Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA tahun 2009, Yohannes Haile-Selassie dan timnya menjelajahi area gurun Burtele, sebuah lokasi penting bagi penelitian fosil di Wilayah Afar, Ethiopia, saat Stephanie Melillo menemukan sesuatu yang mencengangkan: tulang kaki purba yang menyerupai manusia.
"Itu adalah setengah dari jari metatarsal keempat," ungkap Haile-Selassie, seorang paleoantropolog di Universitas Negeri Arizona di Tempe, merujuk pada tulang yang terhubung ke jari kaki keempat.
"Ketika dia datang dan menunjukkan penemuan itu kepada saya, saya langsung bilang, kembali lagi, setengah lainnya pasti ada di sana," sambungnya.
Ternyata, Melillo, yang pada waktu itu masih berstatus mahasiswa pascasarjana, berhasil menemukan setengah bagian yang hilang.
"Saat itu saya memutuskan, baiklah, kita perlu menyusuri area ini lebih teliti," ujar Haile-Selassie.
Dengan cara menelusuri secara manual, tim akhirnya berhasil menemukan delapan potongan tulang kaki depan yang sebagian dari sekitar 3,4 juta tahun lalu. Disebut sebagai kaki Burtele, tim menyimpulkan bahwa fosil-fosil ini bukan berasal dari Australopithecus afarensis, nenek moyang manusia purba yang terkenal dengan fosil Lucy.
Kini, Haile-Selassie dan timnya telah mengumpulkan lebih banyak fosil dari Wilayah Afar, dan mereka berasumsi bahwa kaki Burtele kemungkinan besar milik spesies lain, yaitu Australopithecus deyiremeda, seperti yang dilaporkan para peneliti pada 26 November di jurnal Nature.
“Ini adalah bukti paling jelas yang menunjukkan bahwa ada beberapa spesies terkait yang hidup berdampingan pada periode yang sama dalam sejarah evolusi kita,” jelas Haile-Selassie.
Para paleoantropolog telah lama berpendapat bahwa A. afarensis adalah satu-satunya nenek moyang manusia purba yang menghuni wilayah Afrika ini antara sekitar 3,8 juta dan 3 juta tahun yang lalu.
Dikenal melalui Lucy, spesies ini sering dianggap sebagai "spesies nenek moyang yang menjadi asal usul kita semua," kata Fred Spoor, seorang paleontolog di Museum Sejarah Alam di London yang menulis artikel pendukung untuk Nature News and Views.
A. deyiremeda pertama kali dinamai oleh Haile-Selassie dan rekan-rekannya pada tahun 2015 berdasarkan fragmen rahang atas dan bawah yang ditemukan di Wilayah Afar. Namun, pada saat itu, para peneliti merasa belum ada cukup bukti untuk mengaitkan tulang kaki dengan spesies ini.
Sejak saat itu, tim menemukan lebih banyak fosil yang berdekatan dengan lokasi penemuan kaki, termasuk bagian panggul, tengkorak, rahang, dan gigi lainnya, yang juga diyakini terkait dengan A. deyiremeda. Kedekatan ini memberi keyakinan bagi tim bahwa kaki tersebut berasal dari spesies yang sama.
Menghubungkan kaki ini dengan A. deyiremeda adalah langkah yang logis, ujar Spoor. A. deyiremeda tampaknya memiliki karakteristik yang lebih primitif dibandingkan A. afarensis, termasuk jempol kaki yang berbentuk mencengkeram untuk mendukung kemampuan memanjat pohon.
Ciri-ciri tertentu dari fosil A. deyiremeda memiliki kemiripan dengan spesies Australopithecus anamensis yang lebih awal, yang ada antara 4,2 juta hingga 3,8 juta tahun yang lalu, lebih dekat dibandingkan dengan A. afarensis.
Analisis kimia yang dilakukan pada gigi A. deyiremeda mengungkapkan bahwa spesies ini memilili kebiasaan makan yang terutama terdiri dari tumbuhan yang berasal dari hutan, seperti daun, semak, dan buah. Pola dietnya kurang bervariasi dibandingkan dengan kombinasi makanan dari padang rumput dan hutan yang menjadi konsumsi A. afarensis.
Ciri-ciri gigi yang berkaitan dengan A. deyiremeda memiliki kemiripan dengan A. anamensis dan A. afarensis. Ini menunjukkan bahwa A. deyiremeda mungkin merupakan tahap transisi antara kedua spesies tersebut, bukannya spesies yang terpisah, ungkap Leslea Hlusko, seorang paleoantropolog di Pusat Penelitian Evolusi Manusia Nasional Spanyol, Burgos.
"Ketika Anda memiliki garis keturunan yang berkembang, itu seperti yang dapat diharapkan: akan ada sejumlah karakter dari spesies sebelumnya dan dari spesies yang akan datang," kata Hlusko.
"Dan itulah yang menjadi ciri deyiremeda. Dari pandangan saya, itu hanyalah bagian antara anamensis dan afarensis," tambahnya.
Hlusko juga menambahkan bahwa sisa-sisa kaki dari Burtele tidak utuh. Dengan adanya variasi pada kaki A. afarensis, dan tidak adanya fosil kaki yang diketahui dari A. anamensis yang lebih tua, tidak ada cukup bukti untuk menyatakan bahwa tulang-tulang baru tersebut berasal dari spesies yang berbeda, ujarnya.
Apakah ini spesies baru atau bukan, para ilmuwan sepakat bahwa pemahaman tentang evolusi manusia masih belum lengkap. Hanya ada beberapa fosil yang terkait dari 7 juta hingga 4,5 juta tahun yang lalu, yang dapat memberikan lebih banyak informasi tentang pemisahan antara simpanse dan nenek moyang manusia, jelas Spoor.
Selain itu, terdapat juga celah dalam catatan fosil antara 3,2 juta dan 2,8 juta tahun lalu, ketika genus Homo diyakini mulai muncul, tambah Haile-Selassie.
Saat menunggu ditemukannya lebih banyak fosil, para peneliti hanya mampu memperoleh gambaran sebagian tentang evolusi manusia dari sisa-sisa masa lalu yang terputus-putus.
Sumber: Science News
Fosil manusia berusia 770 ribu tahun ditemukan di Maroko. Temuan ini memperkuat teori asal Homo sapiens dari Afrika dan mengguncang peta evolusi.
Penemuan ini merupakan buah dari penantian panjang. Pada tahun 2009, para ilmuwan menemukan fosil kaki berusia 3,4 juta tahun dengan struktur jari yang dirancang untuk memanjat pohon.
Sebuah studi genetika mengubah pemahaman ilmuwan tentang bagaimana manusia modern awal menyebar di Asia Timur
Para peneliti telah mengidentifikasi spesies manusia purba baru, yang mereka beri nama Homo juluensis, yang berarti kepala besar.
Studi yang diunggah pada 2019 tersebut menyebut sekitar 200.000 tahun lalu, kawasan yang disebut Makgadikgadi Okavango wetland adalah oase hijau yang subur
Riset terbaru mengungkap manusia purba sejak awal mengandalkan tanaman yang diproses, seperti umbi, biji, dan kacang, jauh sebelum pertanian muncul.
Penemuan ini merupakan buah dari penantian panjang. Pada tahun 2009, para ilmuwan menemukan fosil kaki berusia 3,4 juta tahun dengan struktur jari yang dirancang untuk memanjat pohon.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved