Senin 28 Desember 2020, 07:10 WIB

Rempah Ternyata Sudah Tiba di Mediterania Sejak Zaman Perunggu

Galih Agus Saputra | Weekend
Rempah Ternyata Sudah Tiba di Mediterania Sejak Zaman Perunggu

ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho?syaiful Arif
Penjual rempah di Kudus, Jawa Tengah. Rempah telah diperdagangkan di kawasan Mediterania lebih dari 3000 tahun lalu.

 

REMPAH-rempah dan buah-buahan dari Asia ternyata telah lama mencapai kawasan Mediterania. Bukti tersebutg diungkapkan  Philipp Stockhammer, arkeolog dari Ludwig-Maximilians-Universität, Munich (LMU), Jerman.

Philipp dan timnya mengungkapkan, beberapa abad silam pedagang di sebuah pasar di Megido, Levant, tidak hanya menjajakan gandum atau kurma tetapi juga sudah menyediakan minyak wijen. Masyarakat di sana juga menggunakan mangkuk berisi rempah-rempah berwarna kuning cerah. Ia bersama tim menganalisis sisa makanan di karang gigi, yang dari permukaannya dapat diketahui bahwa pada saat itu orang-orang di Megido sudah mengonsumsi kunyit, pisang, dan kedelai.

Penemuan Philipp ini menunjukkan perdagangan telah menghubungkan masyarakat dari jarak jauh sejak masa silam. Rempah-rempah seperti kunyit dan buah-buahan seperti pisang telah mencapai Mediterania lebih dari 3000 tahun lalu, atau jauh lebih awal dari perkiraan sebelumnya. 

"Dengan demikian rempah-rempah, buah-buahan, dan minyak dari Asia telah mencapai Mediterania beberapa abad lalu, dalam beberapa kasus bahkan ribuan tahun lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya. Ini adalah bukti langsung paling awal tentang kunyit, pisang, dan kedelai yang ditemukan di luar Asia selatan dan timur," terang Philipp, seperti dilansir dari Science Daily, Minggu, (27/12).

Menurut Philipp, wilayah Megido pada masa itu itu telah menjadi jembatan penting antara Mediterania, Asia, dan Mesir atau lebih tepatnya pada milenium ke-2 SM. Adapun proyek penelitiannya sendiri, ditujukan untuk mengetahui jenis masakan yang terdapat pada populasi setempat pada zaman perunggu hingga zaman besi awal.

Dalam kerjanya, Philipp dan tim menganalisis jejak sisa makanan, termasuk protein purba dan mikrofosil tumbuhan, yang tersimpan dalam kalkulus gigi manusia selama ribuan tahun. Secara teknis, Philipp menjelaskan partikel makanan kecil yang terperangkap dan ditemukan di Megido itulah yang sekarang dapat diakses untuk penelitian ilmiah.

"Ini memungkinkan kami menemukan jejak apa yang dimakan seseorang. Siapa pun yang tidak mempraktikkan kebersihan gigi dengan baik akan memberi tahu kami (para arkeolog) terkait apa yang manusia makan ribuan tahun lalu," tutur Philipp. (M-4)

Baca Juga

dok: Visicita Network

Dokumenter Start from Scratch Jadi Pembuka Festival Flavs 2022

👤Fathurrozak 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 15:51 WIB
Flavs Festival 2022 tahun ini akan berlangsung pada 10-11 September secara...
Dok. Instagram @infotitimangsa

Kembali Dipentaskan, Monolog Inggit Garnasih Lebih Segar dengan Konsep Musikal

👤Devi Harahap 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 15:15 WIB
Telah dipentaskan 13 kali, monolog Inggit Garnasih tertunda dua tahun ini akibat...
Dok. ZYNGA

Tiktok Uji Coba Fitur Bermain Gim

👤M-2 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 07:20 WIB
TIKTOK tengah menguji coba fitur terbaru mereka terkait dengan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya