Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
TIM paleontolog internasional melaporkan penemuan spesies dinosaurus baru di kawasan Gurun Sahara, Afrika Utara, memperkaya daftar fauna purba yang pernah menghuni wilayah tersebut sekitar 95 hingga 100 juta tahun lalu pada periode Kapur Akhir. Fosil ditemukan dalam formasi batuan sedimen yang sebelumnya juga menghasilkan temuan reptil raksasa dan predator besar dari ekosistem sungai purba.
Penelitian ini melibatkan ilmuwan dari sejumlah institusi di Afrika dan Eropa yang melakukan ekskavasi sistematis di lapisan batuan Kapur di wilayah yang kini menjadi bagian dari Sahara. Analisis morfologi menunjukkan dinosaurus tersebut memiliki kombinasi ciri unik pada struktur tengkorak, tulang belakang, dan anggota gerak, sehingga diklasifikasikan sebagai genus dan spesies baru.
Berdasarkan rekonstruksi awal, dinosaurus ini diperkirakan memiliki panjang tubuh sekitar 6–8 meter dengan adaptasi khusus pada gigi dan rahang, mengindikasikan pola makan tertentu, baik sebagai predator semi-akuatik maupun herbivor dengan kebiasaan makan spesifik. Penanggalan radiometrik dan korelasi stratigrafi menguatkan usia fosil pada rentang Kapur Tengah hingga Akhir.
Wilayah Sahara, khususnya Cekungan Kem Kem di Maroko dan formasi batuan di Mesir, dikenal sebagai salah satu hotspot paleontologi dunia. Di kawasan ini sebelumnya ditemukan spesies terkenal seperti Spinosaurus aegyptiacus dan Carcharodontosaurus saharicus, yang menunjukkan bahwa Afrika Utara pernah menjadi ekosistem yang sangat kaya dan kompleks.
Penemuan terbaru ini memperkuat hipotesis bahwa Afrika pada periode Kapur merupakan pusat evolusi dinosaurus yang beragam, dengan jaringan sungai besar dan dataran banjir yang mendukung populasi reptil raksasa. Selain itu, temuan ini juga membantu ilmuwan memahami dinamika benua Gondwana sebelum terpisah sepenuhnya menjadi Afrika dan Amerika Selatan.
Para peneliti menekankan pentingnya konservasi situs fosil di kawasan Sahara, mengingat aktivitas penambangan dan perdagangan fosil ilegal yang dapat menghilangkan konteks ilmiah penting. Studi lanjutan direncanakan untuk melakukan pemindaian CT dan analisis histologi tulang guna mengungkap pola pertumbuhan serta posisi filogenetik dinosaurus baru tersebut dalam pohon evolusi.
Penemuan ini tidak hanya menambah satu nama baru dalam katalog dinosaurus dunia, tetapi juga memperluas pemahaman tentang bagaimana kehidupan purba beradaptasi dengan lingkungan ekstrem jutaan tahun sebelum Sahara menjadi gurun kering seperti sekarang.
Sumber: Cretaceous Research, Journal of African Earth Sciences, Natural History Museum, The Journal of Vertebrate Paleontology
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved