Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
MERKURIUS, planet terdekat dari Matahari, terus menjadi objek kajian penting dalam astronomi karena sifat-sifatnya yang dinilai tidak biasa. Meski berukuran kecil, planet ini justru menyimpan berbagai keunikan yang bertentangan dengan teori umum pembentukan planet berbatu.
Melansir dari laman Mix Vale, inti logam Merkurius mencakup sekitar 85% dari total jari-jarinya, menjadikannya planet dengan kepadatan tertinggi kedua di Tata Surya setelah Bumi. Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan mengenai, bagaimana cara Merkurius mampu mempertahankan inti besi rakasasanya itu di lingkungan ekstrem yang dekat dengan Matahari.
Merkurius mengorbit Matahari pada jarak sekitar 60 juta kilometer. Suhu permukaannya sangat kontras, mencapai sekitar 430 derajat Celsius pada siang hari dan turun hingga minus 180 derajat Celsius pada malam hari. Perbedaan suhu yang ekstrem ini menjadikan Merkurius sebagai salah satu planet paling keras di Tata Surya.
Permukaan Merkurius tampak gelap karena hanya memantulkan sedikit cahaya Matahari, yang diduga disebabkan lapisan grafit. Planet ini juga dipenuhi kawah-kawah besar, beberapa di antaranya menyimpan es air yang bertahan secara permanen di wilayah kutub karena tidak pernah tersentuh sinar Matahari langsung.
Jejak aliran lava purba menunjukkan Merkurius pernah mengalami aktivitas vulkanik hebat sekitar 3,7 miliar tahun lalu. Seiring pendinginan internal, planet ini menyusut secara perlahan dan membentuk tebing-tebing curam raksasa yang kini terlihat jelas di permukaannya.
Salah satu keanehan terbesar Merkurius adalah keberadaan unsur volatil seperti kalium, torium radioaktif, dan klorin. Unsur-unsur ini seharusnya menguap pada fase awal pembentukan planet akibat panas Matahari yang intens.
Namun, data dari misi Mariner 10 dan MESSENGER membuktikan unsur volatil tersebut justru masih melimpah. Hal ini memunculkan dugaan Merkurius terbentuk dari material yang berasal dari wilayah lebih dingin di piringan protoplanet, atau menerima pasokan tambahan dari komet di masa lalu.
Para ilmuwan mengajukan beberapa teori untuk menjelaskan komposisi ekstrem Merkurius. Salah satu hipotesis utama menyebutkan bahwa planet ini pernah mengalami tumbukan besar pada sekitar 10 juta tahun pertama Tata Surya terbentuk. Dalam skenario tersebut, sebuah protoplanet seukuran Mars menabrak Merkurius secara miring dan mengelupas sebagian besar mantel berbatu, menyisakan inti besi yang lebih banyak.
Menariknya, planet mirip Merkurius dengan kepadatan tinggi dan kandungan besi besar, yang dikenal sebagai super-Merkurius, justru cukup umum di luar Tata Surya. Diperkirakan sekitar 10 hingga 20 persen planet ekstrasurya memiliki karakteristik serupa. (Mix Vale/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved