Minggu 15 November 2020, 02:55 WIB

Bekerja dari Rumah

Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Weekend
Bekerja dari Rumah

MI/Ebet
Adiyanto Wartawan Media Indonesia

SEBELUM pandemi, insinyur perangkat lunak Allen Dantes mesti bolak-balik setiap hari dari apartemennya di Mar Vista ke markas ChowNow di Playa Vista, California, Amerika Serikat. Jarak antara kantor dan tempat tinggalnya sekitar 4 mil jauhnya. Namun, seiring merebaknya pandemi, pada Maret lalu, perusahaannya menginstruksikan karyawan boleh bekerja dari rumah hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Ini membuat Dantes, 27, dapat bekerja dari apartemen kecil dengan dua kamar tidur yang dia bagi bersama pacarnya. Beberapa pekan lalu, mereka membeli rumah dengan ruangan lebih luas di Sacramento seharga US$415 ribu. Mereka tetap bekerja, meski tak satu pun dari perusahaan mereka memiliki kantor di sana. Mereka cukup mengerjakannya di rumah.

Cerita tentang Dantes yang saya baca di situs Los Angeles Times pada 12 November lalu itu, mungkin dialami jutaan pekerja lainnya di dunia, termasuk Anda dan saya. Kebijakan bekerja dari rumah atau work from home terpaksa sementara dilakukan sejumlah perusahaan saat awal pandemi covid-19 merebak. Wabah yang hingga delapan bulan ini tidak jelas kapan berakhirnya, membuat sebagian perusahaan (terutama di Amerika Serikat), mulai memberikan pilihan bagi pegawai untuk bekerja dari mana pun mereka inginkan, secara permanen.

Facebook dan Twitter, beberapa di antaranya yang menawarkan opsi ini. Pada Mei lalu, CEO Facebook, Mark Zuckerberg, memperkirakan setengah dari seluruh karyawan mereka akan bekerja dari rumah dalam 5 hingga 10 tahun ke depan. “(Kapan) akan kembali membuka kantor, itu terserah kami,” ujar kepala sumber daya manusia Twitter, Jennifer Christie. “Kapan karyawan akan kembali ngantor, itu juga akan jadi hak mereka.”

Sebagai sebuah wacana, kebijakan ini menarik didiskusikan. Apakah istilah bekerja (harus di kantor/pabrik) yang selama ini jadi penggerak roda mesin kapitalisme, masih layak dipertahankan. Tentu saja tidak semua jenis usaha bisa dikerjakan karyawan dari rumah. Namun, dengan kehadiran teknologi, terutama internet, setidaknya ada jenis pekerjaan tertentu yang bisa dikerjakan (istilahnya di-remote) dari mana pun.

Ini tentu jadi tugas para pemimpin atau pemilik perusahaan untuk memikirkan kembali cara menjalankan bisnis, mengelola karyawan, dan membentuk budaya perusahaan. Kebijakan ini tentu ada plus-minusnya. Perusahaan memang telah berinvestasi mahal dengan menyewa atau mendirikan kantor, bahkan ada yang sampai bertingkat-tingkat dan mewah. Namun, mereka pun bisa berhemat biaya tagihan listrik, internet, air, telepon, dan sebagainya, jika sedikit karyawan yang masuk kantor. Ruangan pun barangkali bisa digunakan untuk hal lain yang menghasilkan benefit.

Dari sisi karyawan juga menguntungkan, terutama yang tinggal di kawasan pinggiran, seperti Tangerang, Cileungsi, Depok, atau Bekasi. Setidaknya mereka tidak perlu bermacet-macet ria dengan lalu-lintas Jakarta. Kata budayawan Seno Gumira Ajidarma, dari senja ke senja, waktu terlewat tak terasa di Jakarta. Masih untung jika yang telah dikerjakan bermakna dan sesuai apa yang diinginkan, tapi bagaimana jika sebaliknya karena keterpaksaan, sekadar demi menghidupi keluarga atau gengsi. Apa tidak sia-sia menghabiskan umur di jalan? Jika memungkinkan, seorang kawan saya malah kepikiran untuk pindah ke Yogyakarta dengan alasan biaya hidup lebih murah dan dekat dengan keluarga besar.

Di Amerika Serikat hal semacam ini sudah terjadi, seperti yang dilakukan Dantes dan pacarnya itu. Para pengusaha di ‘Negeri Paman Sam’ menilai, pekerja mereka bisa sama produktifnya meski bekerja di mana pun, selama dibantu alat komunikasi, teknologi, dan kesejahteraan yang lebih baik untuk mempermudah pekerjaan mereka.

Bagi majikan, aset (tenaga kerja) mereka jadi lebih bahagia, tingkat resistansi konflik di kantor pun berkurang, dan minimnya biaya perawatan gedung. Keuntungan terbesar lainnya ialah kini mereka bisa merekrut karyawan baru dari mana pun, yang di masa lalu tidak mungkin mereka pekerjakan lantaran terbentur domisili.

Nah, bagi Anda para CEO atau pemilik perusahaan, apakah tertarik dengan wacana semacam ini? Silakan direnungkan sembari menikmati akhir pekan. Salam sehat, jiwa raga.

Baca Juga

123RF

Tidak Apa Gemuk asal Sehat? Awas, itu hanya Mitos

👤Irana 🕔Sabtu 23 Januari 2021, 03:05 WIB
Orang-orang yang kelebihan berat badan, kendati bugar, memiliki kesehatan jantung lebih buruk ketimbang mereka yang berat badannya normal...
VALERIE MACON / AFP

Seorang Gadis di Italia Tewas Diduga Karena Bermain TikTok

👤Adiyanto 🕔Jumat 22 Januari 2021, 22:17 WIB
Pihak TikTok berjanji akan membantu pihak berwenang dalam penyelidikan atas kemungkinan "ajakan/hasutan untuk bunuh diri....
JUSTIN TALLIS / AFP

Terdampak Pandemi, Sejumlah Museum di Inggris Terancam Bangkrut

👤Adiyanto 🕔Jumat 22 Januari 2021, 21:39 WIB
Pada Juli, pemerintah meluncurkan dana pemulihan budaya sebesar 1,57 miliar poundsterling (US$2,15 miliar atau 1,76 miliar...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya