Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
Nilai streamer virtual terletak pada kemampuannya menjadi entitas komunikasi yang dapat dikelola, bukan semata-mata seberapa mirip dengan manusia.
“Streamer virtual bukan sekadar avatar digital. Ia sistem komunikasi yang dapat dikontrol secara penuh, mulai dari tone suara, ritme publikasi, hingga adaptasi lintas bahasa dan platform. Dengan sistem terstruktur, merek tidak lagi bergantung pada momentum sesaat, tetapi membangun kehadiran konsisten dan terukur,” ujar ahli operasional Otto Media Grup Danko, di Jakarta, Minggu (15/2/2026).
Dalam praktiknya, ia melanjutkan, streamer virtual lebih mirip proyek konten jangka panjang daripada tampilan teknologi sekali pakai. Otto Media membagi pekerjaannya jadi beberapa tahap yaitu penentuan strategi, penetapan karakter, produksi visual, template konten, sistem skrip, manajemen rilis, dan pembaruan versi, untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan.
"Pendekatan ini dirancang agar tiap karakter virtual memiliki fondasi naratif dan operasional yang jelas, bukan hanya representasi visual," kata dia.
Ia menjelaskan meskipun bukan solusi dengan biaya rendah, streamer virtual membutuhkan produksi konten stabil dan dukungan teknis berkelanjutan, termasuk pembaruan aset visual, pencahayaan, pengayaan ekspresi, serta adaptasi untuk berbagai platform.
"Dibandingkan dengan manusia, streamer virtual mengurangi risiko ketidakpastian terkait jadwal dan opini publik, namun tetap memerlukan perawatan dunia karakter dan konsistensi narasi dalam jangka panjang," imbuhnya.
Otto Media, kata dia, menegaskan streamer virtual harus melengkapi kreator manusia dalam menangani ketegangan langsung dan pengalaman nyata, serta menangani ekspresi yang stabil dan cakupan yang sering.
"Tujuan utama kemampuan ini untuk melengkapi kekurangan yang sering terabaikan oleh merek, yaitu kesinambungan. Dengan ritme platform yang cepat dan perhatian pengguna yang terbagi, serta anggaran lebih mengutamakan pengiriman terkontrol, streamer virtual jadi wajah kedua merek," ujarnya.
Ia menambahkan dalam skenario frekuensi tinggi seperti perkenalan produk, peluncuran acara, sesi siaran langsung, penjelasan FAQ, dan konten multibahasa, mereka dapat bertugas menyuarakan merek secara stabil serta membawa merek dalam sistem konten yang dapat beroperasi berkelanjutan.
Untuk itu, tambah Danko, Otto Media Grup baru-baru ini memperkenalkan penyempurnaan kemampuan operasional konten streamer virtual dengan fokus pada jangka panjang, standarisasi, dan keberlanjutan untuk menghadapi konten dengan frekuensi tinggi.
"Solusi ini bertujuan membantu merek mempertahankan ekspresi dan citra yang konsisten pada platform konten 24/7, serta mengurangi risiko gangguan komunikasi akibat jadwal artis, biaya, dan fluktuasi opini publik," paparnya.
Ini penting di tengah tren media sosial dan video pendek yang kini memasuki pembaruan gulir 24 jam, sehingga kompetisi merek bergeser dari puncak eksposur satu kampanye jadi daya tahan untuk tetap online secara berkelanjutan.
"Banyak tim pertumbuhan menghadapi masalah serupa, setelah periode eksposur yang intens, jendela konten tertutup cepat, dan suara merek tenggelam dalam topik baru. Gangguan ini, meskipun bukan kegagalan, lebih berbahaya karena memutus rantai ingatan pengguna," tutupnya. (H-2)
Program studi Media dan Komunikasi dirancang agar lulusannya dapat mengelola komunikasi krisis dengan tiga tahapan krisis yakni pra-krisis, saat krisis dan pasca-krisis.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved