Minggu 29 November 2020, 00:25 WIB

Dari Tegar ke Haru Biru

Riko Alfonso Asisten Redaktur Bahasa Media Indonesia | Weekend
Dari Tegar ke Haru Biru

Dok. Pribadi
Riko Alfonso Asisten Redaktur Bahasa Media Indonesia

FENOMENA kebahasaan sering muncul dalam aktivitas menulis, terutama di media sosial (medsos) atau di media berita daring. Fenomena itu bisa berupa salah kaprah dalam berbahasa atau bisa juga ide tentang istilah baru. Dari sanalah kadang wacana berkembang dalam semangat saling memperbaiki dan menambahkan gagasan. Dalam media berita daring, kesalahan berbahasa sering muncul akibat kurangnya swasunting dalam menyampaikan dan memperbarui berita.

Salah satu laman medsos yang sering saya jadikan tempat mencari fenomena kebahasaan ini ialah Facebook.

Turut berduka cita ya, kawan. Semoga almarhum diterima di sisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan dapat selalu tegar dan sabar. Aamiin.” Demikianlah isi tulisan belasungkawa yang diberikan kepada salah seorang teman saya yang saat itu sedang mendapat musibah ditinggal wafat saudaranya. Teman saya itu menyampaikan kabar duka tersebut di laman Facebook-nya dan langsung mendapat komentar belasungkawa dari semua teman dan kerabatnya di sana.

Sepintas tak ada masalah dalam tulisan belasungkawa tadi. Akan tetapi, saya tertarik dengan pemakaian diksi tegar dalam kalimat tadi. Menurut saya, kata tegar tidak tepat disematkan dalam kalimat itu. Mengapa?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi daring, ada empat arti dari kata ‘tegar’ ini. Dari empat arti tersebut, ada dua arti yang dibubuhi keterangan ‘kiasan’. Adapun untuk dua arti yang lain disebutkan sebagai:1) keras dan kering; 2) keras kaku; tidak dapat dilenturkan. Kata tegar sebagai kiasan mengandung arti:1) tidak dapat diubah (pendiriannya, pendapatnya); tidak mau menurut, 2) tabah.

Kata tabah menurut saya berbeda sekali dengan tegar. Dalam KBBI sendiri, tabah adalah ‘tetap dan kuat hati (dalam menghadapi bahaya dan sebagainya); berani’. Jadi alih-alih menggunakan kata tegar, lebih baik gunakan saja kata tabah dalam ungkapan belasungkawa tadi.

Kemudian, dalam media berita daring, pada awal Oktober, muncul berita mengenai ‘begal payudara’. Berita ini cukup banyak dibicarakan di beberapa media daring dengan pemakaian istilah yang sama, ‘begal payudara’. Menurut Wikipedia, begal payudara adalah sebuah tindak kejahatan yang dilakukan dengan cara menyentuh dan/atau meremas payudara perempuan, sering kali dilakukan sambil mengendarai sepeda motor seperti halnya begal. Tindakan ini telah dikabarkan sejak tahun 2015.

Istilah ini sebenarnya cukup menggelitik saya karena sejauh pengetahuan saya, begal itu bersinonim dengan penyamun atau perampok yang merampas barang milik orang lain. Dalam ‘begal payudara’, apanya yang dirampas? Apakah kata begal mengalami pergeseran makna, dari wilayah ‘merampas’ melebar ke ranah ‘ meremas dengan paksa’? Saya tak tahu. Namun, saya berasumsi, pemakaian diksi begal untuk kejahatan seperti ini akibat pelakunya beraksi dengan mengendarai sepeda motor, persis seperti begal pada umumnya.

Kesalahan pemahaman juga saya temukan kembali dalam sebuah media berita daring nasional. Pada Jumat, 27 November 2020, saya membaca berita tentang peluncuran buku karya wartawan senior media berita tersebut. Yang menjadi perhatian saya ialah pemakaian istilah haru biru dalam Judul beritanya, Haru Biru dalam Peluncuran Buku....

Dalam KBBI, haru biru berarti kerusuhan; keributan; kekacauan; huru-hara. Tentu saja berita tersebut jadi rancu karena salah mengartikan istilah haru biru sebagai ‘keharuan yang mendalam’.

Akan tetapi, masih dalam situs berita yang sama di hari yang sama, pemakaian istilah haru biru juga dipakai dalam berita tentang meninggalnya legenda sepak bola dunia, Diego Maradona. Dalam berita tersebut, ditulis judul Haru Biru Pemakaman Diego Maradona yang isinya menceritakan tentang prosesi pemakaman Diego Maradona yang berjalan haru biru karena adanya kericuhan antara suporter dan polisi setempat di tengah momen duka. Ini baru benar diksinya.

Baca Juga

Unsplash.com/Jez Timms

Ilmuwan Berhasil Membuat Daging di Laboratorium

👤Galih Agus Saputra 🕔Rabu 20 Januari 2021, 15:00 WIB
Penelitian tersebut dilakukan karena melihat tingginya permintaan daging di pasaran, sementara proses produksi daging di peternakan dirasa...
Unsplash/ Kevin Gent

Ini Bahayanya Pertengkaran Orangtua Saat Bercerai

👤Deden Muhammad Rojani 🕔Rabu 20 Januari 2021, 14:00 WIB
Anak-anak bisa mengalami kesehatan mental hingga berbulan...
Yasin AKGUL / AFP

Ini Alasan Bekerja di Kafe Bikin Kita Lebih Kreatif

👤Putri Rosmalia 🕔Rabu 20 Januari 2021, 13:53 WIB
Keramaian tingkat rendah hingga menengah dapat memacu kreativitas. Ketika bekerja di tengah suasana baru yang terus bergerak, kemampuan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya