Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Sony Naikkan Harga PlayStation 5 Lagi, PS5 Pro Tembus Rp15 Juta

Nadhira Izzati A
28/3/2026 09:49
Sony Naikkan Harga PlayStation 5 Lagi, PS5 Pro Tembus Rp15 Juta
Sony resmi menaikkan harga PS5 untuk kedua kalinya. Lonjakan biaya produksi dan krisis global jadi penyebab, termasuk dampak industri chip dan konflik geopolitik.(Medcom)

SONY secara resmi mengumumkan akan menaikkan harga rangkaian konsol unggulan PlayStation 5 untuk kedua kalinya dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. Langkah ini diambil perusahaan dengan alasan adanya "tekanan dalam lanskap ekonomi global" yang kian tidak menentu.

Kenaikan harga ini dijadwalkan mulai berlaku pada 2 April mendatang. Di Amerika Serikat, PS5 edisi Disc akan melonjak dari US$549,99 (Rp9,34 juta) menjadi US$649,99 (Rp11,04 juta), sebuah kenaikan sebesar US$100 (Rp1,69 juta) sejak penyesuaian harga terakhir tahun lalu. Edisi Digital juga akan naik sebesar US$100 menjadi US$599,99 (Rp10,19 juta). 

Sementara itu, PS5 Pro sebagai versi paling bertenaga mendapatkan kenaikan tertinggi sebesar US$150 (Rp2,54 juta) menjadi US$899,99 (Rp15,29 juta). Perangkat pendukung seperti PlayStation Portal pun tidak luput dari penyesuaian, naik menjadi US$249,99 (Rp4,24 juta) dari harga semula US$199,99 (Rp3,39 juta).

"Kami tahu bahwa perubahan harga berdampak pada komunitas kami, dan setelah evaluasi yang cermat, kami menemukan bahwa ini adalah langkah yang diperlukan untuk memastikan kami dapat terus memberikan pengalaman bermain game yang inovatif dan berkualitas tinggi kepada para pemain di seluruh dunia." ungkap pihak Sony dalam unggahan blog resminya.

Keputusan sulit ini diambil saat Sony harus menghadapi lonjakan harga komponen memori yang belum pernah terjadi sebelumnya. Harganya melonjak drastis karena produsen memori saat ini lebih memprioritaskan stok mereka untuk memenuhi permintaan raksasa dari pusat data AI, sehingga pasokan untuk perangkat konsol menjadi sangat terbatas.

Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut menjadi pemicu utama. Serangan Iran terhadap fasilitas ekspor gas alam Qatar baru-baru ini telah memaksa fasilitas tersebut ditutup. Hal ini mengancam pasokan helium dunia, di mana menurut data Survei Geologi AS, Qatar menyuplai sepertiga dari total kebutuhan global. Penutupan ini diperkirakan akan memangkas ekspor helium sebesar 14%.

Meskipun helium sering dikenal awam sebagai gas pengisi balon, unsur ini sangat krusial dalam proses manufaktur semikonduktor. Kelangkaan gas ini secara langsung mendorong kenaikan biaya produksi chip secara global, yang pada akhirnya dibebankan kepada konsumen.   

Kenaikan harga ini diprediksi akan menghambat pertumbuhan pasar video game tahun ini. Sony melaporkan pada kuartal liburan Oktober-Desember yang lalu, penjualan PlayStation 5 telah turun 16% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 8 juta unit.

Di sisi lain, kompetitor utama mereka, Nintendo, sejauh ini masih memilih untuk mempertahankan harga stabil bagi konsol Switch 2 yang baru diluncurkan tahun lalu. Namun, posisi ini dinilai cukup sulit bagi Nintendo karena mereka harus menjaga momentum basis pengguna baru di tengah tekanan inflasi yang serupa.

Menanggapi situasi ini, eksekutif Sony menyatakan akan berupaya meredam dampak biaya produksi dengan berfokus pada monetisasi basis pengguna PS5 yang sudah ada serta memperluas pendapatan dari sektor perangkat lunak (game) dan layanan jaringan. 

Meski demikian, tantangan ke depan tetap besar mengingat potensi gelombang inflasi baru akibat konflik di Timur Tengah yang diprediksi akan terus memperparah harga komponen di masa mendatang. (CNBC/The Guardian/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya