Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

7 Masalah Utama Ponsel Lipat yang Masih Jadi PR Produsen

 Gana Buana
01/1/2026 15:51
7 Masalah Utama Ponsel Lipat yang Masih Jadi PR Produsen
Masalah smarphone lipat yang masih jd PR.(VOI)

PONSEL lipat atau foldable smartphone digadang-gadang sebagai masa depan industri smartphone. Desain inovatif dengan layar fleksibel menawarkan pengalaman berbeda dibanding ponsel konvensional.

Namun, di balik kemewahan dan teknologi canggihnya, ponsel lipat masih menghadapi sejumlah masalah besar yang membuatnya belum sepenuhnya diterima sebagai perangkat utama oleh masyarakat luas.

Berikut adalah rangkuman masalah terbesar ponsel lipat saat ini yang masih menjadi perhatian konsumen dan produsen.

1. Harga Ponsel Lipat Masih Sangat Mahal

Masalah utama ponsel lipat adalah harga yang tinggi. Sebagian besar ponsel lipat dipasarkan di segmen premium dengan harga jauh di atas smartphone flagship biasa.

Dengan harga yang bisa mencapai dua kali lipat ponsel konvensional, banyak konsumen menilai nilai manfaat (value for money) ponsel lipat belum sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan.

2. Daya Tahan Baterai Belum Optimal

Layar lipat berukuran besar membutuhkan konsumsi daya yang tinggi. Sementara itu, desain tipis ponsel lipat membatasi ruang untuk baterai berkapasitas besar.

Akibatnya, daya tahan baterai ponsel lipat sering kali kalah dibanding smartphone non-lipat, terutama saat digunakan untuk multitasking atau konsumsi konten dalam waktu lama.

3. Ketahanan dan Durabilitas Masih Diragukan

Meski teknologi engsel terus berkembang, ponsel lipat tetap memiliki lebih banyak komponen bergerak dibanding ponsel biasa. Hal ini meningkatkan risiko kerusakan, seperti:

  • Layar bagian dalam yang mudah tergores
  • Debu masuk ke mekanisme engsel
  • Lipatan layar yang terlihat seiring pemakaian

Kondisi ini membuat banyak pengguna masih meragukan ketahanan ponsel lipat untuk penggunaan jangka panjang.

4. Biaya Perbaikan Sangat Mahal

Jika terjadi kerusakan, khususnya pada layar lipat atau engsel, biaya servis ponsel lipat bisa sangat tinggi. Bahkan, dalam beberapa kasus, biaya perbaikan hampir setara dengan membeli ponsel baru.

Hal ini membuat total biaya kepemilikan (total cost of ownership) ponsel lipat menjadi jauh lebih mahal dibanding smartphone konvensional.

5. Kamera Tidak Selalu Lebih Unggul

Meskipun harganya premium, kualitas kamera ponsel lipat sering kali tidak lebih baik dibanding flagship non-lipat. Keterbatasan ruang internal membuat produsen sulit menanamkan sensor kamera besar dan modul canggih.

Akibatnya, sebagian konsumen merasa ponsel lipat belum unggul di aspek fotografi, yang justru menjadi salah satu fitur paling penting saat ini.

6. Pengalaman Software belum Sepenuhnya Matang

Peralihan dari layar kecil ke layar besar masih menjadi tantangan bagi sistem operasi dan aplikasi. Tidak semua aplikasi sudah dioptimalkan untuk rasio layar ponsel lipat, sehingga pengalaman pengguna terkadang kurang konsisten.

Meski Android terus meningkatkan dukungan foldable, optimalisasi aplikasi masih menjadi pekerjaan rumah besar.

7. Belum Menjadi Pilihan Utama Konsumen

Kombinasi harga tinggi, durabilitas yang masih diragukan, serta manfaat yang belum signifikan membuat ponsel lipat belum menjadi pilihan utama masyarakat.

Saat ini, ponsel lipat masih diposisikan sebagai:

  • Produk premium
  • Simbol gaya hidup
  • Perangkat inovasi, bukan kebutuhan utama

Kesimpulan

Meski menawarkan inovasi menarik, ponsel lipat masih menghadapi banyak tantangan. Harga mahal, ketahanan yang belum maksimal, baterai boros, serta biaya perbaikan tinggi menjadi faktor utama yang menghambat adopsi massal.

Dalam beberapa tahun ke depan, ponsel lipat masih akan berkembang. Namun, hingga masalah-masalah tersebut teratasi, smartphone konvensional tetap menjadi pilihan paling rasional bagi mayoritas pengguna. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya