Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Rage Bait Jadi Word of the Year 2025 Versi Oxford, Cerminkan Budaya Marah di Media Sosial

Thalatie K Yani
01/12/2025 07:45
Rage Bait Jadi Word of the Year 2025 Versi Oxford, Cerminkan Budaya Marah di Media Sosial
Ilustrasi(freepik)

APAKAH Anda semakin mudah tersulut emosi saat berselancar di media sosial? Jika ya, bisa jadi Anda tengah menjadi korban rage bait. Rage bait ialah istilah yang dinobatkan Oxford University Press sebagai Word of the Year 2025.

Oxford menyebut penggunaan istilah ini melonjak tiga kali lipat dalam 12 bulan terakhir. Rage bait merujuk pada taktik manipulatif untuk memancing kemarahan demi meningkatkan interaksi daring. Istilah ini mengalahkan dua kandidat lain, yakni aura farming dan biohack, dalam pemilihan publik yang turut menjadi penentu keputusan akhir tim ahli bahasa Oxford.

Apa itu rage bait?

Meskipun belum familier dengan istilahnya, hampir semua pengguna media sosial pernah mengalami bentuknya. Oxford University Press mendefinisikan rage bait sebagai konten daring yang sengaja dibuat untuk memicu kemarahan atau rasa tersinggung dengan cara yang provokatif atau menjengkelkan. Tujuannya tidak lain adalah menarik trafik ke situs atau akun media sosial.

Istilah ini mirip dengan clickbait, yang menggunakan judul menggoda untuk menarik klik. Namun, rage bait lebih khusus ditujukan untuk memancing amarah.

Istilah lain yang masuk daftar pendek

  • Aura farming: upaya membangun citra diri yang menarik, berwibawa, atau penuh pesona dengan cara yang secara halus menunjukkan kepercayaan diri atau kesan misterius.
  • Biohack: usaha meningkatkan performa fisik atau mental, kesehatan, dan kesejahteraan melalui perubahan pola makan, olahraga, gaya hidup, serta penggunaan suplemen, obat, atau perangkat teknologi.

Ketiga istilah ini masuk dalam pemungutan suara publik, yang kemudian menjadi masukan dalam keputusan akhir Oxford.

Mengapa rage bait dipilih?

“Fakta bahwa istilah rage bait ada dan penggunaannya melonjak begitu drastis menunjukkan bahwa kita semakin sadar akan taktik manipulasi yang dapat menarik kita di dunia online,” ujar Casper Grathwohl, Presiden Oxford Languages.

Ia menilai internet telah mengalami pergeseran signifikan. “Sebelumnya, internet berfokus menarik perhatian dengan memicu rasa ingin tahu demi mendapatkan klik. Sekarang, kita melihat pergeseran dramatis menuju cara kerja yang membajak dan memengaruhi emosi kita, serta bagaimana kita merespons.”

Menurut Grathwohl, hal ini menjadi bagian dari percakapan besar tentang bagaimana manusia beradaptasi dalam dunia yang semakin digerakkan teknologi dan budaya online yang ekstrem.

Tahun lalu, Oxford memilih brain rot sebagai Word of the Year, menggambarkan kondisi mental yang terkuras akibat scrolling tanpa henti di Instagram atau TikTok. “Kedua istilah ini membentuk siklus kuat di mana kemarahan memicu keterlibatan, algoritma memperkuatnya, dan paparan terus-menerus membuat kita lelah secara mental,” kata Grathwohl.

Sebelumnya, Oxford juga pernah memilih selfie, goblin mode, dan rizz sebagai Word of the Year.

Sementara itu, Cambridge Dictionary menetapkan parasocial sebagai Word of 2025, merujuk pada hubungan emosional sepihak antara seseorang dengan figur publik. Contohnya, perhatian besar penggemar ketika Taylor Swift dan atlet American football Travis Kelce mengumumkan pertunangan.

Collins Dictionary memilih vibe coding, yang merujuk pada pembuatan aplikasi atau situs web dengan mendeskripsikan kebutuhan kepada kecerdasan buatan tanpa menulis kode secara manual. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya