Rabu 11 November 2020, 12:00 WIB

Peneliti Temukan Tengkorak Sepupu Nenek Moyang Manusia Modern

Bagus Pradana | Weekend
Peneliti Temukan Tengkorak Sepupu Nenek Moyang Manusia Modern

MI/Panca Syurkani
Salah satu koleksi Museum Nasional, diorama manusia purba Homo Erectus di wilayah Sangiran, difoto di Museum Nasional.

PARA peneliti dari Universitas La Trobe Melbourne, Australia menemukan tengkorak berusia dua juta tahun di Afrika Selatan. Penemuan ini akan sangat membantu memberikan penjelasan lebih lanjut tentang evolusi manusia.

Tengkorak Paranthropus Robustus jantan tersebut merupakan "sepupu" dari Homo Erectus - spesies manusia purba yang dianggap sebagai nenek moyang langsung manusia modern.

Kedua spesies itu diperkirakan hidup dalam periode waktu yang sama, tetapi Paranthropus Robustus punah lebih awal.

Tim peneliti menggambarkan penemuan tengkorak itu sebagai hal yang langka.

"Sebagian besar rekaman fosil hanya berupa satu gigi di sana-sini sehingga sangat langka, kami  beruntung," tutur salah seorang peneliti, Dr. Angeline Leece seperti dilansir  bbc.com, Selasa (10/11).

Para peneliti menemukan pecahan tengkorak  tersebut di situs arkeologi Drimolen di utara Johannesburg, Afrika Selatan.

Fosil tersebut ditemukan pada lokasi penggalian yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat di mana tengkorak seorang anak Homo Erectus (yang berusia sama) ditemukan pada 2015.

Temuan ini telah dipublikasikan pada jurnal Nature, Ecology and Evolution pada Selasa lalu (10/11).

Diperkirakanterdapat tiga spesies hominin (makhluk mirip manusia) yang hidup dalam persaingan di Afrika Selatan pada paruh waktu yang sama, yaitu Australopithecus (spesies hominin yang terkenal karena penemuan fosil "Lucy" di Ethiopia), Paranthropus, dan Homo  Erectus- atau lebih dikenal sebagai spesies manusia.

Paranthropus Robustus memiliki gigi yang besar dan otak kecil, berbeda dengan Homo Erectus yang memiliki otak besar dan gigi kecil. Para peneliti menduga bentuk anatomi spesies ini dipengaruhi pola makan mereka yang terbiasa mengonsumsi tanaman keras, seperti umbi dan kulit kayu.

"Seiring waktu, anatomi gigi Paranthropus Robustus kemungkinan besar berevolusi untuk menghasilkan kekuatan yang lebih tinggi saat menggigit dan mengunyah makanan keras ," jelas Dr Leece.

Para ilmuwan menyatakan ada kemungkinan lingkungan lebih basah akibat perubahan iklim yang terjadi pada zaman itu telah mengurangi ketersediaan makanan bagi spesies tersebut, yang kemudian menjadi penyebab utama kepunahan mereka. (M-4)

Baca Juga

AFP/Robyn Beck

Aktor Jim Carrey Beri 'THR' Kru Film Sonic

👤Fathurrozak 🕔Senin 10 Mei 2021, 21:46 WIB
Sekuel film Sonic The Hedgehog ini dijadwalkan rilis pada April...
123RF/Andrea de Martin

Semangkuk Sayur Hijau Sehari Tekan Risiko Sakit Jantung

👤Nike Amelia Sari 🕔Senin 10 Mei 2021, 05:04 WIB
Risiko diklaim peneliti turun hingga 26...
MI/Ebet

Vaksin untuk Semua

👤Adiyanto Wartawan Media Indonesia 🕔Minggu 09 Mei 2021, 07:45 WIB
PANDEMI covid-19 menjadi bencana kemanusiaan dan ekonomi terbesar abad ini. Jutaan orang meregang nyawa karena patogen...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Transformasi Kota Tua

PEMERINTAH Provinsi DKI Jakarta bergandengan tangan bersama Kementerian BUMN dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya