Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH fenomena langka dan menarik di salah satu planet di tata surya, tertangkap melalui teleskop Badan Administrasi Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Fenomena itu terlihat di Saturnus atau yang selama ini dikenal sebagai planet bercincin.
Tak tampak seperti biasanya, planet terbesar kedua setelah Jupiter itu terlihat lebih merah. Pemandangan tersebut sebenarnya sudah diketahui sejak Sabtu (5/7) lalu, namun baru dirilis untuk publik pekan ini.
Pengamat tata surya di NASA mengatakan perubahan warna itu terjadi karena meningkatnya tingkat paparan sinar matahari. Hal tersebut lantas dianggap menjadi bukti Saturnus rupanya juga mengenal dinamika iklim, yang semula dingin menjadi lebih panas.
"Sungguh menakjubkan. Bahkan setelah beberapa tahun, kita bisa melihat perubahan musim di Saturnus," kata Ilmuwan NASA di Pusat Penerbangan Antariksa, Amy Simon seperti dilansir Dailymail.
Sebagaimana diketahui, saat ini NASA juga telah menaruh perhatian besar pada atmosfer Saturnus. Dari pengamatan mereka diketahui komponen utama planet ini terdiri dari hidrogen helium, amonia, hidrokarbon, metana, dan uap air, yang oleh karena itu lah Saturnus terlihat coklat kekuningan.
Meski begitu, hingga saat ini NASA belum dapat memecahkan misteri di balik cincin yang mengitari planet tersebut. Infomasi yang sudah diketahui saat ini masih berkutat pada potongan es besar dan kecil yang menyusun lingkaran.
Astronom dari University of California, Berkeley, Michael Wong menganggap usia cincin itu masih sangat muda. "Butiran-butiran kecil yang menghujani atmosfer Saturnus menunjukkan cincin-cincin itu hanya dapat bertahan selama 300 juta tahun lagi," pungkasnya.
Namun pendapat Michael itu hingga saat ini masih menjadi perdebatan. Beberapa argumen yang beredar di kalangan ilmuwan ada yang mengatakan cincin itu sudah berusia sekitar empat miliar tahun atau seumuran dengan planet utamanya, dan ada pula yang hampir sepakat dengan pendapat Michael. (M-4)
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Studi cincin pohon pinus di Spanyol mengungkap anomali cuaca paling ekstrem sejak 1500-an. Ketidakstabilan curah hujan kini mencapai titik kritis.
Analisis mendalam Avatar: Fire and Ash sebagai metafora krisis iklim. Menghubungkan 'Bangsa Abu' dengan data kebakaran hutan global 2025-2026.
Cuaca 2026 semakin tak menentu. Simak panduan medis menjaga imunitas tubuh, mencegah penyakit pancaroba, dan tips menghadapi gelombang panas (heatwave).
Lautan dunia menyerap panas ekstrem tahun 2025, memecahkan rekor selama sembilan tahun berturut-turut. Simak dampak mengerikannya bagi iklim global.
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
Melalui James Webb Space Telescope (JWST), para astronom berhasil mengonfirmasi galaksi terjauh yang pernah diamati: MoM-z14
Kedatangan K-RadCube diumumkan oleh Korea AeroSpace Administration (KASA) pada 13 Agustus lalu melalui platform media sosial X.
Perdebatan panjang para astronom mengenai apa yang sebenarnya tersembunyi di bawah lapisan awan tebal Jupiter akhirnya menemui titik terang.
Dari analisis terbaru, para peneliti melaporkan penemuan sebuah kandidat planet berbatu yang ukurannya sedikit lebih besar dari Bumi dan mengorbit sebuah bintang mirip Matahari.
Gagasan materi gelap pertama kali dikemukakan oleh astronom Fritz Zwicky pada 1933, lalu diperkuat pada 1970-an oleh Vera Rubin.
Astronom memprediksi hujan meteor dahsyat di Venus pada Juli mendatang. Berasal dari pecahan asteroid misterius, mungkinkah terlihat dari Bumi?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved