Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

NASA Targetkan Bangun Hunian Permanen di Bulan Mulai 2027, Ilmuwan Ingatkan Risikonya

Thalatie K Yani
28/3/2026 09:01
NASA Targetkan Bangun Hunian Permanen di Bulan Mulai 2027, Ilmuwan Ingatkan Risikonya
Landasan peluncuran dan tempat tinggal yang dicetak 3D, seperti yang ditunjukkan dalam gambar konsep ini, bisa menjadi kemungkinan untuk kolonisasi bulan jangka panjang, kata NASA.(SEArch+)

FOKUS penjelajahan antariksa kini bergeser tajam. Setelah sekian lama terobsesi dengan Mars, NASA kini menetapkan Bulan sebagai prioritas utama untuk hunian manusia di masa depan. Administrator NASA, Jared Isaacman, secara resmi mengumumkan rencana ambisius untuk membangun "kehadiran manusia yang berkelanjutan" di Bulan, lengkap dengan pangkalan permanen yang konstruksinya ditargetkan mulai tahun 2027.

Langkah NASA ini menyusul pernyataan CEO SpaceX, Elon Musk, yang juga mulai mengalihkan fokus dari Mars demi membangun "kota bulan yang tumbuh mandiri" dalam satu dekade ke depan. Namun, di balik antusiasme tersebut, komunitas ilmiah memberikan peringatan keras: membangun rumah di Bulan tidak semudah mengemas barang dan meluncur.

Ancaman Debu Tajam dan Radiasi

Caitlin Ahrens, peneliti dari University of Maryland dan NASA’s Goddard Space Flight Center, menekankan bahwa lingkungan Bulan sangat ekstrem. Salah satu ancaman terbesar adalah debu bulan yang berbeda jauh dengan debu di Bumi. Tanpa adanya angin dan air untuk mengikisnya, debu Bulan berbentuk seperti pecahan kaca yang sangat tajam.

"Kita berbicara tentang pecahan kecil seukuran serbuk sari yang sangat, sangat tajam di sini," ujar Ahrens. Debu ini juga mudah bermuatan listrik, sehingga dapat menempel pada apa pun, menyumbat saluran udara, merusak baju luar angkasa, hingga membuat panel surya kepanasan.

Selain debu, ancaman radiasi kosmik menjadi momok bagi kesehatan jangka panjang. Tanpa atmosfer dan pelindung magnetik seperti Bumi, penghuni Bulan akan terus-menerus terpapar partikel radioaktif. Dr. Emmanuel Urquieta, peneliti kedokteran kedirgantaraan, menyebutkan efek kesehatan seperti kanker mungkin baru terlihat beberapa dekade kemudian. "Setiap orang yang pergi ke luar angkasa... mutlak akan menjadi subjek uji coba," tegas Urquieta.

Masalah Gravitasi dan Kesiapan Data

Tantangan fisik tidak berhenti di situ. Gravitasi Bulan yang hanya seperenam dari Bumi dapat menyebabkan otot dan tulang menyusut drastis. Selain itu, kurangnya gravitasi dapat mengacaukan distribusi cairan tubuh, yang berisiko menyebabkan penggumpalan darah fatal di leher (jugular vein thrombosis) atau pembengkakan mata.

Hingga saat ini, para ilmuwan bahkan belum mengambil sampel fisik es di Bulan, sumber daya yang sangat diandalkan untuk air dan bahan bakar roket. Ahrens merasa garis waktu yang diajukan Isaacman dan Musk terlalu terburu-buru bagi dunia sains.

"Saya pikir kita belum cukup siap. Satu dekade mungkin tampak jauh bagi sebagian orang. Bagi seorang ilmuwan, itu hanyalah sekejap mata," pungkas Ahrens.

Meskipun penuh tantangan, NASA tetap optimis misi Artemis mendatang akan menjadi kunci untuk mengumpulkan data penting sebelum manusia benar-benar menetap di satelit alami Bumi tersebut. (Live Science/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya