Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Fokus ke Waralaba Raksasa, Ubisoft Batalkan Remake Prince of Persia dan Tutup Dua Studio

Basuki Eka Purnama
23/1/2026 05:59
Fokus ke Waralaba Raksasa, Ubisoft Batalkan Remake Prince of Persia dan Tutup Dua Studio
Gim Prince of Persia(Dok Ubisoft)

RAKSASA pengembang gim asal Prancis, Ubisoft, resmi mengumumkan langkah drastis berupa pembatalan enam proyek gim, termasuk proyek yang sangat dinantikan, Prince of Persia: The Sands of Time Remake. Langkah ini diambil sebagai bagian dari "reset besar-besaran" untuk mengembalikan stabilitas operasional perusahaan.

Selain pembatalan proyek, Ubisoft juga menutup dua studio internasional dan menunda peluncuran tujuh judul gim lainnya. CEO Ubisoft, Yves Guillemot, menegaskan bahwa keputusan pahit ini diambil demi keberlangsungan jangka panjang perusahaan.

"Meski keputusan ini sulit, hal ini diperlukan agar kami dapat membangun organisasi yang lebih fokus, efisien, dan berkelanjutan dalam jangka panjang," ujar Guillemot. "Langkah-langkah ini menandai titik balik menentukan bagi Ubisoft dan mencerminkan tekad kami untuk menghadapi tantangan secara langsung demi membentuk kembali masa depan grup."

Dampak Finansial dan Operasional

Pengumuman ini memicu reaksi negatif di pasar modal, dengan nilai saham Ubisoft anjlok hingga 33% pada Kamis (22/10 pagi. 

Keputusan untuk membatalkan Sands of Time Remake menjadi sorotan utama, mengingat tren industri saat ini yang tengah menggandrungi versi remake dan remaster sukses seperti Super Mario Galaxy dan Metal Gear Solid 3.

Dari enam gim yang dibatalkan, empat di antaranya merupakan judul yang belum diumumkan ke publik—termasuk tiga kekayaan intelektual (IP) baru dan satu gim seluler. 

Akibat perampingan ini, studio Ubisoft di Stockholm (Swedia) dan Halifax (Kanada) resmi ditutup. Penutupan kantor Halifax terjadi hanya berselang seminggu setelah staf di sana membentuk serikat pekerja.

Strategi Billionaire Brands

Analis industri dari Piers Harding-Rolls menyebutkan bahwa strategi ini merupakan upaya Ubisoft untuk memitigasi risiko. Menurutnya, berinvestasi pada waralaba besar yang sudah mapan jauh lebih aman dibandingkan meluncurkan merek baru di tengah biaya pengembangan yang terus meroket.

Guillemot mengakui bahwa industri gim kelas berat (Triple-A) saat ini menjadi sangat selektif dan kompetitif. 

"Di satu sisi, industri Triple-A terus menjadi lebih selektif dan kompetitif dengan meningkatnya biaya pengembangan serta tantangan besar dalam membangun sebuah brand," ungkapnya.

Ke depannya, Ubisoft akan memusatkan sumber dayanya pada dua model bisnis utama:

  1. Gim Petualangan Open-World: Eksplorasi dunia luas yang menjadi ciri khas mereka.
  2. Live Service Games: Gim yang menyediakan konten berkelanjutan dengan sistem pembayaran rutin dari pemain.

Melalui Vantage Studios, entitas yang didukung investasi sebesar €1,25 miliar dari Tencent, Ubisoft berambisi menyulap merek Assassin’s Creed, Far Cry, dan Rainbow Six menjadi "merek miliarder tahunan" (annual billionaire brands) yang konsisten menghasilkan keuntungan besar. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya