kajian mahasiswa hubungan internasional.

Intinya, pandemi yang berlangsung hampir setahun ini merupakan ladang kajian yang tak akan kering untuk digali dari berbagai disiplin ilmu. Sayang, jika di masa pagebluk ini para pelajar, mahasiswa, atau bahkan dosen cuma sibuk bermain Tiktok atau bergunjing di media sosial, tanpa ada yang berusaha ‘memotret’-nya secara ilmiah. Kemenristek Dikti mengakui, angka penelitian di Indonesia masih rendah. Pada 2015, misalnya, tulisan para peneliti Indonesia yang dimuat di jurnal internasional hanya berjumlah 5.499, sedangkan Malaysia 25.530, dan Thailand 12.000. Kala itu, Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron Mukti (kini Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19) menyebut, banyak dosen dan mahasiswa justru lebih tertarik membaca media sosial ketimbang literatur ilmiah.

Minimnya dana riset atau penelitian yang kerap kali dijadikan alasan rendahnya kuantitas penelitian di negeri ini, menurut saya tidak bisa dijadikan alasan. Setidaknya, tumbuhkan dulu minat, kemauan, atau budaya meneliti dan itu bisa dimulai sejak dini di kalangan pelajar/mahasiswa. Ketimbang diceramahi secara monolog, lebih baik mereka dibiasakan membuat paper atau makalah. Jika rajin ‘mampir’ ke situs sekolah atau kampus di luar negeri, kita bisa melihat essay atau makalah para murid dan mahasiswa di sana. Bukan untuk disontek atau diplagiat, melainkan dari situ kita bisa mendapat gambaran bagaimana budaya menulis dibiasakan di kalangan pelajar/mahasiswa.

Pandemi yang telah memorakporandakan berbagai sektor kehidupan hampir setahun ini telah mengajarkan kita banyak hal. Tidak hanya pentingnya mencuci tangan dan menjaga kesehatan, tapi juga bagaimana menata ekonomi, budaya, serta pendidikan. Sayang jika kita tidak dapat memetik pelajaran darinya. Saya pribadi berharap ada sejumlah skripsi, tesis, disertasi, atau jurnal ilmiah di kampus-kampus yang membahas persoalan ini dari sudut mana pun sehingga wabah ini kelak tidak dikenang sebagai periode muram yang isinya cuma deretan angka kematian.

Baca Juga

123RF

Yang Masih Menjadi Ganjalan dalam Dunia Puisi Indonesia

👤Fathurrozak 🕔Selasa 26 Oktober 2021, 01:41 WIB
Penyair Joko Pinurbo dan Inggit Putria Marga akan melelang puisi tulisan tangan mereka untuk aksi...
Unsplash.com/Anupam Mahapatra

Ini Penyebab Kulit Kemerahan dan Gatal Usai Berolahraga

👤Nike Amelia Sari 🕔Senin 25 Oktober 2021, 06:11 WIB
Ketika kita berolahraga, jantung memompa darah dan oksigen terlalu banyak ke otot-otot yang sedang...
Dok KCCI

Kedubes Korsel Gelar Hanbok-Batik Fashion Show

👤Basuki Eka Purnama 🕔Minggu 24 Oktober 2021, 11:15 WIB
Tujuan acara itu adalah untuk mempromosikan pertukaran budaya Korea-Indonesia dengan memperkenalkan dan mengolaborasikan busana tradisional...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Bongkar Transaksi Narkoba Rp120 Triliun

Para anggota sindikat narkoba juga kerap memanfaatkan warga yang polos untuk membantu transaksi dari dalam ke luar negeri dan sebaliknya.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya