Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM minggu pertama Februari 2026, para ilmuwan antariksa mencatat fenomena luar biasa di permukaan Matahari. Sebanyak enam ledakan energi besar terjadi secara beruntun dalam waktu kurang dari 96 jam. Peristiwa ini menarik perhatian komunitas astronomi karena intensitas dan kerapatan aktivitasnya yang jarang terjadi.
Ledakan-lebakan ini terjadi di sebuah wilayah aktif Matahari yang dikenal sebagai AR 14098. Wilayah tersebut mulai tampak jelas dari sisi Matahari yang menghadap Bumi pada akhir Januari lalu.
Dalam kurun empat hari pertama bulan Februari, wilayah ini memicu enam letupan energi kuat yang termasuk dalam kelas X, kategori paling besar dalam pengukuran flare Matahari. Ledakan pertama tercatat pada 1 Februari 2026 dengan kekuatan X8.1, diikuti oleh serangkaian ledakan lainnya sepanjang 2 hingga 4 Februari.
Para ilmuwan menggunakan data dari Solar Dynamics Observatory (SDO) milik National Aeronautics and Space Administration (NASA) untuk merekam citra ultraviolet ekstrem dari setiap ledakan. Citra-citra ini memperlihatkan kilatan terang di permukaan Matahari yang merupakan manifestasi radiasi intens yang dilepaskan selama flare terjadi. Data ini menjadi bahan penting bagi para peneliti untuk memahami dinamika medan magnetik Matahari yang berubah secara dramatis sebelum melepaskan sejumlah besar energi.
Kejadian ini menunjukkan meskipun puncak aktivitas Matahari dalam siklus 11 tahunnya secara resmi telah lewat beberapa waktu, aktivitas magnetik di bintang kita masih sangat tinggi dan mampu menghasilkan letupan energi besar secara cepat dan berulang. Hal ini penting untuk dipelajari karena aktivitas seperti ini berkaitan erat dengan fenomena cuaca antariksa, yang dapat memengaruhi berbagai sistem di orbit Bumi, termasuk satelit dan teknologi komunikasi jika radiasi mengarah ke Bumi.
Para ilmuwan menekankan fenomena ini bukan hanya menarik secara ilmiah, tetapi juga menjadi pengingat bahwa Matahari terus menunjukkan dinamika yang kompleks dan kadang tak terduga. Aktivitas magnetik yang kuat seperti ini dapat memicu gangguan dalam lapisan ionosfer Bumi, berpotensi berdampak pada teknologi navigasi dan sistem komunikasi. Oleh karena itu, memantau flare Matahari secara terus-menerus tetap menjadi prioritas dalam riset antariksa modern. (NASA/Daily Galaxy/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved